“Devan … berhenti! Aku mohon!” Suara Nara melengking di antara deru mesin yang meraung. Ia mencengkeram handle di atas pintu mobil hingga buku jarinya memutih. Di sampingnya, Devan tampak seperti dewa kematian yang sedang memacu kereta kencana. Matanya lurus menatap aspal, kakinya terus menekan pedal gas seolah nyawa mereka hanyalah angka-angka yang tidak berarti di speedometer. Setiap kali Devan menyalip kendaraan lain dengan jarak hanya beberapa inci, perut Nara bergejolak. Rasa mual mulai naik ke tenggorokannya. Makanan dari warung tenda tadi seolah memberontak, siap keluar kembali. “Devan … kumohon, jangan begini,” isak Nara. Tubuhnya bergetar hebat. Devan tetap membisu. Wajahnya yang kaku tidak menunjukkan belas kasihan sedikit pun. Puncaknya adalah ketika sebuah truk kontainer me

