KANIA menekan klakson keras-keras, hampir mengumpat karena kepadatan jalan ibu kota sungguh mengerikan—sementara dia berburu waktu. Dia melirik jam di pergelangan tangannya, satu jam setengah, dan dia masih mengantri membayar tol Jakarta-Tangerang. Persis saat mengetahui perjalanan masih lumayan panjang, Kania menangis dengan kedua tangan mencengkeram erat kemudi mobil, mengingat video yang akhir-akhir ini dia putar terus. *** "Mbak Nia, ada titipan," kata Mbak Riri, karyawan yang sedang bertugas menjaga bazar aksesorinya di salah satu mal besar di Jakarta Barat. "Apa nih?" tanya Kania sambil memindah tangankan amplop berwarna ungu dengan tulisan tangan To : Mbak Kania di depannya. "Nggak tau. Mbaknya nggak ngomong itu apa, tadi nungguin Mbak Kania sejam lebih kayaknya—dia muter-muter

