“Sebentar Non, saya bilang dulu sama–” “Enggak usah. Kenapa harus bilang? Aku … tadi Devan marah karena tamunya. Cuma ingin cari angin sama kamu,” sanggah Nara cepat, memotong kalimat Yeni dengan nada setegas mungkin. “Tapi Non–” “Kamu mau ikut kena semprot juga? Kamu tahu sendiri bagaimana suasana hati Tuanmu kalau sedang buruk,” Nara menekan kalimatnya. Ia tak tahu sejak kapan dirinya menjadi sepintar ini mengompori orang, namun melihat keraguan di wajah Yeni, ia tahu umpannya berhasil. Yeni tampak menelan ludah, membayangkan amarah Devan yang bisa melumat siapa saja. “Non, emang Non mau liat apa sih? Namanya juga gedung apartemen. Non kan katanya diajak ke pesta sama Pak Devan.” Nara enggan menjawab jujur. Ia membuang muka ke arah jendela besar yang menampilkan langit Jakarta

