Gadis bermata indah itu mulai menfokuskan pandangannya, beberapa jam telah berlalu semenjak pria yang tak lain adalah bosnya telah mengantarkan dirinya pulang kerumah dengan selamat. Renata merasa rasa penasarannya semakin besar kala Keynaru menanyakan tentang satu nama seorang gadis.
Sela?
Nama itu terus berputar dalam benak Renata.
Rasanya seperti pernah mendengar namun kapan dan dimana? Siapa Sela? Apakah nama dari mantan kekasih Key, tapi ada apa dengannya? Kenapa dia menanyakannya pada ku? — batin Renata terus menanyakan hal-hal yang bahkan dia sendiripun tidak tahu jawabannya.
Semakin banyak diam maka semakin banyak pula pertanyaan yang timbul di dalam pikiran sang gadis.
Sibuk melamun sampai tidak sadar bahwa ponselnya terus berbunyi, Renata lalu mengecek notif yang masuk yang ternyata adalah notif dari grup yang berisi sahabat-sahabatnya.
Tim Ribut
Inka : Jadikan ikut?
Safanah : awas aja kalau gak jadi Re..
Anda : berisik ih, masih ada 1 jam.. lagian kenapa harus ikut sih aku?
Safanah : kan udah janji kamu tuh!
Inka : pokoknya kalau kamu gak datang aku suruh Syi sama Saka buat nyulik kamu yaa..
Anda : udah mulai nggak waras ya kalian?
Inka : nggak peduli mlee..
Tersenyum memandang layar ponsel yang masih menyala, Renata tidak pernah lelah bersyukur memiliki sahabat seperti Inka dan Safanah.
Anda : guys..
Inka : ih pasti ada gosip nih? Ada apa spill.. spill..
Safanah : mulai deh..
Anda : kalian kenal Sela?
Inka Sedang Mengetik..
Safanah : Sela?
Anda : iya.. kenal Sa?
Inka : kau lupa Re?
Anda : ...
Inka : cewek yang dulu pernah si Tala ceritain bukan sih?
Safanah : ih jijik baca namanya.
Inka : terus aku harus manggil dia siapa dong?
Safanah : dia yang tidak boleh di sebutkan namanya.
Inka : Hahahahahaha.. kayak Voldemort di Harry Potter.
Anda : yang manasih?
Safanah : ituloh.. yang dulu katamu kamu suruh belajar dari cara dia berpakaian, yang katanya si nggak boleh di sebutkan namanya fashion mu kurang Re.
Anda : Sela Alinka?
Inka : binggo!! Seorang model yang ternyata satu agensi dengan si anu.
Safanah Sedang Mengetik..
Inka : guys udah dulu yaa, Syi udah jemput nih.. akukan harus nyiapin buat nanti, byee pokoknya kamu harus datang Re.
Anda : iya bawel.
Safanah : kenapa sama dia? Kamu ketemu? Atau keinget aja? Gak usahlah ngubek-ngubek masa lalu Re, aku gak mau liat kamu terpuruk lagi.
Membaca pesan dari Safanah membuat Renata sedikit tersentuh, nyatanya ia masih memiliki seseorang yang sangat menyayangi juga mengkhawatirkan dirinya.
Anda : bos ku kenal dia.. aku gak tau apa hubungan mereka, tapi sepertinya lebih dari yang ku bayangkan.
Safanah : gak perlu kamu ambil pusing, sekarang fokus sama masa depanmu Re. Yaudah aku siap-siap dulu yaa Saka udah chat nih.
Anda : yaaps, sampai ketemu di rumah Syie. Byee..
Safanah : byee..
Apa hubungan Keynaru dengan Sela, lalu apa hubungan Sela dengan Tala? Semakin tidak ingin memikirkannya Renata malah semakin kepikiran. Membuat dirinya secara reflek mengacak kasar rambut indahnya.
"Enak ya punya jemputan.." ucap Renata kala membayangkan Safanah juga Inka yang sama-sama di jemput oleh kekasih hati mereka.
"Dia seperti apa ya? Tapi nggak mungkin mereka ngenalin aku sama orang yang nggak jelas. Tapi.." ucapannya terhenti, pandangan Renata sedikit menerawang. Mengingat beberapa kejadian yang terjadi beberapa hari lalu.
"Bagaimana dengan Keynaru kalau aku tertarik dengan pria yang akan di kenalkan kepada ku?"
Memandang kosong ke arah depan, Renata sungguh pusing memikirkan apa yang akan orang tuanya katakan juga, lalu dengan Nathan. Bagaimana jika sang kakak dengan tegas menentang pria yang Renata sukai itu.
"Ingat Re, realita tidak selamanya indah.. lagi pula kau belum bertemu dengannya, jadi nggak perlu berandai-andai terlalu jauh."
Ucap Renata yang telah bangkit dari posisinya semula, gadis itu lalu bergegas menuju kamar mandi meskipun rasanya malas tapi ia telah berjanji akan datang ke acara para sahabatnya.
Semoga keberuntungan berpihak kepada ku. — batin Renata
**
Gadis berambut panjang yang memiliki warna hitam kelam itu kini telah sampai pada rumah yang tidak asing baginya.
Rumah salah satu pemilik Stasiun Televisi juga Direktur salah satu agensi yang cukup terkenal di kalangan Aktor juga Model.
Syie Andiwarna Bintang. Memiliki segalanya tidak membuat pria itu harus bersusah payah memilih seorang teman, dia juga termasuk seorang pria yang cukup ambisius. Bukan hanya di bidang pekerjaan namun juga di status percintaannya dengan Inka.
Sempat mendapat penolakan dari keluarga Inka yang notabene nya hanya seorang pemilik toko bunga biasa, ayah Inka menolak keras Inka memiliki hubungan dengan seseorang yang mempunyai nama yang begitu besar.
Ayah Inka hanya tidak ingin terjadi apa-apa kepada anaknya, sebab ia sangat tahu dunia yang Syie geluti adalah dunia yang cukup kejam. Bukan hanya rekan bisnis namun juga banyaknya fans yang terlalu di butai dengan rasa suka juga ambisi ingin memiliki membuat beberapa insan harus sampai menghujat beberapa gadis yang dekat dengan pria idola mereka.
Namun dengan tekad yang Syie punya juga rasa kesungguhannya, sungguh-sungguh mencintai Inka pria itu tidak gentar apalagi mundur. Justru dirinya semakin gencar membuat keluarga Inka percaya dan memberikan restu terhadap hubungan mereka.
Entah dengan izin Tuhan atau Syie menggunakan ilmu pelet itulah yang sempat Renata pikirkan, namun keluarga Inka akhirnya luluh dan memberikan izin kepada Syie untuk menjalin hubungan dengan putri mereka, namun dengan satu syarat : sekali saja Syie menyakiti bahkan berkhianat, jangan harapkan kesempatan kedua ataupun belas kasih dari keluarga sang gadis. Dan Syie menyanggupi itu semua.
Dari situlah Renata merasa Syie pantas untuk sahabatnya. Karena Syie tidak mungkin semudah itu melepaskan Inka, namun jika itu terjadi maka Renata yang akan lebih dulu menghajarnya. Itulah yang Renata ucapkan kepada Syie juga Inka.
Menekan bell yang berada di samping pintu, Renata berdiri menunggu pintu itu di buka.
Tidak perlu menunggu lama, dalam hitungan menit pintu yang sebelumnya tertutup telah terbuka dan memperlihatkan seorang wanita paruh baya.
"Bi.." ucap Renata lalu memegang tangan wanita itu.
"Jangan non Renata, Bibi bukan siapa-siapa ndak perlu salam toh.."
"Eh, Bibi kan tetap orang tua.. ayo Re mau salim dulu."
Dengan sedikit ragu wanita paruh baya yang tak lain adalah Bi Inah asisten rumah tangga sekaligus orang yang telah merawat Syie dari kecil selain ibunya.
"Non Renata suka bikin Bibi gak enak."
"Gak apa-apa dong, kenapa harus nggak enak.." ucap Renata setelah selesai menyalami tangan renta milik Bi Inah.
"Teman-teman udah di dalam Bi?"
Wanita paruh baya itu mengangguk, "sudah dari setengah jam yang lalu, Non."
Tanpa menunggu lama Renata lalu berjalan memasuki rumah besar itu. Meninggalkan Bi Inah yang sepertinya berjalan menuju arah dapur.
Renata bisa melihat kebahagian yang terpancar dari raut wajah para sahabatnya, entah apa yang menjadi pembahasan mereka tapi terlihat seperti sangat seru sekali.
"Lho.. kapan datangnya? Kok gak chat?" Ucap Safanah agak kencang kala melihat Renata sudah terduduk di salah satu kursi taman.
Rumah keluarga Syie memang sangat besar, namun pria berkulit putih itu lebih sering tinggal seorang diri atau kadang bersama Bi Inah saja, karena orang tuanya tinggal di Negara berbeda; Negeri Sakura.
Bukan hanya halaman depan yang begitu luas, namun juga halaman belakangnya yang juga terlihat begitu indah. Selain hamparan rumput yang terlihat sangat terawat di sana juga banyak sekali bunga yang indah dan menyejukan mata tentunya.
Renata duduk di salah satu kursi dari 7 kursi yang terlihat masih kosong tidak ada pemiliknya, tidak jauh dari tempat Renata terduduk ada salah satu kursi panjang berbahan kayu jati yang sudah menyatu dengan mejanya. Ia berbikir mungkin dirinya juga sahabatnya nanti akan bersama-sama makan di sana.
"Memangnya aku bayi harus di jemput segala?"
"Kau kan memang bayi besar Re" ucap Inka berjalan mendekat ke arah Renata.
"Minum?" Tawarnya lalu menyodorkan satu gelas Orange Juice.
"Makasih ka."
"Cuma kita aja?" Tanya Renata kepada Inka yang masih tetap terduduk di samping dirinya.
"Masih ada 2 lagi tapi belum datang."
Renata lalu mengangguk tanda mengerti, "aku harus bantu-bantu juga?"
Inka yang mendengar itu lalu menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tamu spesial cukup duduk dan menikmati hidangan saja."
"Sudah mulai kumatnya." Ucap Renata memutar bola matanya bosan.
"Serius. Kau duduk manis saja di sini, aku akan kembali membantu yang lain.. diam dan tunggu pangeran berkuda putih mu datang." Ucap Inka lalu tersenyum jahil ke arah Renata.
Bangkit dari kursinya gadis berambut panjang namun selalu di ikat ala buntut kuda itu lalu berlari kecil menuju pria yang sedang memanggang beberapa daging tak jauh dari tempat Renata terduduk.
Renata yang terus melihat interaksi antara Inka dan Syie, Safanah dan Saka begitu iri namun hatinya sangat bahagia.
Nggak masalah walau hanya aku yang merasakan luka. — batin sang gadis.
Tersenyum begitu manis entah apa yang membuat gadis bermata indah itu tersenyum, namun yang ia tahu bahwa dirinya begitu bahagia mengetahui bahwa sahabatnya mendapatkan pria yang benar-benar mencintai mereka.
Aku sudah mengatakan untuk memulainya dengan dirimu. Kata-kata itu terus terngiang di otak Renata, kata yang Keynaru ucapakan saat mereka sedang makan di salah satu kedai bakso.
Memejamkan erat matanya, Renata lalu menatap birunya langit yang begitu indah.
Apa aku harus memulai lagi? — batinnya berucap.
Teriakan Saka membuyarkan lamunan Renata. Pria itu lalu melambaikan tangan ke arah pintu yang menghubungkan ruang tengah rumah Syie dan halaman belakang.
Menoleh ke arah yang Saka tuju, mata Renata menangkap seseorang yang sedang berjalan menuju ke arah Saka. Pria yang nyatanya familiar dari sudut pandang Renata itu terus berjalan menuju Saka.
"Sibuk banget dirimu!" Ucap Saka lalu memukul bahu sebelah kiri sang pria yang masih terus tertawa.
"Yaa namanya juga artis.."
"Kurang terkenal." Ucap Saka memotong ucapan pria yang sepertinya memiliki tinggi sekitar 180 cm, memiliki gigi taring di sebelah kiri dan juga memiliki wajah yang cukup tampan. Renata masih mencerna dan menebak siapa pria yang seakan pernah ia lihat atau mungkin bertemu secara tidak sengaja pikir sang gadis.
"Sial!" Umpat sang pria namun tidak pernah menghilangkan tawanya.
Saka yang melihat Renata terus menatap ke arah mereka seakan paham, lalu kekasih dari Safanah itu mendekatkan diri ke arah pria yang masih berdiri di hadapannya.
Membisikan sesuatu yang tentunya tidak dapat Renata dengar. Tanpa hitungan menit Saka dan pria itu lalu berjalan menuju dimana Renata berada.
Dirinya seakan salah tingkah, Renata berpikir apakah ia terlalu mencolok saat sedang melihat interaksi antara Saka dan pria yang tidak ia kenal namun begitu familiar di matanya.
"Re.." panggil Saka.
"Ah iya.."
"Kenalin ini sahabat ku juga, cuma emang dia jarang banget kelihatan.." melirik ke arah pria yang masih tersenyum ke arah Renata "sibuk. Maklum Re dia Youtubers."
Mata indah sang gadis membola.
Binggo!! — batin Renata seakan mengucapkan kata itu.
"Dia.."
"Akib?" Ucap Renata memotong ucapan Saka.
"Lah udah kenal toh?"
Renata menggeleng dengan cepat "anak-anak cowok di kelas ku selalu nonton dia Ka."
Pria yang di sebut bernama Akib itu lalu tertawa. Tawa yang renyah pikir Renata.
"Akiba Ramadhan, kamu bisa panggil aku Akib, Kiba, Akiba atau Rama bebas asal jangan sayang aja." Lalu mengedipkan satu matanya.
Renata yang mendengar itu reflek mengernyitkan kedua alisnya, seketika penilaiannya terhadap pria bernama Akib ini anjlok. Renata yang sebelumnya berpikir bahwa pria di depannya adalah pria pendiam namun ternyata ekspetasi memang tidak pernah seindah realita.
"Santai.. santai.." ucap Akiba
"Aku udah punya pasangan kok.. sorry bukannya nggak tertarik sama kamu, tapi aku tipikal cowok setia." Ucap Akiba lalu menaik turunkan kedua alisnya.
Saka yang melihat raut wajah Renata berubah lalu mengusap kasar wajah tampannya.
"Bukan dia Re.."
Renata dengan cepat menoleh ke arah Saka. Ia mengerti dengan apa yang Saka maksud.
"Mungkin sebentar lagi dia datang.. dia termasuk orang yang super sibuk. Sabar yaa.." ucap Saka lalu tersenyum menatap Renata, tidak lupa dirinya menaik turunkan alis membuat Renata menarik napas panjang.
"Oh kamu Renata?"
Gadis itu mengangguk.
"Beruntung banget si Rubah dapet cewek imut macam gini." Ucap Akiba lalu menatap Renata dari atas sampai ke bawah lalu kembali ke atas lagi.
"Jaga pandangan anda.. mau ku hubungi Tamara nih?"
"Jangan suka mancing keributan yaa.."
"Tamara?" Tanya Renata.
"Iya pacarnya nih orang." Ucap Saka lalu merangkul leher Akiba.
Renata kembali mengangguk lalu menatap Akiba.
"Orang begini bisa laku juga ya.."
"Oiii.. cakep-cakep pedes juga yaa omongannya nih cewek." Ucap Akiba lalu menatap Renata dalam.
Saka lalu tertawa, sepertinya dirinya sangat puas dengan apa yang Renata ucapkan.
"Kalian ngobrol dulu yaa, aku mau bantu Safa dulu." Ucap Saka lalu dengan cepat berjalan menjauh meninggalkan Renata juga Akiba yang masih terduduk di kursinya masing-masing.
"Heii hati-hati sama dia." Ucap Akiba, Renata paham 'dia' yang pria di hadapannya maksud adalah pria yang mungkin akan di kenalkan oleh para sahabatnya nanti.
Renata yang tidak menjawab namun terus menatap Akiba, tatapan yang mengisyaratkan bahwa dirinya menunggu kelanjutan atas apa yang pria itu katakan.
"Dia agak.."
"Agak kenapa?"
"Agak.." ucapan Akiba terpotong kala dirinya seperti melihat sesuatu atau mungkin seseorang.
Atau apakah seseorang yang sedang mereka bicarakan telah datang?
Akiba yang memang duduk di samping Renata dan memilih kursi yang menghadap langsung ke arah pintu masuk itu lalu segera berdiri dari posisinya.
"Tuh dia.." ucap Akiba kepada Renata, namun mata sang pria terus menatap ke arah yang Renata tidak dapat melihat.
Melambaikan tangannya, Renata paham bahwa Akiba sengaja memanggil 'dia' yang Akiba maksud sebelumnya.
Menoleh ke arah tempat Akiba terus memandang. Mata indah sang gadis membola kala melihat siapa pria yang baru saja tiba di kediaman Syie dan bergabung di acara barbeque mereka.
"Kamu!!"