Suasana di dalam kamar itu mendadak terasa sesak, seolah oksigen berebutan keluar melalui celah jendela. Yeni memecah keheningan dengan suara ragu, "Non, mau mandi sekarang?" Nara tidak langsung menyahut. Sepasang matanya melirik penuh kecemasan ke arah sudut ruangan. Di sana, Devan bertahta di meja kerjanya, tampak tenggelam dalam tumpukan laporan seolah keberadaan Nara dan Yeni hanyalah latar belakang yang tak berarti. Pria itu secara impulsif memindahkan ruang kerjanya ke dalam kamar, menciptakan aura d******i yang tak kasat mata namun mencekik. Yeni pun terjebak dalam kecanggungan yang serupa. Ia melirik bosnya yang masih bergeming, merasa seperti penyusup di wilayah kekuasaan Devan. "Aku ... aku mau mandi, sendiri," gumam Nara lirih, mencoba mencari sisa keberaniannya. "Kamu lupa

