Sinar matahari pagi yang menembus celah gorden penthouse terasa seperti sembilu bagi Nara. Matanya mengerjap, namun dunia di sekitarnya masih terasa bergoyang. "Udah bangun ternyata," suara bariton itu memecah kesunyian. Nara tersentak. Ingatannya buram, sepotong-sepotong seperti film lama yang rusak. Ia menoleh dan mendapati Devan duduk tenang di kursi armchair, kakinya menyilang dengan angkuh, sementara matanya yang tajam mengunci Nara tanpa ampun. "Ah!" Nara mengerang pelan saat kepalanya terasa seolah dihantam godam. Rasa pusing yang hebat beradu dengan mual yang merambat naik dari lambungnya. Aroma mulutnya sendiri yang berbau alkohol membuatnya ingin mengutuk dirinya sendiri. Devan bangkit, mendekat ke tepi ranjang dengan langkah yang tenang namun mengintimidasi. "Kapan ... kapa

