Eps. 9 Pelarian dan Pelatihan

1134 Kata
Masih dalam masa pelarian, sekelompok pendekar berbaju hitam legam, sehitam gelapnya malam bergerak beriringan bersama satu wanita paruh baya dan anak laki-laki berusia tujuh belas tahunan. Ketika siang hari mereka akan terus melakukan perjalanannya dengan berlari dan saat malam mereka akan beristirahat dengan mendirikan tenda sederhana. Sedangkan Waktu pagi akan mereka gunakan untuk berlatih tanding Putra Mahkota dengan para pendekar yang mengawalnya. . Permaisuri akan selalu mengamati setiap latihan yang dijalani anaknya, beberapa masukan akan selalu ia berikan sesudah latih tanding selesai. Sudah beberapa hari berlalu semejak kepergian mereka dari Desa Perbatasan, kelompok ini selalu melakukan rutinitas yang sama setiap harinya. walaupun terkesan membosankan, tetapi kelompok ini seperti menikmatinya dengan perasan senang. Setiap latih tanding yang dilakukan Dou Jin nyatanya akan membuat seluruh orang dalam kelompok ini kagum dan terkesan. Tingkatan pendekar Dou Jin yang belum resmi masuk dalam standar dunia pendekar karena tidak memilki lingkaran tenaga dalam. Dapat memberikan perlawanan imbang melawan Pendekar Suci di atas tiga gerbang. Semua orang memandang takjub dengan kondisi tubuh Dou Jin yang tidak biasa, tidak terkecuali ibunya sendiri. Namun di saat semua orang memuji dan mengagungkan sosok Pangeran Mahkota. Permaisuri ikut merasa prihatin di waktu yang bersamaan, ia memang berhasil memberikan kekuatan fisik yang di atas normal, akan tetapi ia sangat kecewa bila teringat kondisi anaknya yang tidak memilki akar roh. Hal tersebut tentu memberikan kenyatan pahit bagi putranya sebab tidak memilki masa depan di dunia pendekar. Pekembangan Putra Mahkota bisa dikatakan sudah mencapai batasnya, mengingat ia yang tidak memiliki akar roh membuatnya tidak mampu naik ke tahap yang lebih tinggi lagi. Dou Jin memang tidak akan kalah melawan Pendekar Suci yang masih dalam tahap pembukaan gerbang, ia jelas mampu mengimbangi setiap jurus lawan yang menjadi pesaingnya. Dengan kekuatan fisiknya yang tidak biasa, setiap pukulan bertenaga dalam tingkat tinggi tidak akan memberikan luka yang serius. Apalagi dengan setiap jurus yang ia pelajari dari Kitab silat tanpa tanding. Semua gerakan baik dalam posisi menyerang maupun bertahan tidak akan memberikan celah sedikit pun bagi penantangnya untuk mendaratkan serangan. Alhasil setiap latih tanding yang ia lakukan dengan beberapa pendekar tingkat tinggi tidak akan memberikan kemenangan untuk setiap pesaingnya. Namun di sisi yang lain, Dou Jin juga tidak bisa mengalahkan lawanya, sehingga berujung menjadi pertarungan imbang. Berbeda dengan beberapa latih tanding sebelumnya, latih tanding dengan pengawal Yu yang masih duduk di tingkat pendekar Suci tahap awal memang masih memberikan peluang untuk Dou Jin agar keluar menjadi pemenang. Dengan tolak ukur setamina pendekar tingkat Suci awal yang masih kalah dengan setamina Dou Jin yang tidak biasa. Sayangnya dalam latih tanding dengan pendekar Suci tahap menengah tidak seperti latih tanding dengan Pendekar Suci tahap awal. Setamina Pendekar Suci tahap menengah setara dengan setamina Dou Jin milki, bahkan sedikit lebih tinggi, bergantung seberapa gerbang yang telah dibukanya. Untuk pedekar Suci yang masih membuka gerbang dibawah tiga Dou Jin masih menang untuk dalam adu setamina. Sedangkan pendekar Suci yang telah membuka di atas lima gerbang, Dou Jin akan sedikit kesulitan untuk mengimbanginya. Walaupun dapat mengimbangi setiap jurus dan beberapa kali mendaratkan serangan, nyatanya Pendekar Suci gerbang lima ke atas sama sekali tidak bergeming sedikit pun saat serangan Dou Jin menghantam tubuh mereka. Dengan dasar itulah sang ibu mengambil kesimpulan, bahwa Dou Jin akan mampu mengimbangi dengan mudah pendekar tingkat Suci yang baru membuka gerbang lima ke bawah. Dan untuk Pendekar Suci gerbang lima ke atas Dou Jin akan kalah dalam setamina yang berujung pada kegagalannya dalam melakukan berbagai jurus yang ia pelajari. Berawal dari itu berbagai jurus yang sebelumnya tidak memberikan celah sedikit pun akan terbuka banyak celah. Memang fisik yang Dou Jin miliki kuat, akan tetapi bila ratusan pukulan bertenaga dalam tinggi terus menghujam tubuh di titik yang sama, tentu sekuat apa pun fisik yang Dou Jin miliki akan tetap jatuh sebab mendapatkan luka dalam serius. Lain halnya jika Dou Jin bertarung dengan Pendekar Suci tingkat awal ( gerbang tiga sampai satu ). Ia dengan mudah mengimbangi setiap jurus dan bisa memberikan beberapa serangan di titik vital. Walaupun serang itu tidak memiliki tenaga dalam, tetapi setamina yang melebihi Pendekar Suci tahap awal akan dengan mudahnya menghancurkan aura petarung yang dikeluarkan pendekar di tingkat ini. Dengan kata lain Dou Jin memilki tingkatan pendekar yang setara dengan pendekar Suci gerbang lima, mengukur setiap pertarungan yang ia lewati. Dou Jin mampu mengalahkan setidaknya Pendekar Suci tahap awal. Meskipun butuh waktu yang cukup lama bagi Dou Jin untuk mengalahkan Pendekar Suci tahap awal. Permaisuri cukup bangga melihat perkembangan Putra Mahkota, hanya sedikit rasa kecewanya, tetapi rasa tersebut selalu ia hilangkan dan lebih memilih berharap baik akan kenyatan pahit yang ia terima. Sebenarnya sejak dari dulu melakukan penyerapan sumberdaya, sang ibu sudah berekspektasi tinggi kepada Dou Jin. Suatu saat ketika Putra Mahkota sudah berusia dua puluhan tahun akan bisa mengimbangi dirinya yang duduk di tingkat pendekar suci tahap Bumi. Namun kenyataan berkata lain, Dou Jin memiliki kelainan pada tubuh. Ketidakmampuannya dalam menyerap Chi dari alam karena tidak memilki akar roh membuat Dou Jin hanya akan berhenti ditingkat ini sahaja. Sekarang penyerapan sumber daya di tingkat yang sama tidak akan memberikan pengaruh apa pun bagi tubuh Dou Jin. Ia membutuhkan sumber daya tingkat ilahi, suatu sumber daya yang di atas tingkat tinggi yang sangat sulit ditemukan. Menurut panduan Kitab silat tanpa tanding, tubuh Dou Jin membutuhkan sumber daya tingkat ilahi untuk dapat memilki kekuatan fisik yang melebihi tingkatan Pendekar Suci. Siang berganti malam dan Dou Jin setiap malam selalu meminta ibunya untuk menceritakan tetang istana kerjaan, ayahandanya dan tingkatan pendekar. Bebrapa kali Dou Jin juga sempat bertanya mengenai perjalanan sang Ibu menjadi seorang pendekar. Sering kali bertarung dengan pendekar tingkat tinggi membuat Dou Jin mampu sedikit demi sedikit merasakan aura bertarung seorang pendekar. Dari aura tersebut Dou Jin bisa merasakan bahwa ibunya memiliki tingkatan pendekar yang lebih tinggi dibandingkan para pengawalnya. Selesai bercerita biasanya Permaisuri akan memberikan masukan pelatian selanjutnya yang harus Dou Jin pelajari. Semua penjelasan sang ibu berikan dengan sangat jelas dan dengan kecerdasan yang Dou Jin miliki saat ini tidaklah sulit menangkap maksud sang ibu. Waktu terus berjalan sampai tidak terasa satu bulan telah berlalu. Perjalanan mereka akhirnya sampai di tempat yang mereka tuju. Namun di saat kegembiraan ibu dan anak ini muncul karena telah sampai pada tempat yang rencankan. Hal besar sedang menanti di hadapan mereka, ibu dan anak ini tidak mengira bahwa akan tiba saatnya di mana mereka akan bertarung mati-matian menghadapi puluhan pendekar Suci secara bersamaan. ****** Tang San bersama ribuan pasukan elitnya bergerak bersama menuju Desa perbatasan, mereka menyisir setiap lokasi secara serempak dengan membagi tiap pasukan menjadi ratusan kelompok beranggotakan sepuluh orang. Dengan kecepatan pergerakan mereka tidak akan membutuhkan waktu yang lama bagi kelompok besar ini menemukan Putra Mahkota dan Permaisuri kerajaan. “ Ran’er setelah ini aku tidak akan membuatmu menderita lagi” gumam sang Kaisar lirih sambil memacu kudanya dengan kecepatan penuh ke arah selatan, dimana jejak terakhir dari istrinya berada.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN