Kelam (2)

2103 Kata
Apa yang paling menyakitkan dalam hidup? Tidak di cintai atau kehilangan? Atau mungkin ke duanya? Bagaimana jika suatu saat nanti kamu kehilangan seseorang yang amat sangat berarti dalam hidupmu? Apa yang kamu rasakan? Takut? Sakit? Bingung? Dan pastinya tidak ingin itu semua terjadi pada kehidupan kita. Itulah yang Renata rasakan saat ini, mendapatkan kabar bahwa kedua orang tuanya masuk Rumah Sakit karena kecelakaan tunggal membuat hati gadis cantik ini begitu remuk. Tidak hanya Renata namun juga Hana merasakan hal yang sama. Keynaru yang masih berada di kediaman sang wanita akhirnya mengajak Renata serta Hana untuk bergegas menuju Rumah Sakit. Memakai mobil miliknya, sang pria tidak segan-segan untuk tancap gas. Sepertinya Keynaru juga merasakan hal yang sama, pikiran kalut juga menyerang dirinya. Bukan tanpa sebab Keynaru telah menganggap keluarga Hermawan jugalah keluarganya. Terus fokus pada jalanan di depan, sesekali sang pria melirik kepada gadis yang duduk tepat di sebelahnya. Terlihat raut wajah takut serta bingung bercampur di sana. Keynaru tahu Renata pasti tidak menyangka bahwa ini harus terjadi pada orang tuanya dan tentunya sang gadis pasti sangat terkejut dan tidak bisa menerima semua kenyataan ini. Menoleh kala merasakan hangat tangan menyentuh tangan miliknya. Renata lalu melihat senyum tulus dari wajah tampan Keynaru. "Aku tahu kamu kalut dan terus kepikiran hal-hal yang menakutkan, tapi jangan pernah putus doa buat Om sama Tante." Menjeda ucapannya lalu Keynaru kembali menguatkan genggaman yang ada, dengan satu tangannya yang tetap pada setir kemudi. "Percaya sama aku, mereka akan baik-baik aja." Setelah sedari tadi diam, kali ini buliran air mata jatuh membasahi pipi sang gadis. Keynaru sudah menduga bahwa Renata memendamnya seorang diri, Renata tidak ingin terlihat lemah terlebih di depan adiknya. Hana masih terus terisak di bangku penumpang, mungkin kabar ini sangat menyakitkan untuk dirinya juga Renata. "Hana?" "I-iya Kak? Kak Ibu sama Ayah bakal baik-baik aja kan ya? Hana nggak ma-mau apapun terjadi sama mereka." Ucap Hana dengan terus mengusap kasar air mata yang turun membasahi pipi gembil miliknya. "Hana jangan putus doa ya, semoga Om dan Tante baik-baik aja.. Hana percaya kan sama kak Key?" Hana mengangguk walaupun tidak mengucapkan apapun, kedua gadis itu kini sedang gelisah. Mereka takut akan hal yang tidak mereka inginkan terjadi kepada kedua orang tuanya, mendapatkan kabar seperti ini saja sudah membuat mereka hancur. Mereka tidak ingin mendengar kenyataan yang lebih pahit dari ini. Bahkan Renata yang sebelumnya terlihat tenang nyatanya kini ia terus meremas hoodie berwarna putih bagian bawah yang ia kenakan. "Ru.. nggak bisa lebih cepat lagi?" "Ini udah sesuai standar Nat, sabar yaa.." Mengangguk tanda mengiyakan. "Ru.. masih lama? Jauh banget kah?" Menoleh sekilas pada gadis yang kini sedang menatap jalanan di depannya. "Ru, di depan kayaknya macet.. gimana ya? Aku jalan aja kali yaa?" "Nat." Sedikit mengerem mobil yang ia kendarai karena terlihat lampu merah di depannya. "Tenang yaa.." ucap Keynaru menenangkan gadis yang sedari tadi semakin terlihat panik. "Ini bukan macet, ini cuma lampu merah.." Kembali mengangguk, namun mata indah sang gadis kini sudah berkaca-kaca menahan bulir air yang akan turun membasahi pipi miliknya, Renata masih mencoba untuk menguatkan dirinya sendiri. "Han, ka Nathan.." "Kan sudah aku hubungi." Sanggah Keynaru. "Ah maaf aku lupa." "Ru udah hijau kah?" "Belum Nat." "Lama banget, aku pesan ojol aja kali yaa.." "Nat." "Kamu tarik napas yaa.." menggenggam tangan putih milik sang gadis, "kalau kamu kayak gini kasian Hana.. percaya sama aku ya, sebentar lagi kita sampai." Tersenyum begitu tulus, Keynaru berharap dengan begini Renata dapat sedikit tenang. "Ma-maaf.." "Nah sudah lampu hijau." Lalu dengan perlahan kaki jenjang sang pria menginjak pedal gas, mobil mulai bergerak dan melaju. Meski terus menenangkan nyatanya Keynaru paham tidak mudah berada di posisi Renata saat ini. Mengetahui kedua orang tuanya mengalami kecelakaan bukanlah kabar yang ia nanti, bahkan tidak ada seorang pun yang ingin mendengar kabar itu. Kabar paling buruk dan menyakitkan untuk setiap insan adalah mendengar bahwa orang yang kita sayangi mengalami peristiwa buruk. Menepikan mobilnya, mereka telah sampai pada parkiran Rumah Sakit, sebelum Keynaru mematikan mesin dan memposisikan mobilnya dengan benar, Renata sudah dengan cepat keluar dari dalam mobil. "Nat!" "Ka Re!" Keynaru juga Hana mencoba memanggil Renata namun gadis itu terus berlari menuju ke dalam gedung Rumah Sakit. Dengan cepat Keynaru memarkirkan mobil lalu mematikan mesinnya, Hana sudah keluar dari dalam mobil dan menunggu dirinya. Gadis remaja itu terlihat gelisah, Keynaru sangat yakin bahwa Hana ingin mengejar sang Kakak yang telah lebih dulu pergi memasuki gedung Rumah Sakit. "Kak." "Iya.. ayo." Ucap Keynaru menggandeng lengan Hana. "Kak." Kembali memanggil Keynaru. "Nggak apa-apa, Hana tenang aja ya." "Ta-tapi ka Re?" "Kita pasti.. nah itu ka Re." Ucap Keynaru kala melihat Renata sedang berdiri di meja Resepsionis. "Re." "Ru.. mereka bilang nggak tau dimana Ayah sama Ibu." Ucap Renata dengan bulir air mata yang semakin lama semakin membanjiri wajah sang gadis. "Kamu tenang ya.." "Kamu dari tadi cuma bisa bilang tenang-tenang aja Ru.. kenapa sih! Kamu nggak tau perasaan ku sekalut apa sekarang!" Ucap Renata dengan nada agak tinggi dan sudah terisak. "Iya.. maaf, aku yang tanya ya.. tapi sekali ini aja aku mohon kamu tenang." Menarik napas panjang, Renata kini menundukan kepalanya. Menahan tangis yang akan pecah tentu sangat sulit bagi seorang perempuan. "Mbak, tadi kami dapat kabar kalau bapak Hermawan juga ibu Herlin Melinda mengalami kecelakaan.. apa benar mereka di rawat di Rumah Sakit ini?" Tanya Keynaru pada perawat yang masih berdiri di belakang meja Resepsionis. "Betul mas.. maaf sekali karena sebelumnya mbak itu menanyakan dengan menggunakan kata 'Ayah dan Ibu', jadi saya agak bingung.. apakah mas keluarga dari bapak Hermawan juga ibu Melinda?" "Iya mbak." "Baik, Mas silahkan lurus saja lalu belok kanan, Bapak dan Ibu Hermawan berada di ruangan ICU." Tanpa menunggu Keynaru, Renata sudah lebih dulu berlari menuju tempat yang sebelumnya sudah di tunjukan oleh perawat wanita yang berada di bagian Resepsionis. "Kak!" "Nggak apa-apa, kita nyusul ka Renata yaa.." ucap Keynaru menenangkan Hana yang tersentak karena melihat Renata berlari sangat kencang menuju ruangan ICU. "Terimakasih mbak." "Sama-sama mas." Tanpa menunggu lagi akhirnya Keynaru dengan tetap memegang lengan Hana berjalan sedikit agak cepat menuju ruangan ICU, terlihat Renata sudah berdiri di depan pintu menunggu seseorang keluar dari dalam ruangan. "Nat." "Ru.. aku mau masuk." "Nggak bisa Nat, kita tunggu dokter ya.." "Kamu duduk sini sama Hana, temenin dia.. kamu yang tenang aku mau hubungi orang tua ku dulu." "Kak.. Ibu sama Ayah bakal baik-baik aja, Kakak nggak usah sampai begitu.. aku.. aku percaya kalau Ibu sama Ayah baik-baik aja." Ucap Hana mencoba menenangkan Renata namun nyatanya setiap kata yang keluar dari bibir mungil sang gadis remaja mengalir bersama air mata yang ada. Hana mencoba menguatkan dirinya sendiri. Tanpa mengatakan apapun Renata lalu memeluk tubuh gadis yang lebih kecil dari dirinya, saling menguatkan itulah yang mereka lakukan. Tak lama setelah itu Keynaru kembali, setelah menghubungi Ayahnya lalu dirinya kembali mencoba menghubungi Nathan. Meskipun Keynaru yakin Nathan lebih bisa mengontrol dirinya namun tetap saja perasaannya belum lah tenang kalau ia belum mendengar bahwa Nathan baik-baik saja dalam perjalanan. "Ru.. gimana?" "Nathan udah dapat pesawat, tapi kayaknya bakal sampai dini hari.. dia bilang semua akan baik-baik aja." Kembali menundukan kepalanya, Renata semakin mengeratkan pelukannya kepada Hana. "Aku coba tanya perawat dulu ya." Menganggukan kepalanya, Renata tidak dapat mengatakan apapun lagi. Beberapa hari yang lalu Ibu serta Ayahnya hanya berpamitan untuk berkunjung ke rumah saudara mereka yang berada di luar kota. Tidak pernah sedikit pun Renata berpikir akan terjadi musibah seperti yang saat ini telah terjadi kepada keluarganya. Mencoba terus berpikir positif, mencoba terus menanamkan dalam diri bahwa kedua orang tuanya baik-baik saja namun hal itu belum mampu membuat Renata tenang. "Tadi aku nanya sama Perawat katanya di dalam masih ada dokter yang nanganin Om sama Tante.." Gadis itu mengangguk, namun tidak memperlihatkan sorot matanya. "Nat." "Aku nggak apa-apa." Mengangkat kepalanya lalu menatap pria yang masih terus berdiri menghadap dirinya. Terimakasih. – batinnya. "Nanti Mamah sama Papah ku datang, kalau bisa Hana ikut sama orang tua ku aja yaa, kasian dia perlu tidur." Kembali menganggukan kepalanya, sebetulnya Renata ingin sekali mengucapkan terimakasih kepada Keynaru namun entah kenapa rasanya sangat sulit. "Ru." "Hmm.." "Kamu juga duduk." Melirik pada kursi kosong di sebelah Renata. "Makasih." Lalu memberikan senyuman yang sangat tulus. "Ya." Tiga puluh menit telah berlalu namun Dokter ataupun Perawat yang berada di dalam ruang ICU tidak ada satupun yang keluar. Renata yang terus memandang penuh harap pada pintu berwarna putih di depannya tidak pernah mengalihkan pandangan, terus menunggu seseorang keluar dari balik pintu mengantarkan satu atau mungkin dua kabar baik, nyatanya sampai saat ini belum ada yang mereka dapatkan. Tidak lama setelah itu kedua orang tua Keynaru datang, dengan langkah tergesa Kurnia Larasati yang tak lain adalah ibu dari Keynaru langsung memeluk Renata juga Hana yang masih terduduk menunggu kabar kedua orang tuanya. "Sabar yaa.." ucap Kurnia menenangkan. "Makasih tante." Ucap Hana menatap wanita yang masih terlihat cantik di umurnya yang sudah berusia 45 tahun. "Hana sudah makan?" Gadis remaja itu menggelengkan kepalanya. "Renata." "I-iya.. lho, Tante kapan datang?" Tersenyum getir kala mendengar pertanyaan Renata, Kurnia lalu memandang pria yang masih berdiri di samping Keynaru. Mahendra Angkasa, ayah dari Keynaru yang tak lain adalah suami dari Kurnia Larasati. Pemilik perusahaan yang kini berada di bawah naungan sang putra tunggal, sahabat sekaligus rekan bisnis Hermawan. "Hana sama Renata pulang sama tante ya." Ucap Mahendra kepada kedua gadis yang masih terus terduduk mematung. "Aku di sini aja Om." "Kak." "Hana nggak apa-apa kalau mau ikut tante Nia, Kakak di sini nungguin Ibu sama Ayah ya.." "Tapi Hana mau.." "Hana nurut ya, nanti kalau kamu sakit gimana? Kakak janji pasti langsung kasih kabar ke kamu, Hp kamu nggak lowbet kan?" Gadis yang sedikit mirip dengannya menggelengkan kepala. "Yaudah ikut sama tante Nia ya.." Mengangguk tanda mengiyakan. "Kamu bener nggak mau ikut Re?" Tanya Kurnia kepada Renata. "Aku di sini aja Tante, ka Nathan kan belum datang.." Menatap sang suami, Kurnia menunggu jawaban atas permintaan Renata. Mendapatkan anggukan dari Mahendra membuat Kurnia bangkit dari posisinya. "Key, jaga Renata." Pria itu mengangguk tanda mengiyakan perintah sang ibu. ** Malam semakin larut, namun pria tampan berkulit putih serta memiliki postur tubuh yang bagus itu masih terus mengikuti arahan sang Photographer. Dengan cekatan ia berpose sesuai keinginan sang pemegang kamera, berubah dari pose satu hinggak ke pose akhir. "Yak, selesai." Mengacungkan jempol kepada pria yang tak lain adalah Tala. "Selesai lebih awal ya?" "Ya berkat model berbakat kita." Ucap salah satu kru yang sedang membereskan beberapa perlengkapan yang sebelumnya di pakai untuk pemotretan. "Kamu sudah boleh pulang Tal." Melirik pada pria yang masih terus fokus pada hasil fotonya. "Bener nih?" "Iya." "Kok tumben." Pria bernama Feri itu lalu mengangkat kepalanya "aku kasih kau pulang cepat supaya bisa nemenin Sela, kasihan aku lihat dia.. entah apa yang dia pikirin sampai frustasi gitu." Tala yang mendengar itu hanya mampu diam. "Padahal karirnya sedang di atas angin. Eh malah jatuh sakit sampai stres gitu, untung pihak agensi pengertian.. tapi akupun kalau jadi mereka akan kasih kesempatan juga ke Sela, dia gadis berbakat nggak jauh beda sama kau Tal." "Semoga dia bisa balik aktif lagi kayak dulu." Lanjutnya. "Amin." Ucap Tala. "Aku balik ya." "Yo.. hati-hati." Tidak menjawab namun Tala melambaikan tangan ke arah Kru yang masih sibuk membereskan beberapa properti. Sudah bukan rahasia umum lagi kalau Tala dan Sela memiliki hubungan, bahkan tersebar gosip bahwa mereka akan menikah. Sama-sama memiliki karir seorang model, sama-sama memiliki tujuan yang sama membuat beberapa orang sangat suka terhadap hubungan mereka. Namun tidak ada yang tahu apa telah terjadi antara dirinya dan Sela, bahkan mungkin tidak ada yang boleh tahu tentang masalah mereka. Cukup mereka saja yang menanggung dosa dan menutup aib itu rapat-rapat. Tidak perlu ada yang tahu apalagi sampai tersorot kamera. Tala terus menahan diri, bukan karena takut karirnya hancur. Ia hanya tidak ingin Sela semakin hancur. Berjalan ke arah parkiran mobil yang tidak terlalu jauh dari studio, Tala lalu mengecek ponselnya. Beberapa pesan singkat Sela kirimkan untuknya. Sela : Kamu pulang jam berapa by? Sela : Aku nitip cemilan ya.. Kamu pulang ke sini kan nggak ke Apartemen? Sela : Kalau udah selesai langsung balas chat ku ya by. Tala : Aku otw ya, pesananmu sampai 30 menit lagi.. loveyu. Tanpa menunggu balasan dari sang wanita Tala bergegas menuju mobilnya dan segera menancap gas. Namun belum terlalu jauh mobilnya melaju dering ponsel harus membuat ia menepi. Satu nama tertera di sana, bukan Sela namun Tala sangat mengenal dia. "Halo." "Aku punya kabar." Ucap seseorang yang entah sekarang berada dimana. "Kabar apa?" "Orang tua Renata kecelakaan." Terdiam, kabar ini bagai badai untuk Tala. "Sekarang Renata lagi di Rumah Sakit Cinta Kasih." "Aku cuma mau kasih tau itu aja." Setelah mengatakan itu panggilan pun terputus dengan tidak ada satupun kata yang keluar dari bibir sang pria.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN