Kehilangan.

1328 Kata
Pria itu membuka matanya perlahan, semalam setelah pemotretan selesai dirinya langsung pergi menuju Supermarket dan membeli beberapa barang yang Sela titipkan. Masih teringat tentang kabar yang ia dapatkan, sempat terbesit ingin segera menuju Rumah Sakit dan bertemu gadis yang bahkan mungkin sudah tidak ingin melihat wajahnya. Tala sangat paham luka yang ia tanam kepada Renata mungkin cukup besar. "By." Pria yang masih terduduk menyandar pada dipan ranjang mengangkat kepalanya, kini ia bisa melihat wanitanya sudah sangat cantik. "Sel?" "Gimana? Aku cantik kan?" Tanya Sela kepada Tala. Pria itu mengangguk lalu perlahan menuju sisi lain ranjang, "cantik banget, kamu mau kemana?" "Di rumah aja.." ucapnya tanpa menghilangkan senyum manis dari wajah cantik sang wanita. Berlajan perlahan mendekat ke arah Tala lalu duduk tepat di samping sang pria. "Aku berpikir, hidup ku harus berlanjut. Aku tahu aku salah, aku tahu aku adalah wanita paling berdosa dan mungkin dosa ku sangat besar. Tapi.." menatap pria yang kini juga menatapnya. "Aku terus berpikir mau sampai kapan aku menyalahkan diri ku sendiri dan terus terpuruk karena penyesalan. Aku berpikir mungkin memang sudah jalannya seperti ini, dia juga mungkin sudah bahagia di atas sana.." Tala masih mencoba mendegarkan setiap ucapan Sela, mencerna dengan baik apa yang sang wanitanya katakan. "Daripada dia harus hadir di dunia ini, dan terus aku cap sebagai kesalahan dalam hidup ku.. bukankah itu akan lebih menyakitkan untuknya?" Tala mengangguk, lalu dengan reflek menggenggam tangan Sela. "Terimakasih." "Untuk?" "Telah berjuang juga bertahan sampai sejauh ini." Wanita itu tersenyum, senyum yang sepertinya memiliki sebuah arti. "Aku masih punya mimpi yang harus tetap ku kejar By. Aku nggak mau nyusahin kamu terus, apalagi bikin kamu merasa terbebani.." "Sekarang.." Sela berdiri dari duduknya. "Aku akan terus menjadi manusia yang bahagia juga menjadi Sela yang ceria seperti dulu." Tala yang mendengar itu ikut tersenyum, dirinya sangat bersyukur bahwa Sela kini telah melupakan penyesalannya dan bangkit dari keterpurukan dirinya. Beberapa bulan Sela mengalami depresi yang begitu parah hingga dirinya ingin mengakiri hidupnya sendiri dengan meminum obat tidur melebihi dosis yang di sarankan. Sela merasa frustasi karena karirnya sebagai model ternama dan mendapatkan kontrak dari salah satu Agensi terbesar harus ia tunda karena kabar buruk yang dirinya terima. Sela dinyatakan positif hamil, dirinya tidak mempertanyakan siapa ayah biologis dari sang anak yang ada di dalam rahimnya, namun yang Sela sesalkan adalah mengapa anak itu harus hadir di waktu yang tidak tepat. Karena kabar itulah Tala memutuskan untuk tinggal satu atap bersama Sela, meskipun jarang dan lebih sering pulang ke Apartemen miliknya namun Tala berusaha akan lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Sela. Tala yang telah berusaha sekeras mungkin untuk meyakinkan Sela agar tidak membuang anak yang berada di dalam kandungannya hanya bisa mengutuki dirinya sendiri. Tala gagal mencegah Sela untuk membuang darah dagingnya. Meskipun Tala sangat yakin bahwa anak yang Sela kandung bukanlah anaknya, karena memang mereka belum pernah melakukan hubungan yang di lakukan suami istri sebelumnya. Bahkan Tala bersumpah akan mengakui anak itu adalah anaknya asalkan Sela ingin terus mempertahankan darah dagingnya, namun ucapan Tala hanya menjadi angin dingin untuk Sela. Semua sudah terjadi, Tala tidak mau menyesali apa yang telah terjadi. Namun Sela menjadi sangat frustasi dari sebelumnya, Tala berpikir apakah sang wanita menyesal dan merasa kehilangan anak yang walau hanya sebentar sempat berdiam di dalam rahimnya. Tapi kali ini Tala salah. Setelah anak itu pergi dari rahimnya, Agensi yang sebelumnya ingin merekrut Sela pun ternyata telah mendapatkan Model pengganti sang wanita. Pihak Agensi tidak bisa menunggu terlalu lama dan itulah yang membuat Sela semakin frustasi dan mendapatkan penyesalan sangat dalam. "Aku menyesal!" Itulah ucapan Sela yang selalu Tala ingat. Namun melihat wanitanya kini telah kembali menjadi dirinya yang dulu sungguh membuat Tala sangat bahagia. Hingga membuat sang pria melupakan tentang kabar buruk yang menimpa gadis di masa lalunya. ** Menatap langit yang sudah berwarna biru di atas sana, pria itu masih terus terdiam menatap langit yang begitu indah. Sesekali melirik pada ponselnya, tidak ada notif masuk satu pun karena memang dirinya sedang mengaktifkan airplane mode. Seketika jarinya tergerak untuk membuka galeri yang berada di dalam ponselnya. Pesawat yang sebelumnya ia kira akan berangkat pukul sebelas malam nyatanya harus mengalami delay yang cukup lama. Pukul tiga dini hari pesawat baru bisa melakukan penerbangan, bukan tanpa sebab ternyata cuaca di sana memang tidak mendukung untuk tetap melakukan penerbangan. Membuka satu persatu folder yang terdapat di dalam galeri ponsel miliknya. Nathan segera mematikan ponsel kala melihat foto kedua orang tuanya. Sebulir air jatuh dari mata indah sang pria, ia tidak boleh terlihat lemah karena dirinya harus menjaga kedua adik perempuannya. Tunggu aku Ayah, Ibu – batin Nathan. Sebelum dirinya berangkat menuju tempat yang ia tuju, Nathan terlebih dulu menghubungi Keynaru namun beberapa kali Nathan menghubungi sang pria, Keynaru tidak menjawab panggilan dari Nathan, tanpa banyak berpikir pria berkulit putih putra tertua dari keluarga Hermawan itu segera menghubungi Mahendra ayah dari Keynaru. Menanyakan keadaan yang terjadi di sana, apakah operasi Ibunya berjalan dengan lancar. Sempat menghembuskan napas lega kala Mahendra menjelaskan bahwa operasi yang Herlin jalani lancar tanpa hambatan namun seketika badai menyerang hidupnya kala mendengar bahwa sang ibu harus mengalami koma. Nathan sempat terdiam, pikirannya kacau. Telinganya kembali fokus kala Mahendra menyebutkan nama sang Ayah, menjelaskan kondisi dari satu-satunya pria yang sangat ia idolakan, pria yang menjadi tempat tujuannya saat dirinya merasa bingung dan bimbang. Pria keras kepala yang perintahnya selalu ingin segera di turuti, namun kadang ia menjadi sangat manja ketika anak-anaknya sedang berkumpul bersama dirinya. Ayah dari sahabatnya mengatakan bahwa Hermawan mengalami pendarahaan di kepala, hampir mirip dengan Herlin, namun kondisi Hermawan jauh lebih baik jika di bandingkan dengan kondisi sang Ibu. Operasi telah di lakukan oleh pihak Rumah Sakit atas persetujuan Mahendra. Nathan sangat paham keputusan yang Mahendra ambil sudah sangat tepat, dirinya tidak akan menyalahkan siapa pun karena saat ini dirinya ataupun mereka yang kini sedang menjaga orang tuanya ingin yang terbaik untuk kedua orang tua Nathan. Kembali menatap layar ponsel yang masih terus ia genggam, Nathan tidak pernah menyangka bahwa musibah ini menimpa keluarganya. Suara pramugari terdengar pertanda bahwa pesawat akan segera landing, Nathan segera memakai sabuk pengamannya kembali, menegapkan duduknya. Tidak lupa selalu berdoa dalam hati. Dalam benaknya ia selalu meminta yang terbaik, atau mungkin setidaknya waktu bisa di putar kembali. Namun ia sangat paham bahwa itu tidak mungkin terjadi. Beberapa menit telah berlalu, pesawat sudah mendarat dengan selamat. Para penumpan satu persatu menuju pintu keluar, Ya. Nathan bukan seseorang yang kerap memakai pesawat pribadi. Bahkan keluarganya tidak memiliki benda semahal itu, Hermawan selalu mengajarkan kepada anak-anaknya untuk terus bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini. "Apapun yang kamu miliki sekarang, nanti, ataupun di masa depan. Jangan pernah merasa kurang harus bisa bersyukur berapa pun dan apapun yang kamu punya saat ini, kalau masih bisa makan sehari tiga kali itu namanya kamu tidak kekurangan. Beli yang kamu butuhkan, bukan yang kamu inginkan." Itulah yang membuat anak-anaknya terlihat sangat mandiri, Renata yang tidak pernah manja dan merengek untuk di belikan mobil. Hana yang juga tidak pernah merengek tentang apapun yang orang tuanya berikan. Mereka merasa hidup bersama kedua orang tua mereka adalah hal yang harus di syukuri setiap hari. Harta yang sangat besar yang tidak akan pernah mereka lepaskan. Berjalan menuju parkiran, Nathan memang meninggalkan mobilnya di Bandara. Berharap tidak terkena macet agar bisa sampai Rumah Sakit sesuai perkiraan dirinya. "Halo." "Kak.." "Re." Ucap Nathan kala mendengar suara parau sang adik. "Ayah sudah sadar Kak.. ka Nathan kapan sampai?" "Kakak dalam perjalanan ke Rumah Sakit Re, kamu tunggu di sana ya.. ada om Indra sama Key kan di sana." Renata tidak menjawab ucapan Nathan, namun kepala mungil itu mengangguk yang bahkan tidak mampu di lihat oleh sang Kakak. Indra yang di maksud Nathan adalah Mahendra, untuk beberapa orang terdekat, mereka memang memanggil Mahendra dengan nama Indra. "Re bakal tunggu Kakak di sini." Kembali sang gadis berucap dengan nada parau. Nathan sangat tahu bagaimana perasaan Renata saat ini, tidak mungkin jika gadis kecilnya tidak menangis jika melihat kedua orang tua mereka masih terbaring lemah di Rumah Sakit. "Kak." "Yaa.." "Ibu sudah nggak ada."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN