"Kak."
"Yaa.."
"Ibu sudah nggak ada."
Bukan hanya badai, kata itu bagai bencana besar yang menimpa dirinya, Nathan yang kini berada di dalam mobil seketika berhenti mengenakan sabuk pengaman.
Mematung sambil terus menggenggam ponsel yang masih ia tempelkan di telinga kanannya.
"Kak." Kembali Renata memanggil dirinya.
"Ibu sudah nggak ada Kak.." kembali ia ucapkan kata itu namun kali ini dengan isakan yang begitu dalam.
Jam lima pagi, saat operasi Hermawan dinyatakan berhasil dan berjalan lancar, namun di sela-sela kabar gembira itu harus segera tertutup dengan kabar dimana Herlin mengalami kondisi menurun pada tubuhnya.
Detak jantung sang wanita terhenti, tindakan medis segera di lakukan. Renata yang sudah sadar dari pingsannya hanya mampu menangis dalam pelukan Keynaru, Mahendra tidak bisa berkata apapun.
Dalam rasa lelah dan mata yang mengantuk mereka sama-sama terpuruk dan tidak mampu berpikir dengan jernih. Kabar yang diberikan oleh Dokter tentang keadaan Herlin membuat tubuh sang gadis kembali tidak memiliki tenaga, Renata kembali ambruk kala mendengar bahwa sang Ibu telah berpulang.
Keynaru lalu membawa tubuh sang gadis menuju salah satu ruang perawatan, membaringkan tubuh lemah itu perlahan. Dalam hatinya Keynaru terus berkata bahwa dirinya akan selalu berada di samping Renata.
Mahendra segera mengurus apapun yang perlu di urus, beberapa kali dirinya meminta Dokter untuk kembali memeriksa keadaan Herlin, berharap keajaiban datang untuk keluarga sahabatnya. Namun tidak satupun Dokter yang menuruti permintaan Mahendra.
"Ibu Herlin sudah meninggal dunia pak, kami tidak bisa berbuat apapun lagi." Ucap salah satu Dokter yang membantu jalannya operasi Herlin kala itu.
Hermawan masih berada di ruang ICU, dirinya belum sadar namun Dokter mengatakan bahwa keadaan sang pria baik-baik saja.
Masih terduduk di samping ranjang Renata, Keynaru lalu mengambil ponselnya yang ia simpan di dalam saku. Mencari nama sang Ibu, mengabarkan tentang kabar duka yang menimpa keluarga Renata.
"Halo."
"Mah," menunduk, memegang kepalanya dengan satu tangan.
"Tante Herlin udah nggak ada."
Di hari dimana bahkan matahari belum menampakan dirinya kabar yang begitu menyakitkan harus kembali ia dengar. Kurnia tidak mengatakan apapun namun Keynaru sangat tahu bahwa sang ibu kini sedang menangis.
"Key, Renata bagaimana?"
"Pingsan Mah, tapi sudah Key bawa ke ruangan.. Key nggak tahu harus ngapain, Key bingung.. Key nggak bisa bayangin jadi Nata sekarang."
Terdengar tarikan napas dari wanita yang melahirkannya.
"Jagain terus, mamah percaya sama kamu.. dan Hana.." sempat menghentikan ucapannya. Kurnia berpikir bagaimana cara dirinya memberitahu kabar yang sangat menyakitkan ini kepada gadis belia yang kini berada di rumahnya.
"Nanti mamah coba ngomong sama Hana.. Astagfirullah kenapa kabar buruk nggak habis-habis menimpa keluarga mereka."
"Mah.."
"Key, Hermawan gimana?"
"Om operasinya berjalan lancar, tapi sekarang masih di ruangan ICU.. Om Hermawan belum tahu kabar ini Mah."
"Papah mu?"
"Masih ngurusin hal-hal di Rumah Sakit."
Kembali terdengar tarikan napas dari wanita paruh baya.
"Yasudah setelah ini mamah hubungi papah."
"Iya."
"Key."
"Iya Mah?"
"Jagain Renata, dia lagi sangat hancur sekarang. Melebihi rasa sakit yang sudah ada."
Keynaru mengangguk meskipun tidak dapat di lihat oleh Kurnia.
"Key janji."
Setelah mengucapkan itu sambungan telepon terputus, Keynaru lalu kembali mencari satu nama yang akan ia hubungi. Tanpa memakan waktu yang lama dirinya telah menghubungi Shikanara yang tak lain adalah sahabat juga Sekretaris lamanya di kantor. Mengabarkan tentang apa yang terjadi terhadap keluarga calon istrinya.
Ya, Keynaru selalu berkata kepada orang-orang terdekatnya bahwa Renata adalah calon istrinya, bukan tanpa sebab namun setelah adanya perjodohan itu Key menjadi lebih agresif terhadap status hubungan.
Entah karena masa lalu atau mungkin karena dirinya begitu bahagia bisa mendapatkan Renata. Membuat Key menjadi takut akan kehilangan sosok sang gadis yang kini telah mengisi kekosongan hatinya.
Setelah menghubungi Shikanara, Keynaru segera menghubungi Saka juga Syie. Memberitahu kabar duka ini dan meminta tolong untuk mereka memberi kabar terhadap Safanah juga yang lainnya.
"Bu.."
Key tersentak kala mendengar suara Renata, saat dirinya melihat mata sang gadis masih terpejam Keynaru menyimpulkan apakah Renata sedang mengigau?
"Buu.. Ibu.. maafin Re.."
Tidak kuat mendengar sang gadis terus menangis dalam keadaan mata tertutup, Keynaru dengan perlahan menepuk lembut pipi Renata.
Mencoba membangunkan sang gadis dari mimpi buruknya, mimpi yang berawal dari kenyataan.
"Nat."
"Nata, bangun.."
Mata indah itu mulai memancarkan cahaya, namun dengan sekejap linangan air mata menunpuk di sana. Renata bangkit dari posisinya, terduduk di atas ranjang memandang Keynaru begitu dalam.
"Ibu Ru.."
"Ibu.."
Tanpa mengucapkan apapun sang pria dengan cepat memeluk tubuh gadis yang berada di depannya. Entah bagaimana namun Key seperti tidak mampu melihat luka yang begitu menyakitkan dari mata Renata.
Keynaru sangat paham kehilangan bukanlah sesuatu yang mudah untuk di terima, terlebih untuk beberapa orang merasa bahwa kehilangan adalah sesuatu yang sangat amat menyakitkan.
"Gimana Hana? Hana masih butuh Ibu, aku pun sama.. gimana aku jelasin ke Ayah? Ru.. aku.. aku.."
Keynaru yang masih memeluk Renata tidak mampu mengatakan apapun, dirinya bingung harus berbuat bagaimana. Di satu sisi ia ingin mengatakan bahwa Renata harus kuat, tapi di sisi lain ia merasa bahwa bukan itu yang Renata harapkan.
"Nat.."
"Ikhlasin Tante, aku tahu ini berat buat kamu, Hana dan Nathan. Aku tahu mudah mengatakan ini dan pasti sulit berada di posisi kamu sekarang, Nat.. Tuhan mungkin punya segudang rencana dan bahagia untuk kalian ke depannya."
Kepala gadis itu menggeleng, masih dalam pelukan Key, Renata tidak lagi terdengar terisak seperti sebelumnya. Keynaru sedikit menyesali tentang apa yang barusan ia ucapkan.
"Kalau memang Tuhan punya rencana yang indah untuk aku, kenapa Dia harus ambil Ibu dari hidup ku? Ibu adalah sebagian jiwa ku Ru.. siapapun boleh pergi, siapapun boleh meninggalkan aku.. tapi please.."
"Please jangan Ibu."
Keynaru semakin menguatkan pelukannya untuk Renata, dirinya sangat paham kehilangan Ibu sama dengan kehilangan separuh hidupnya. Renata benar, siapapun boleh pergi kecuali Ibu. Jangan Ibu.
Aku janji bakal terus ada di samping kamu Nat. – batin Keynaru berucap.
"Kamu boleh keluarin semuanya, kamu boleh nangis atas kehilangan yang menyakitkan ini.. kamu berhak untuk semua itu, Nata.."
"Aku antar ke tempat Tante ya."
Meski berat namun Renata harus kuat melihat sang Ibu untuk yang terakhir kalinya. Ia terus meminta maaf dalam hati karena belum bisa memberikan yang terbaik bahkan membahagiakan sang Ibu.
Setelah selesai bertemu Herlin untuk yang terakhir kalinya, Renata sempatkan duduk di kursi tunggu Rumah Sakit, tak ada lagi cahaya dari mata indah sang gadis. Pancaran wajahnya kian meredup, satu hari ini sungguh menguras tenaga serta perasaan di hatinya.
Renata seperti sudah tidak memiliki tujuan hidup.
Key berusaha mendekat kembali kepada sang gadis, berbicara sedikit dan memberitahu bahwa Ibunya yang tak lain adalah Kurnia telah memberitahu Hana perihal meninggalnya Herlin. Hana sama tersiksanya dengan Renata, ia menangis bahkan terus memanggil sang Ibu. Kurnia terus memeluk Hana tanpa ingin melepaskan gadis remaja yang sudah ia anggap sebagai putrinya sendiri.
Kini Hana sudah tenang, Key mengatakan pada Renata bahwa Ibunya sedikit memberi pengertian kepada Hana. Mereka sedang bergegas menuju ke Rumah Sakit ini. Kini hanya Nathan yang belum mengetahui kabar duka ini.
Renata sempat menahan Keynaru untuk memberitahukannya kepada Nathan, sang gadis lalu mengatakan bahwa dirinya ingin ialah yang memberitahu berita ini kepada Kakaknya sendiri. Tepat pukul sepuluh pagi, Nathan mengabarkan kepada Keynaru bahwa dirinya telah sampai dan akan segera menuju Rumah Sakit.
Saat itu juga Renata meminta Keynaru untuk segera menghubungi Nathan dan di sinilah mereka, Renata yang telah menghubungi Nathan dan mengatakan kabar duka yang bagai badai dalam hidupnya.
"Kak." Mengeratkan genggaman tangannya kepada Keynaru. Renata merasa resah karena tidak mendengar jawaban dari Nathan.
"Dimana Ayah?"
"A-ayah.. Ayah belum tahu kabar ini Kak."
"Re."
Gadis itu masih terisak, menahan tangis yang ada. Genggaman tangan itu tidak pernah lepas, Keynaru yang terus berada di samping Renata, dan Renata yang mungkin saat ini memang membutuhkan pundak yang lebih kuat dari pundak miliknya.
"Kakak berangkat sekarang."
"Kak."
"Ya."
"Key mau bicara sama Kakak."
Nathan tidak mengatakan apapun, namun tidak lama setelah itu suara yang sangat ia kenali terdengar di telinga.
"Wil.. fokus, ada mereka yang nungguin kamu di sini.. jangan bertindak bodoh."
"Kita semua nunggu kamu. Renata dan Hana nunggu kamu, jadi hati-hati." Ucap Keynaru yang mendapatkan hembusan napas kasar dari Nathan yang berada di seberang sana.
"Makasih." Ucap Nathan sebelum mematikan sambungan yang ada.
Tidak lama setelah itu Hana dan Kurnia sampai di Rumah Sakit. Hana yang terlihat sudah berlinang air mata segera memeluk tubuh Renata sangat erat, adik dan kakak yang terlihat tidak pernah akur itu kini sama-sama merasakan rasa sakit yang sama. Sakit karena kehilangan Ibu yang sangat mereka cintai.
**
Beberapa mata memandang dua insan yang kini sedang duduk berdua saling berhadapan. Beberapa orang yang melintasi mereka tidak lupa untuk bertegur sapa, Tala dan Sela kini berada di studio foto yang biasa mereka datangi.
Beberapa Kru atau Karyawan yang melihat sang wanita telah kembali sangat bahagia, ada pula yang langsug memeluk Sela karena saking rindunya. Sela memang terkenal sangat ceria dan mudah sekali akrab kepada Kru dan juga Karyawan di sana. Maka dari itu tidak sedikit yang merasa kehilangan saat Sela beberapa bulan ini hilang dari dunia permodelan.
"By.."
"Hmm.."
"Hari ini kamu nggak ada pemotretan?"
Sang pria menggeleng lalu menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.
"Aku kan udah bilang tadi, aku libur kamu mau jalan-jalan kemana? Tapi kamu malah minta ke studio."
Tawa renyah terdengar dari wanita yang kini memegang tangannya.
"Habisnya aku kangen banget sama studio.. habis ini kalau ke Mall, boleh?"
Tala mengangguk dan mendapatkan senyum manis dari sang wanita.
"Makasih By."
"Sel."
Wanita yang sebelumnya sedang memandang layar ponsel itu seketika menoleh, memandang Tala dengan tatapan bertanya.
"Kamu benar sudah nggak apa-apa?"
Mengangguk sangat cepat, Sela memberikan respon yang sangat baik sekali beda dengan dirinya beberapa bulan lalu.
"Mau coba ke Psikolog lagi?"
Kepala sang wanita kini menggeleng perlahan.
"Aku nggak mau By, aku terkesan seperti orang gila kalau terus ke sana."
"Tapi benarkan kamu nggak apa-apa?"
"Kamu nggak percaya aku ya?"
"Percaya."
Setelah itu Sela hanya menunjukan senyum manisnya kepada Tala.
Setelah mengalami depresi yang sangat parah, Tala membawa Sela untuk konsul ke salah satu Psikolog, sebelumnya Tala pernah membawa Sela ke Psikiater namun setelahnya sang wanita menjadi kecanduan obat tidur karena merasa dirinya tidak dapat tidur dengan normal jika tidak meminum obat itu.
Lalu Tala akhirnya membawa Sela ke salah satu Psikolog kenalannya, Tala sangat tahu bahwa tubuh Sela tidak mengidap sakit apapun dan tidak membutuhkan obat, Tala sangat yakin Sela hanya perlu menerima apa yang sudah terjadi di dalam hidupnya. Bagaimanapun hasilnya sekarang harus ia terima karena memang inilah konsekuensi yang harus ia dapatkan saat memutuskan hal itu.
"Aku ke sana dulu ya." Ucap Sela kala dirinya di panggil oleh beberapa Kru wanita.
Tala mengangguk mengiyakan, dirinya tidak ingin melarang ataupun menjadi pria posesif.
Tidak lama setelah Sela pergi, ponsel milik sang pria berbunyi. Satu panggilan masuk dari nama yang sangat Tala kenal.
"Ya.."
"Ibu Renata meninggal dunia."
**
Dengan langkah berat dirinya terus melangkah masuk semakin dalam, lorong bercat putih itu seakan tidak ada ujungnya, Nathan telah sampai di Rumah Sakit yang ia tuju. Dari kejauhan dirinya dapat dengan jelas melihat kedua adiknya masih saling menguatkan, pelukan Hana kepada Renata seakan erat. Itulah yang Nathan lihat.
Semakin dekat langkah itu semakin berat, dirinya semakin merasakan kesedihan yang Hana dan Renata rasakan, tubuh tegap itu tiba-tiba menerjang dirinya, menepuk lembut pundak Nathan, mencoba menguatkan sahabatnya.
Tanpa ragu Key memeluk Nathan erat ia hanya ingin menyalurkan sisa kekuatan miliknya, tanpa yang Key ketahui satu bulir air mata lolos dari mata hitam sang pria. Nathan meneteskan air mata untuk yang kedua kalinya setelah dulu ia menangis karena terjatuh dari sepeda.
"Om dimana?"
Key melepaskan pelukan yang ada, Renata dan Hana sudah berdiri dari posisinya semula. Tanpa mengatakan apapun Hana segera berlari menuju Nathan, anak bungsu dari keluarga Hermawan ini begitu tidak siap kehilangan sosok ibu yang sangat ia cintai. Nyatanya memang tidak akan ada yang siap kehilangan, tidak akan ada yang siap.
Membelai tubuh Hana begitu lembut, Nathan berusaha sangat keras untuk tidak meledakan rasa sakitnya.
"Key, Om dimana?"
"Masih ngurusin semua keperluan."
"Tante?"
"Ikut."
Nathan mengangguk mengerti, lalu mengeratkan pelukannya pada sang adik. Melirik pada gadis yang masih berdiri mematung di belakang tubuh Keynaru, Nathan sangat tahu luka yang Renata rasakan juga sama dalamnya dengan dirinya dan Hana.
"Kakak mau ketemu Ibu."
Renata menunduk, tidak mampu melihat sorot mata sang Kakak.
"Re."
Gadis itu mengangguk lalu berjalan lebih dulu menuju ke salah satu ruangan. Ruangan dimana sang ibu terbaring sangat nyaman di sana.
"Re tunggu di sini, Kakak sama Hana bisa masuk ketemu Ibu."
Nathan menatap gadis yang sangat ia sayangi.
"Re bukan nggak mau ketemu Ibu, Re cuma.."
"Yaa.. nggak apa-apa, Ibu pasti paham.. kakak cuma nggak mau liat adik kakak merasa bersalah, kakak yakin ibu pun demikian."
"Jadi, jangan pernah berpikir Ibu nggak bahagia memiliki kamu, atau merasa kamu belum bisa bahagiain Ibu.. jangan pernah berpikir seperti itu, karena bagaimanapun harapan seorang Ibu hanya satu. Melihat semua anaknya dapat bahagia."