Deg deg deg. Nara memejamkan mata sesaat, napasnya ikut tertahan. Begitu tangan Julian menyentuh tumitnya, Nara tiba-tiba memekik kecil dan menarik kakinya dengan gerakan dramatis. "Ah! Hati-hati!" Julian berhenti. "Ada apa?" Nara duduk di kursi tunggu dengan wajah yang ia buat sepucat mungkin, matanya berkaca-kaca menatap Devan yang sedang memperhatikan dari kejauhan. "Kakiku ... lecet parah karena sepatu ini. Tadi saat di galeri aku memaksakan jalan. Jangan ditarik kasar, itu sangat perih." Pengakuan Nara dengan suara lirih bergetar bukanlah sebuah akting, melainkan memang dia memanfaatkan ketakutannya. Nara perlahan mengangkat kakinya sendiri, memutar tumitnya untuk menunjukkan kemerahan yang ia buat sendiri dengan menggesekkan kaki di dalam lift tadi. Ia melepas sepatunya sendiri

