ALBY memandang pintu yang dua jam lalu dibanting Laras, kakinya terasa seperti karet dan telinganya berdenyut karena kalimat-kalimat Laras terus saja menggema. Pengecut. Berjuang. Dia mengalihkan pandangan ke iPhone dan menyalakan benda itu, masih di halaman i********: Kania—yang mempertontonkan senyum lepas perempuan itu. Alby bersandar lemas di kursinya dan mencengkeram kuat-kuat iPhone. Kenapa semua jadi begitu berantakan? Kenapa dia tidak bisa bekerja sebaik biasanya? Kenapa orang yang selalu bisa dia ajak bicara juga pergi? Alby melemparkan iPhone ke sembarang arah. Dia menunduk dalam-dalam dengan kedua tangan semua di tengkuk. Beberapa kali dia sengaja membenturkan kening ke tepi meja kerjanya. Kenapa sangat menyakitkan? Dia merindukan Kania. Sangat. Tetepi Kania sudah senyum se

