Devan mendecih, sebuah suara sarkastik yang memotong keheningan kamar. Tatapannya menggelap, seolah ada badai yang tertahan di sana. “Buat apa kamu tanyakan b******n itu, Nara? Apa dia masih memenuhi isi kepalamu?” Nara tertegun, napasnya tertahan di kerongkongan. “Bukan begitu, aku hanya ...” Kalimatnya menguap. Ingatan tentang kejadian kemarin masih menyisakan rasa perih yang nyata. Tanpa peringatan, tangan Devan bergerak, menyentuh leher Nara dengan gerakan yang posesif. Seketika, tubuh Nara menegang; urat-urat di lehernya tertarik kaku, membuatnya kesulitan bahkan hanya untuk sekadar menghirup udara. “Kamu liat ini?” tekan Devan, suaranya rendah dan sarat akan geram yang mematikan. “Sentuhan b*****h itu hampir saja membuat aset berhargaku cacat. Dia berani mengotori apa yang menjadi

