Brug! Julian tersungkur, napasnya memburu tertahan di ulu hati yang kembali dihantam kepalan tangan besi Devan. Meski tubuhnya remuk, tatapan matanya tetap bersikeras—sebuah pengabdian yang terasa seperti kutukan. "Saya hanya tidak ingin Anda hancur karena skandal, Pak," bisik Julian, suaranya parau menahan perih. Devan mendecih sinis, merapikan lengan kemejanya yang sedikit berkerut. "Sejak kapan lo punya otoritas untuk mencemaskan hidup gue, Julian? Lo cuma pion, pesuruh yang mengais uang dari gue. Jangan berlagak menjadi raja di papan catur." Julian mencoba bangkit, setiap gerakannya diiringi rintihan halus. Namun, Devan tidak memiliki setetes pun empati tersisa. Ia menekan interkom di dinding dengan gerakan malas. "Keamanan, seret sampah ini keluar dari gedungku. Pastikan dia tidak

