Rintik hujan mulai turun, jalan yang semulanya kering sedikit demi sedikit basah dan meninggalkan genang air hujan. Wanita itu menatap nanar langit kelabu di luar sana, lewat jendela kaca yang selalu menjadi temannya di beberapa bulan ini. Iya, untuk beberapa minggu dia tidak pernah meninggalkan ruangan ini.
Ketukan pintu seketika membuyarkan lamunannya, bangkit dari duduknya lalu berjalan perlahan menuju pintu. Namun sebelum langkahnya tiba di depan pintu, kepalanya ia sempatkan menoleh ke arah cermin yang ia lewati, terlihat kantung hitam di bawah matanya. Rambut yang entah kapan terakhir kali ia sisir, lalu tanpa sadar tangannya memegang kedua pipi miliknya sendiri.
"Dulu kamu cantik." Ucapnya dengan senyum yang begitu manis.
Ketukan kembali terdengar dari balik pintu, lalu wanita itu tersadar bahwa ada seseorang yang menunggunya di luar sana. Segera ia berjalan menuju pintu utama dan membukakannya, terlihat seorang pria tampan membawa beberapa plastik yang berisikan makanan serta cemilan yang sedikit terlihat oleh mata sang wanita.
"Banyak sekali?" Tanyanya kepada pria yang masih terus tersenyum memandang dirinya.
"Supaya kamu nggak bingung cari cemilan."
"Tapi aku nggak nafsu makan."
"Kamu harus makan." Menatap mata indah sang wanita, meskipun tatapan itu terlihat sayu juga raut wajahnya yang lelah namun kecantikannya tidaklah pudar.
"Kamu mau jalan-jalan kayak waktu itu? Mau kemana? Taman? Toko buku? Mall?"
Wanita itu menggeleng perlahan, masih mengikuti langkah pria yang telah masuk ke dalam rumah miliknya. Wanita itu terus memandang punggung pria yang tak lain adalah kekasihnya.
"Aku mau di rumah saja.."
Menatap punggung pria yang telah membuka lemari es.
"Aku masih pantas hidup nggak sih?"
Hembusan napas kasar terdengar dari pria yang masih sibuk memasukan beberapa makanan ke dalam lemari es.
"Aku ngerasa berdosa banget."
"Tapi itu pilihan mu." Ucap sang pria.
"Iya.." menjeda ucapannya lalu bangkit berjalan menuju salah satu jendela kaca yang sedikit terbuka, menimbulkan masuknya semilir angin dingin yang di timbulkan karena rintiknya hujan.
"Tapi aku jadi merasa bersalah."
"Apa bisa kita buat dia balik lagi?"
"Jangan ngaco kalau ngomong." Ucap pria yang kini sudah menatap wanita yang juga telah menatapnya.
"Kamu yang minta ini, kamu yang nggak menginginkan dia.. kamu yang memilih jalan ini.. kamu.."
"Iya!! Ini memang semua salah aku, cuma aku yang memilih, cuma aku yang mau dia pergi. Cuma aku yang ngerasa kalau dia dosa yang besar untuk hidup ku."
"Memang.. aku sudah bilang untuk mempertahankannya, tapi kamu terus memilih membuang dia."
"Kamu cinta sama aku nggak sih?!" Teriak wanita yang kini sudah berurai air mata.
"Aku cinta, karena itu aku mau bertanggung jawab tapi kamu menolak itu."
"Kenapa sih kamu nggak pernah mau ngalah kayak dia?"
"Dia?"
"Kamu masih terus banding-bandingin aku sama dia!"
Tersentak kala mendengar nada bicara sang pria sedikit meninggi, mununduk begitu dalam ia takut untuk menatap mata pria yang kini ada di hadapannya.
"Aku nggak mau berantem sama kamu sekarang, aku kesini karena ingin kamu balik kayak dulu.. aku nggak mau liat kamu terpuruk seperti ini. Tapi kamu masih sempet mikirin masalalu kamu?"
"Maaf." Terisak begitu dalam.
"A-aku muak sama hidup ku.. a-aku nggak tau nanti ke depannya gimana dengan karir ku.. aku takut hidup untuk masa depan."
"Berhenti terus menyalahkan diri kamu sendiri. Ada aku, ada aku Sel."
Mengangguk dengan perlahan, wanita yang bernama Sela itu bangkit dari posisinya dan kini memeluk tubuh pria yang juga telah memeluknya dengan erat.
**
"Yaa.. di depan saja pak.. oke.."
Memberikan beberapa uang kepada driver, "ini ya pak."
"Lho kebanyakan mbak."
"Nggak apa-apa itu tips untuk bapak. Terimakasih ya pak."
"Alhamdulillah, matur suwun mbak Renata."
Gadis itu mengangguk lalu membuka pintu mobil, rintik hujan masih terus membasahi bumi sepertinya ia enggan berhenti malah rasanya semakin deras.
"Mbak ini ada payung, pakai saja tidak apa-apa." Sebelum Renata turun dari mobil, sang driver menawarkan Renata untuk memakai payung miliknya.
"Nggak perlu pak, itu sudah dekat.." ucapnya dengan senyuman tulus.
Mendapat penolakan dari pelanggannya membuat dirinya tidak dapat memaksa, driver ojol itu hanya mampu mengangguk tanda mengiyakan.
Satu kaki Renata keluar dari dalam mobil berniat mengecek seberapa deras rintik hujan yang turun, namun belum ada satu menit Renata sudah bisa merasakan kakinya sudah sangat basah.
Ini sih bukan gerimis. – batinnya
Tanpa basa-basi ia lalu segera keluar dari dalam mobil, tak lupa sebelumnya ia mengambil ancang-ancang untuk berlari. Namun setelah ia benar-benar telah keluar dari dalam mobil Renata tidak merasakan basah pada kepalanya.
"Ayo." Ucap pria yang tak lain adalah Keynaru.
Mobil ojol sudah pergi satu menit yang lalu setelah Renata telah benar-benar keluar dari dalam mobil driver, sedikit terkejut karena ternyata bosnya mengikuti dirinya bahkan sampai ke rumah.
"Aku cuma mau antar sampai rumah, liat kamu baik-baik aja.. nggak ada maksud apapun."
Melirik sekilas pada pria tinggi di sampingnya, Renata sungguh tidak dapat berkata-kata.
Tanpa mengucapkan apapun lagi Renata dan Keynaru berjalan beriringan menuju kediaman sang gadis dengan menggunakan payung berwarna orange.
Tidak perlu waktu lama, mereka berdua telah sampai di depan kediaman Renata.
"Oke, kamu masuk aja.. aku langsung pulang." Ucap Keynaru tanpa melihat wajah gadis yang berada di sampingnya.
"Masuk dulu."
Menoleh dengan cepat, jawaban Renata sungguh membuat Keynaru tidak mampu mengatakan apapun.
"Pakaian mu basah, masuk dulu.. nanti aku pinjamkan kemeja ka Nathan..
Sedikit mendongakkan kepalanya, "sepertinya ukuran badan kalian sama." Ucap Renata lalu membuka pintu berwarna coklat tua yang sebelumnya tertutup rapat.
Tanpa mengatakan apapun Keynaru mau tidak mau ikut masuk ke dalam rumah milik keluarga sang gadis. Terlihat sepi, sepertinya keluarga Renata sedang tidak ada di rumah.
"Ayah dan Ibu sedang pergi ke luar kota dari tiga hari yang lalu."
Menaruh tas yang sebelumnya ia bawa. "Ka Nathan sedang ada project di luar negeri."
Pria yang masih berdiri itu lalu mengangguk-anggukan kepalanya.
"Hana?"
Menoleh ke arah Keynaru lalu berjalan menjauh dari sang pria.
"Paling main game di kamarnya."
Hana Melodira adalah adik dari Nathan juga Renata, anak ke tiga dari keluarga Hermawan ini masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas.
Tidak jauh berbeda dengan Renata, Hana juga cenderung lebih suka menghabiskan waktunya menyendiri di dalam kamar dan bermain game dibandingkan harus berkumpul dengan teman-temannya.
Bukan tidak punya teman, namun beberapa orang memang lebih suka menghabiskan waktunya seorang diri melakukan hal yang ia senangi di bandingkan harus berkumpul bersama yang lain.
"Hanaaaa!!!" Teriak Keynaru sangat kencang, membuat Renata yang sudah ingin masuk ke dalam kamar miliknya harus berlari kembali menuju ruang tengah.
"Kenapa?" Tanya Renata sedikit khawatir.
"Nggak apa-apa, aku manggil dia supaya keluar dari kamarnya." Ucap Keynaru tanpa dosa dan dengan bangganya menunjukan cengiran yang membuat semua gigi putihnya terlihat jelas oleh Renata.
"Gila!" Ucap Renata sambil berlalu meninggalkan Keynaru yang masih terus meneriaki nama Hana.
"Hanaaaa!!"
"Han." Panggilan itu terhenti kala mata indah sang pria menangkap satu sosok yang sangat ia kenal.
Keynaru dan Hana memang sudah kenal lebih dulu karena beberapa kali Hana selalu ikut jika kedua orang tuanya berkunjung ke kediaman keluarga Keynaru, berbeda dengan Renata yang selalu menolak jika di ajak berkunjung ke rumah rekan kerja ataupun teman dekat orang tuanya.
"Ka Key?"
"Sini." Ucap Keynaru lalu melambai ke arah Hana.
Dengan sigap Hana lalu berlari kecil menurunin tangga menuju tempat Keynaru berada.
"Hati-hati heeey.."
"Kapan Kakak datang?" Tanya Hana terlihat antusias.
"Tadi.. barusan, bareng ka Nata."
"Kok bareng dia?"
"Yaaa.. kan ka Nata sekretaris Kakak di Kantor."
Menepuk pelan keningnya, "ohiya aku lupa."
"Kok basah?" Kembali Hana melemparkan pertanyaan kepada pria yang masih berdiri.
"Habis berenang."
"Hah?"
"Ya kehujanan dong, kamu ini segala di tanya hal yang udah kelihatan jelas."
Tawa renyah terdengar dari gadis remaja di depannya.
"Nih."
"Kaget ih." Protes Hana kala melihat Renata sudah berdiri di belakangnya dan membawa handuk serta satu kemeja berwarna biru langit di tangannya.
"Memangnya kau pikir aku apa?"
"Nenek sihir." Ucap Hana asal.
"Kau sapu terbangnya."
"Ngegas terus ih mirip bajaj."
"Berisik sekali knalpot bajajnya."
"Iiih.." sanggah Hana.
"Kalian akur ya?" Tanya Keynaru mencoba menghentikan perdebatan kecil yang ada, namun pria itu langsung mendapatkan tatapan tajam dari kedua gadis yang bahkan sangat mirip di depannya.
"Ini baju siapa?"
"Ka Nathan." Ucap Renata singkat.
"Aku boleh pinjam?"
"Boleh."
"Emm.. gantinya di sini?"
Kembali mendapatkan tatapan tajam dari Renata membuat Keynaru reflek menujukan senyum manisnya.
"Bercanda." Lalu Keynaru tersenyum dengan mata agak menyipit.
Berjalan menuju kamar kecil yang Renata tunjukam di dalam rumahnya. Lalu dengan sabar gadis itu menunggu sang pria yang sedang berganti pakaian.
Duduk di ruang keluarga bersama Hana, adik juga musuh bebuyutan Renata di rumah.
Ayah dan Ibu mereka sedang berada di luar kota sejak tiga hari yang lalu, Nathan yang harus datang untuk bertemu client bisnisnya di luar negeri membuat dua gadis itu harus tinggal di rumah berdua saja.
Walaupun terlihat tidak akur nyatanya mereka saling peduli satu sama lain.
"Kenapa kamu melotot?" Tanya Renata kepada Hana.
"Ada bias aku."
"Hah?"
"Baju Nathan muat sama aku ya?" Ucap Keynaru yang baru saja selesai berganti pakaian dan langsung duduk di samping Renata.
Tidak dapat di pungkiri, Renata sempat terkesima beberapa detik kala dirinya melihat Keynaru yang baru saja berganti pakaian. Dengan rambut yang agak basah membuat ke tampanan sang pria bertambah berkali-kali lipat.
Namun pikiran itu segera Renata tepis ia tidak mau terjebak seperti dulu lagi. Terjebak dalam rasa sakit yang menyusahkan diri.
"Ka Key apa nggak mau nikah sama aku aja?" Tanya Hana to the point.
Tawa renyah terdengar dari sang pria, Renata yang mendengar ucapan Hana tanpa menunggu lama langsung memberikan tatapan tajam yang mematikan kepada sang adik.
"Kenapa? Bukannya Kakak nggak suka sama ka Key? Buat aku aja yaa.." ucap Hana dengan kedua tangannya yang ia tempelkan dan ia taruh di depan d**a. Posisi memohon.
"Ngaco.. nggak usah aneh-aneh Han, sekolah yang benar dulu!"
"Dih sekolah ku benar kok."
"Hei.. aku juga nggak akan nolak kalau di jodohin sama Hana, kayaknya Hana lebih bisa menerima aku."
Menoleh ke arah sang pria, "terserah!" Lalu pergi meninggalkan dua insan berbeda umur itu di ruang keluarga.
"Marah tandanya apaaaa?" Tanya Hana dengan nada sedikit kencang dirinya bermaksud menggoda sang Kakak.
Renata berusaha tidak memperdulikan Adik juga pria yang masih berkunjung di rumahnya, ia lalu berjalan menuju kamar pribadi miliknya berniat mengcek ponsel yang ia tinggal di nakas yang berada di di dalam kamarnya.
Mengecek notif yang masuk ke dalam ponselnya, Renata sedikit bingung dengan beberapa panggilan tidak terjawab dari nomor yang bahkan tidak ia kenal. Namun belum sempat ia menghubungi nomor misterius itu seketia ponselnya berdering tanda panggilan masuk ia terima.
Nomor yang sebelumnya sudah menghubungi dirinya dan sekarang kembali menghubungi Renata, tanpa menunggu lama Renata lalu menerima panggilan itu dan menaruh ponselnya tepat di telinga.
"Halo?"
"Benar dengan mbak Renata, keluarga dari Bapak Hermawan dan Ibu Herlin?"
Renata mengangguk meskipun tak dapat di lihat oleh seseorang yang berada di seberang sana.
"Iya.. ini siapa?"
"Sebelumnya kami dapat nomor mbak dari seseorang, jadi kami dari Rumah Sakit Cinta Kasih ingin memberitahukan bahwa Bapak Hermawan dan Ibu Herlin telah mengalami kecelakaan lalu lintas."
"Nggak.. ini pasti mau nipu kan?!"
"Halo mbak, kami serius.. mungkin mbak bisa segera ke sini untuk konfirmasi lebih jelasnya."
"Bohongkan! Kalian bohong!"
Teriakan Renata terdengar hingga ruang keluarga dan membuat Keynaru serta Hana bangkit dari posisinya bergegas menuju kamar Renata.
"Kak?" Tanya Hana yang lebih dulu masuk ke dalam kamar milik Renata.
Di sana Hana dapat dengan jelas melihat sang Kakak telah terduduk lemas di sisi ranjang miliknya, entah apa yang terjadi namun Hana sungguh penasaran dengan suara teriakan Renata yang sebelumnya ia dengar.
Keynaru yang melihat itu hanya mampu berdiri di depan pintu kamar sang gadis, ia menunggu kejelasan dengan apa yang terjadi kepada Renata. Kenapa dirinya bisa sampai berteriak seperti itu, apa yang terjadi?
"Han.." panggil Renata, dirinya tetap menundukan kepala tidak mampu menatap mata indah sang Adik tercinta.
"Ibu.."
"Ibu? Ibu kenapa?" Tanya Hana kepada Renata.
"Ibu sama Ayah kecelakaan."