Kepala gadis itu terus menunduk, sesekali dirinya mengusap kasar bagian mata indahnya. Renata mencoba menahan kantuk yang amat sangat.
Kurnia serta Hana sudah pulang ke kediaman keluarga Mahendra, Kurnia berharap semua akan baik-baik saja. Sebelum pulang wanita yang seumuran dengan Herlin itu beberapa kali kembali menanyakan kepada Renata apakah dirinya ingin ikut bersamanya dan Hana, namun jawaban sang gadis selalu sama. Ia menolak untuk meninggalkan orang tuanya.
Mahendra masih tetap berada di sana, dirinya yang mengurus apapun yang harus di urus. Nathan belum juga datang sepertinya pesawat yang akan ia naiki mengalami delay.
Keynaru tidak pernah bangkit dari posisinya, ia terus terduduk di samping Renata, sesekali melirik bahkan menoleh kala kepala sang gadis seperti akan terjatuh karena tidak sengaja terlelap.
"Nat."
"Hmm.."
"Kamu tidur aja kalau ngantuk."
Kepala gadis itu menggeleng, "aku nggak apa-apa."
"Kamu ngantuk Nat," menjeda ucapannya lalu Keynaru melirik jam yang berada di lengan kanannya. "Ini sudah pukul satu dini hari, kamu tidur ya."
"Aku nggak bisa ninggalin orang tua ku Ru."
Menghela napas panjang "aku nggak nyuruh kamu buat ninggalin mereka, aku cuma mau kamu tidur.. kamu kan bisa tidur di sini." Lalu menepuk pundak miliknya.
Renata yang melihat itu tidak memberikan respon sedikit pun.
"Aku bukan bermaksud buat modus atau apapun, aku cuma nggak bisa lihat kamu nahan ngantuk begitu Nat.."
"Kamu tenang aja ada Papah sama aku di sini, aku janji langsung bangunin kamu kalau Dokter sudah keluar dari ruang ICU."
Menatap pria yang berada di sampingnya, mencoba meyakinkan dalam dirinya bahwa Keynaru benar-benar tidak akan membohonginya.
"Kenapa?" Tanya Renata.
"Kamu udah tau perasaan ku, aku nggak perlu terus mengatakan bahwa aku cinta kamu ataupun ingin memulai cinta ini dengan kamu.. meskipun nyatanya kamu belum percaya sampai saat ini.." menatap lurus ke depan.
"Aku nggak bisa nyalahin kamu, aku juga nggak bisa maksa untuk kamu terima aku.. dengan adanya perjodohan ini pun aku yakin udah memberatkan kamu Nat."
"Ini sulit, kita sama-sama mendapatkan rasa sakit meskipun aku nggak tau apakah yang aku rasain sama dengan yang kamu rasain.. tapi, meskipun kedengarannya aneh aku bahagia dengan perjodohan ini. Aku bahagia karena itu kamu Nat."
Tanpa berkata apapun Renata lalu menyandarkan kepalanya pada bahu tegap sang pria, menyamankan posisi yang ada. Entah karena dirinya mengantuk atau mungkin memang pria di sampingnya benar-benar mampu membuat dirinya nyaman?
Terlepas dari apapun yang Keynaru katakan sebelumnya, Renata sebetulnya juga merasakan hal yang sama. dia bersyukur bahwa yang berada di sampingnya sekarang adalah Keynaru.
"Ru."
"Hmm.."
"Makasih.."
"Makasih untuk segalanya."
Setelah mengucapkan kata terakhir Renata langsung terlelap dalam tidurnya, Keynaru yang masih terdiam mencoba untuk tidak bergerak sama sekali, ia tidak ingin membuat Renata terganggu dalam tidurnya.
Pria dengan tubuh tegap itu terus berucap dalam hatinya untuk terus menjaga gadis yang kini mulai percaya kepada dirinya. Secepat inikah rasa cinta Keynaru kepada Renata? Maka ia akan menjawab. IYA.
Entah dengan siapapun itu, bagaimanapun rupanya, tidak peduli bagaimana latar belakangnya. Jika cinta sudah memilih dirinya, maka hati tidak bisa berbohong.
Sebaliknya, sekeras apapun kamu berusaha dan berpikir bahwa dialah yang terbaik, namun jika memang hatimu tidak memilih dia maka cinta tidak akan pernah ada untuknya.
Mahendra telah kembali setelah selesai bertemu dengan salah satu Dokter dan Polisi yang telah mengurus kecelakaan yang di alami oleh Hermawan. Dirinya yang melihat Keynaru juga Renata sangat dekat ada rasa senang dalam hatinya.
Tidak bisa di pungkiri hati orang tua mana yang tidak bahagia melihat seseorang yang ia harapkan merasa nyaman bersama sang putra. Setelah merasakan kekecewaan beberapa waktu lalu karena pengkhianatan seorang gadis yang sangat di cintai sang putra, Mahendra juga Kurnia sempat takut jika Keynaru akan merasa frustasi. Namun hal yang paling di takutkan mereka nyatanya tidak terjadi.
"Bagaimana?"
"Papah nggak mau ambil kesimpulan."
"Pah." Panggil Keynaru.
"Key, kemungkinannya kecil."
"Pah.. Key mohon."
"Sudah bukan kuasa kita Key."
Menarik napas panjang, bahkan untuk menghebuskannya kembali sungguh berat. Menoleh pada gadis yang masih nyaman terpejam di sampingnya, Keynaru tidak tahu harus mengatakan seperti apa dan dengan cara bagaimana menyampaikan semuanya kepada Renata.
Kecelakaan yang di alami oleh Mahendra serta Herlin adalah kecelakaan tunggal, Polisi tidak bisa bertindak lebih jauh lagi. Karena menurut pihak berwajib kecelakaan ini terjadi akibat kelalaian dari pengedara itu sendiri.
"Key, Nathan belum ada kabar?"
"Belum Pah.. mungkin pesawatnya delay."
"Kenapa sih harus mereka yang ngerasain musibah ini."
"Pah.. Key minta tolong."
"Itupun yang sudah papah katakan ke Dokter, Key."
Keynaru menunduk memikirkan apa yang harus ia katakan kepada Renata, namun tidak lama setelah itu sang pria mendengar suara pintu ruangan terbuka, dengan cepat kepala itu menoleh ke arah ruang ICU.
Terlihat dokter yang kemungkinan berusia tidak jauh beda dengan sang ayah berdiri sambil berusaha melepaskan masker yang ia kenakan.
Dengan cepat Mahendra berjalan mendekat ke arah Dokter, Keynaru yang masih terduduk pada posisinya dengan perlahan menepuk pipi gembil gadis yang masih terlihat nyaman bersandar pada bahunya.
"Keluarga pak Hermawan?"
"Saya Dok." Ucap Mahendra.
Di sisi lain Keynaru masih mencoba membangunkan Renata.
"Nat." Berusaha membangunkan Renata meskipun nyatanya ia tidak tega, namun dirinya telah berjanji untuk segera membangunkan sang gadis.
"Nat." Kembali menepuk pelan pipi sang gadis, Keynaru berharap Renata segera bangun.
"Hmm.."
"Nat, sudah ada Dokter."
"Hmmm.." mata yang sebelumnya terpejam mendadak terbuka, tanpa menunggu tubuhnya siap Renata sudah berdiri dari duduknya membuat Keynaru sedikit tersentak.
"Saya anaknya!"
"Gimana Ayah dan Ibu saya? Mereka baik-baik saja kan Dok?"
Mahendra yang sebelumnya sedang mendengarkan penjelasan Dokter sedikit terkejut kala Renata langsung menghampiri dirinya.
"Re, sabar." Ucap Mahendra.
"Tapi Om.."
"Iya om tahu kamu cemas, dengerin penjelasan Dokter dulu ya.."
"Sebelumnya saya ingin menjelaskan namun tidak di sini."
Menatap Mahendra, Renata, juga Keynaru secara bergantian.
"Bapak bisa ikut saya ke ruangan?" Tanyanya kepada Mahendra.
"Bisa."
"Aku ikut ya Om."
"Re.."
"Nat, kita di sini aja ya nungguin Om sama Tante." Ucap Keynaru berusaha menenangkan Renata.
"Tapi Ru.."
"Papah aja, nggak apa-apa kan? Nanti pasti Papah juga ngasih tahu semuanya ke kita."
Renata akhirnya mengangguk, mendapatkan persutujuan dari Renata, Mahendra dengan cepat mengikuti langkah Dokter yang sebelumnya telah menangani Hermawan serta Herlin.
Menunduk begitu dalam, sungguh ini sangat berat untuk Renata bahkan dirinya tidak tahu apakah orang tuanya baik-baik saja saat ini? Ingin terus berpikir bahwa mereka baik-baik saja namun kenyataan menampar dirinya.
Kalau mereka baik-baik aja, nggak mungkin ada di ruang ICU – batin Renata tertawa pedih.
Kembali meneteskan air mata, Renata sungguh tidak mampu lagi menahan kesedihan yang ada. Keynaru yang melihat itu langsung memegang bahu Renata menanyakan apakah dirinya baik-baik saja, namun bukan jawaban yang Keynaru dapatkan. Pelukan serta isakan yang sang pria dapatkan dari gadis yang kini memeluknya sangat erat.
"Ru, Ibu.. Ayah.. aku takut.."
Membelai lembut surai sang gadis, nyatanya ini memang berat untuk Renata namun Keynaru pun tidak mampu berbuat apa-apa.
"Ru.. gimana aku bilang sama Hana.. Ru, aku.. takut.."
Sepertinya Renata sedang menumpahkan semua yang ia rasakan, basah air mata terasa di kemeja bagian d**a sang pria. Kemeja Nathan yang sebelumnya Renata pijamkan untuknya.
"Nat."
Isakan terus terdengar dari sang gadis, Keynaru tidak tahu harus berkata seperti apa. Ia sadar bukan kata-kata manis yang Renata butuhkan namun hanya sandaran dan orang yang bisa dengan setia mendengarkan rasa sakitnya.
"Aku.. aku bahkan belum bisa kasih bahagia untuk mereka.."
"Aku.. aku bahkan belum jadi anak yang berguna dan membanggakan Ayah.."
"Aku baru ngecewain mereka, Ru.."
"Mereka pasti sedih mikirin aku yang selalu terlihat nggak bahagia, tapi sekarang bahkan aku nggak bisa berbuat apa-apa saat mereka butuh aku.."
"Ru.. bilang kalau ini cuma mimpi.. please.."
Dirinya tidak mampu membalas ucapan Renata, bukan tidak ingin namun Keynaru hanya tidak mau semakin menyakiti hati sang gadis.
**
"Jadi bapak ini siapanya pak Hermawan?"
"Saya temannya dari kecil."
Dokter yang berjenis kelamin laki-laki itu lalu menganggukkan kepalanya, sedikit membenarkan kacamata yang baru ia kenakan.
"Sebelumnya perkenalkan saya Dokter Irawan."
"Menurut keterangan Polisi, ini kecelakaan tunggal.. kemungkinan pak Hermawan mengantuk saat sedang berkendara, mungkin pak.."
"Mahendra."
"Pak Mahendra bisa bertanya lebih lanjut kepada Polisi perihal kejadiannya. Di sini saya akan menjelaskan tentang kondisi bapak Hermawan serta ibu Herlin."
Menjeda ucapannya, lalu membuka amplop yang sebelumnya sudah tertata rapih di atas meja sang Dokter.
"Seperti yang terlihat, bagian kepala ibu Herlin sepertinya terbentur cukup keras, dari keterangan polisi dan saksi beliau terpental keluar dari mobil."
Dengan perlahan Dokter yang bernama Irawan itu menjelaskan detail kondisi ibu dari Renata kepada Mahendra. Sambil menunjukan ct scan bagian kepala milik Herlin Dokter Irawan sesekali menghebuskan napas berat.
"Ibu Herlin mengalami pendarahan pada otaknya pak."
"Sebelum keluarganya sampai, kami sudah lebih dulu melakukan operasi karena pihak dari bapak Hermawan mengatakan untuk segera melakukan tindakan."
Mahendra berpikir mungkin Nathan yang meminta pihak Rumah Sakit untuk segera melakukan tindakan.
"Kondisi ibu Herlin memang tidak bisa di tunda."
Menatap Dokter yang juga menatapnya, Mahendra masih tidak percaya kecelakaan ini akan berakibat sangat besar untuk keluarga Hermawan.
"Dokter.."
"Kami sudah melakukan semampu kami. Selanjutnya hanya doa yang bisa kita lakukan.."
"Saya belum mengerti." Ucap Mahendra kepada Dokter di hadapannya.
"Ibu Herlin mengalami koma."
Mata pria paruh baya itu membola, kabar ini sungguh akan membuat Renata hancur.
Mengusap kasar wajahnya.
"Dokter."
"Kami tahu, kami akan berusaha untuk terus memantau ibu Herlin, namun seperti yang saya katakan sebelumnya. Doalah yang bisa membantu beliau."
Mahendra mengangguk, otaknya sudah tidak bisa di pakai untuk berpikir lagi.
"Untuk pak Hermawan."
Mengangkat kembali wajahnya, Mehandra segera menatap Dokter Irawan saat dirinya mendengar nama sahabatnya di sebut.
"Beliau tadi sempat sadar beberapa detik, namun kembali kehilangan kesadarannya.."
"Terdapat gumpalan darah di otaknya, meskipun tidak separah ibu Herlin namun kondisi ini juga cukup serius."
"Pihak kami menyarankan untuk segera melakukan operasi.."
"Lakukan! Apapun itu yang terbaik untuk sahabat saya segera lakukan!"
"Baik."
"Saya mohon, berapa pun biayanya lakukan sebaik mungkin Dok.. bukan saya, tapi putri mereka menunggu mereka pulang."
"Bapak tolong tanda tangan di sini sebagai penanggung jawab. Kami akan segera melakukan tindakan operasi untuk pak Hermawan."
Membaca dengan seksama kertas yang Dokter Irawan berikan kepadanya, Mahendra sudah tidak bisa menunggu lagi atau pun bertanya kepada Renata langkah apa yang harus ia ambil. Bagaimana pun Mahendra sangat yakin Nathan maupun Renata akan tetap mengambil keputusan yang sama dengannya.
Menyerahkan kertas yang sudah ada tanda tangan dirinya kepada Dokter Irawan. "Saya mohon."
"Kami akan berusaha pak. Kami minta doa dari keluarga pak Hermawan." Ucap dokter Irawan kepada Mahendra.
Tidak lama setelah itu mereka bangkit dari posisi duduknya, Mahendra yang meminta izin untuk keluar ruangan terlebih dulu segera di persilahkan oleh Dokter Irawan.
Berjalan perlahan, masih tidak dapat di percaya bahwa musibah seperti ini harus menimpa sahabatnya. Melihat Keynaru yang mencoba menenangkan Renata yang sepertinya sedang menangis, dirinya semakin di buat bimbang harus mengatakan dengan cara seperti apa kepada putri tertua Hermawan.
"Pah." Panggil Keynaru.
Segera melepaskan pelukan yang ada. Renata langsung mendekat ke arah Mahendra, menunggu penjelasan sang pria yang tak lain adalah sahabat ayahnya.
"Om.. gimana?"
"Re, kamu janji dulu ya.."
"Janji apa? Om please jangan buat Re terus nebak-nebak keadaan Ayah sama Ibu." Ucap Renata dengan air mata yang kembali menetas.
"Re, Ibumu Koma."
Gelap, seakan tidak ada cahaya yang menerangi. Renata seketika ambruk, namun sebelum tubuhnya jatuh ke lantai Keynaru segera menangkap tubuh sang gadis.
"Nata!"
"Re!"
Terakhir sebelum semua terlihat menggelap teriakan Keynaru juga Mahendra lah yang Renata dengar.