Kota Zordan, sebuah kota yang terletak tidak jauh dengan perbatasan wilayah antara kekaisaran Han dengan kekaisaran Tang, hanya berbatasan dengan hutan lebat sejauh beberapa puluh mil dari wilayah perbatasan.
Kota ini menjadi jalur utama perdangangan yang menghubungkan jalan keluar masuknya barang dari kekaisaran Tang.
Sebab jalur inilah para bandit mendirikan markasnya di tempat ini, mengingat sasaran utama kelompok bandit adalah para pedagang.
Ini adalah kali pertamanya bagi Dou Jin menyaksikan hiruk pikuknya sebuah kota, keramaian orang, para pedangan yang membuka daganganya di dekat jalan dan beberapa anak kecil, orang tua serta remaja terlihat sedang berbelanja di berbagai toko yang tersedia.
Su Quan merasa aneh dengan sikap boss besarnya, ia merasa boss besarnya seperti terlalu udik dengan caranya menatap seluruh bangunan, keramain dan kebisingan orang-orang dijalan.
Namun pikiran buruk terhadap bossnya segera ia tepis, mengingat kekuatan yang dimiliki bossnya, membunuhnya bukalah perkara yang sulit.
Su Quan memberikan saran agar Dou Jin menuju pusat pembelian barang pusaka dan kitab yang berada di pusat kota, dengan mengikuti Su Quan di belakangnya, Dou Jin akhirnya sampai di sebuah bangunan besar tempat penjualan kitab dan pusaka.
Pavilin Bunga Suci, dalam papan nama tertulis nama toko tersebut. Dou Jin dan Su Quan memasuki bagunan besar tersebut.
Bangunan tersebut memiliki empat lantai, dengan setiap lantai yang memiliki kualitas barang berbeda-beda, semakin tinggi lantai tersebut maka kualitas barangnya semakin bagus.
“ Boss, aku hanya bisa membuat kita masuk ke atas lantai dua, aku tidak memiliki cukup emas untuk naik keatas lantai lagi,” ucap Su Quan menunjukan beberapa keeping emas yang tersisa di kantongnya.
Untuk memasuki lantai pertama setiap orang di haruskan membayar emas sebesar seratus keping emas, untuk lantai kedua harus membayar lima ratus keeping emas, lantai ketiga lima ribu keping emas dan lantai terakhir seharaga sepuluh ribu keeping emas.
“ Tenang, jangan sebut aku boss bila tidak memiliki uang,” ucap Dou Jin sambil memimpin jalan untuk naik ke lantai paling atas.
Di lantai ketiga Dou Jin membayar sepuluh ribu keeping emas, lantai empat ia membayar dua puluh ribu keping emas.
Menyaksikan hal tersebut Su Quan kembali terkejut dan tidak sanggup berkata apa-apa lagi terhadap bossnya.
Penampilan Dou Jin memang sederhana, sekilas ia seperti seorang pendekar pengelana dan mengingat sikap udiknya, Su Quan menyangka Dou Jin tidak akan memiliki banyak uang, lantaran pertama ia berjumpa dengannya, ia sama sekali tidak terlihat membawa kantong emas.
Dari dalam cincin sepesial yang di miliki Dou Jin, terdapat miliyaran juta keeping emas. Perbekalan yang diberikan sang Kaisar untuk Permaisuri dan Putra Mahkota tidak main-main, jumlah sumber daya dan keping emas itu melimpah bak gunung di dalam cincin sepesial.
Mengingat cincin sepesial tersebut dari Kaisar Tang, kekaisaran terbesar dan terkaya di benua dataran tengah. Tidak heran jika ia mendapatkan segudang harta.
Dalam hatinya Su Quan bertanya-tanya, “ Siapa sebenarnya boss ini, apa dia anak seorang Kaisar yang tersesat?” batin Su Quan bertanya-tanya, ia baru tahu bahwa Dou Jin ternyata memiliki cincin sepesial.
Begitu memasuki lantai keempat, pemandangan berbagi kitab dan puska terlihat berbeda, semua kitab dan pusaka memiliki auranya masing-masing. Harga yang dibandrol juga fantastis, jutaan keeping emas untuk kitab yang tipis dan sebuah senjata pusaka kelas sedang hingga tinggi.
“ Ayah…”
Tiba-tiba naga kecil keluar dari ranah jiwa Dou Jin, seluruh penjaga stand langsung menghambur mendekat ke sisi Naga Kecil seraya menodongkan senjata mereka masing-masing.
Merasa akan ada ancaman, para penjaga stand bersikap siga dengan memasang formasi bertarung, mengepung Dou Jin dan Su Quan. Beberapa orang yang berada di lantai empat langsung menatap Dou Jin dengan sesekor Nagaya dengan tatapan terkejut.
“ Hentikan!!!! Ini akan sulit di jelaskan, tapi dia itu adalah anakku,” ucap Dou Jin seraya melebarkan kedua tangannya menghalau senjata yang ditodongkan kea rah Naga kecil.
Wussss
“ Ayah, apakah mereka orang-orang yang akan menyakitimu?” tanya Naga kecil polos sambil mengeluarkan aura bertarungnya.
Su Quan yang berada di tinggkat pendekar Raja langsung jatuh berlutut, para penjaga stand yang berada di pendekar Suci yang baru membuka berapa gerbang, gemetar kakinya merasakan tekanan yang begitu kuat dari aura Naga kecil.
Dou Jin sendiri mengulas seyum sederhana, ia menkuk kedua kakinya dan mensejajarkan wajahnya dengan Naga kecil, “ Mereka orang-orang baik anakku, mereka hanya terkejut menyaksikanmu tiba-tiba muncul.”
“ Tapi ayah, mereka seperti mau menyerang kita.”
Dou Jin mengelengkan kepalanya pelan dan membelai lembut kepala Naga kecil, “ Apa kau tidak kasihan dengan paman Su, dia bisa pingsan karena auramu,” seru Dou Jin menunjuk Su Quan yang hampir jatuh merebahkan badanya karena tidak kuat menahan aura bertarung Naga kecil.
Naga kecil mendengus kesal sambil memalingkan wajahnya dari Dou Jin dan mentap tajam ke semua orang yang menodongkan senjata. Memilih untuk memenuhi perintah Dou Jin, Naga kecil menarik aura bertarungnya.
“ Sekarang, jelaskan pada ayahmu ini alasan mengapa kau tiba-tiba keluar dan mengejutkan semua orang?”
“ Semua orang punya nama pangilan, sedangkan ayah belum memberikanku nama pangilan,” dalih Naga kecil karena tidak menuruti perintah ayahnya untuk beristirahat di dalam ranah jiwanya.
Sebenarnya alasan keluarnya Naga kecil karena ia ingin melihat lebih jelas pemandangan hiluk-pikuk kota dan berbagai macam senjata yang terdapat di toko, hanya sahaja Naga kecil malu untuk mengakuinya.
“ Okeh, bagaimana kalau Jin Long, apa kau menyukainya?” tanya Dou Jin atas nama yang asal terbesit dalam pikirannya.
“ Hmm,” angguk setuju Naga kecil.
“ Sekarang kau kembali beristirahat, nanti jika ada saatnya ayah akan mengajakmu jalan-jalan.”
“ Baiklah…ayah janji ya.” ucap Naga kecil persis seperti anak kecil.
“ Hmm, ayah janji,” angguk Dou Jin sepakat.
Wusss
Naga kecil kembali ke dalam ranah jiwa Dou Jin, semua orang bernafas lega, lebih lama sebentar lagi sahaja para penjaga stand akan sama keadaanya seperti Su Quan yang menekuk kakinya menahan tekanan berat.
“ Maaf tuan-tuan, anakku belum pernah melihat kota, jadi dia penasaran untuk melihatnya, sekali lagi maaf,” kata Dou Jin dengan membungkukan badan sambil menyatukan kedua tanganya.
Semua orang masih terkejut dengan sosok mahluk siluman yang baru sahaja mucul, siluman bisa bicara dan manusia memiliki anak siluman. Berbgai pertanyaan memenuhi batin setiap orang.
Di saat semua orang masih mematung di posisinya masing-masing, tiba-tiba terdengar suara orang dari atas tangga, “ Apa yang kalian lakukan!! Pembeli adalah raja, cepat kembali ke stand kalian masing-masing.” bentak seorang pria sepuh dengan jenggot putih panjang.
“ Siap, Ketua.”
Semua penjaga stand pergi menjaga standnya masing-masing dan masih memiliki pertanyaan besar dalam batin mereka akan siapa sosok yang pemuda dengan siluman Naganya.
“ Tuan Muda, maaf atas ketidaknyamananya. Mari saya pandu untuk melihat-lihat barang pusaka dan kitab yang kami miliki,” ucap pria sepuh dengan ramah, ia bernama Se Hun, ketua cabang toko Paviliun Bunga Suci.
Se Hun sendiri menyaksikan dari awal sampai akhir kedatangan Dou Jin, ia yang sudah melalang buana ke seluruh dunia hanya bisa mengira siluman Naga yang baru sahaja muncul dalah siluman yang terikat kontrak dengan Dou Jin.
Pada perjalanya ke benua lain, ia juga pernah menyaksikan ada sebagian orang yang pendekar yang memiliki kontrak dengan mahluk siluman, jadi dia tidak terkejut dengan berlebihan.
Namun bila ia tahu bahwa siluman Naga adalah siluman legendaris dan kontak yang Dou Jin jalin lebih dari kontak bisa, dan terlebih lagi jika ia melihat sendiri siluman naga itu bisa bicara. Tentu Se Hun tidak akan bersikap sesantai ini ketika berbicara dengan Dou Jin.
" Ketua Su, senjata apa sahaja yang kalian gunakan? "
Dengan bertanya senjata apa sahaja yang dipakai oleh keenam petinggi banditnya, Dou Jin berniat membelikan kitab dan sejumlah pusaka untuk mereka semua.
Se Hun dan Su Quan mentap Dou Jin dengan tatapan pemujaan, baru kali ini ia melihat ada orang sekaya Dou Jin yang mampu mengeluarkan kepingan emas sebanyak ini.
“ Seberapa kaya sebanarnya Boss besar?” batin Su Quan bertanya-tanya.