Di malam yang gelap dan dihiasi oleh kerlap-kerlip cahaya bintang dan bulan yang begitu indah. Terlihat dua orang lelaki sedang berdiri di atas atap rumah yang didesain menyerupai taman kecil. Angin malam berembus meniup wajah mereka dengan lembut.
Keduanya terdiam, masih sibuk dengan khayalannya masing-masing, juga merangkai kata agar saat dikeluarkan nanti tidak salah.
"Jadi apa pilihan lo?"tanya Noah seraya meminum soda kalengnya dengan pelan.
Arka mengerjapkan matanya. Manik hijaunya memandang lurus ke depan, tak perlu berbicara panjang lebar karena pastinya Noah sudah mengetahui apa masalahnya sekarang.
"Gue tetap pada tujuan yang gue ambil." Sahut Arka dengan nada tegas.
"Jika lo memilih pilihan lo sekarang maka keadaannya akan semakin bahaya. Akan ada banyak orang yang menyakitinya."
Arka kembali terdiam, dia menundukkan kepalanya. Berpikir keras dengan pilihan yang diambilnya sekarang. Dia tidak mungkin merubahnya sedangkan dirinya sudah mulai melangkah ke depan.
"Lo beneran yakin sama dia?" tanya Noah masih menatap lurus ke depan. "Jika lo enggak bisa menghadapi semua yang akan terjadi nanti, lebih baik lo mundur sekarang juga. Sebelum semuanya semakin kacau."
"Perasaan gue udah mati buat dia." Arka menelan salivanya, "saat dia mengatakan untuk gue pergi dari hidup dia, maka saat itu juga rasa cinta gue nguap entah ke mana."
"Tapi dia menyesal." Sergah Noah mengingat kembali isi pikiran seseorang. "Dia enggak seperti Mama Rachel yang lembut atau Om Adam yang baik. Dia beda, dan bisa saja dia ..."
Arka langsung memandang tajam Noah. "Apa maksud lo? Apa yang lo tahu tentang apa yang akan terjadi nantinya sama gue?" tekan Arka memaksa.
Noah tidak takut dengan gertakan Arka. Wajahnya tampak datar, tidak ada ekspresi apapun di wajahnya yang membuat Arka mengerang karena tidak bisa membaca apa yang dimaksud oleh Noah.
"Gue tahu apa yang dia bicarakan sama lo, enggak sepenuhnya dia jujur. Gue bisa rasain dan denger pikirannya kalau dia enggak suka lihat lo sama oranglain dan itu buat gue khawatir."
"Lo ragu jika gue enggak bisa melindunginya?" geram Arka kesal dengan ucapan Noah yang seolah memojokannya. "Demi Tuhan, Noah. Gue pasti melindungi orang yang gue cintai."
"Lo cinta sama dia?"tanya Noah mulai bermain kata.
Arka memejamkan matanya lalu mengangguk pelan. "Gue akui, kau gue jatuh cinta sama dia."
Noah menaikan sebelah alisnya seraya tersenyum miring. "Terlalu cepat buat jatuh cinta, Al. Apa yang lo rasain sekarang hanyalah obsesi sesaat. Bukan cinta."
Arka tak lagi marah dengan perkataan Noah. Sebaliknya, dia hanya diam seraya menundukkan kepalanya. Menarik napas lalu berkata,
"Jujur gue enggak tahu apa yang gue rasain sekarang. Rasanya hati gue senang lihat dia senyum, jantung gue berdetak cepat jika dia mandang mata gue. Rasa yang enggak pernah gue rasain sama siapapun termasuk Bintang.
"Gue sangat suka lihat dia senyum, gue seneng dia senyum karena gue. Dan ... gue enggak suka lihat dia sama pria lain, gue enggak suka mereka mandang dia dengan kagum."
Noah tampak setia mendengar setiap pengakuan yang ke luar dari bibir saudaranya. Dirinya memang tak perlu memancing Arka untuk mengaku karena pada dasarnya dia memang telah tahu perasaan Arka terhadap Cinderella–nya. Tapi dia lebih memilih tutup mulut dan bermain agar Arka mau mengakui perasaannya.
"Lo pernah bilang. 'Saat jatuh cinta instuisi lah yang bekerja bukan logika' gue akui itu memang benar. Gue jatuh cinta sama dia, entah kapan? Mungkin sejak dia nabrak gue dan ninggalin sebelah flat shoesnya.
"Dan gue nyadar sekarang. Setelah gue bicara sama Bintang dari hati ke hati, apa yang gue rasain selama ini pada Bintang hanyalah perasaan obsesi dan perasaan sayang terhadap adiknya. Mungkin karena dari dulu gue selalu jadi pelindungnya dan menyalah artikan perasaan yang gue rasain."
"Jadi?"
"Gue akan tetap pada keputusan gue, enggak akan berubah."
Andai Arka mau memperhatikan wajah Noah sekarang, pasti lelaki itu akan bertanya-tanya tentang apa yang membuat Noah terlihat tegang dan gusar. Berkali-kali dia menarik napas panjang menghembuskannya dengan kasar. Dalam otak dia berpikir keras tentang keputusan yang diambil oleh Arka. Dia tahu semuanya tidak akan sama lagi setelahnya. Tapi jika dia menghalangi Arka, maka saudaranya itu akan sedih.
Arka pantas untuk mendapatkan kebahagiaannya. Dan setiap manusia pantas untuk berbahagia.
Noah memiringkan kepalanya ke satu sisi, mata hitamnya menatap Arka seolah mengejek. "Walaupun nantinya akan ada banyak halangan serta kesedihan yang lo alamin?"tanyanya.
Arka mengerutkan keningnya bingung, tak mengerti dengan maksud Noah. "Apa maksud lo?"
Noah terkekeh pelan. "Ingat! Ini bukan dunia Disney yang akan berakhir dengan bahagia atau meraih cintanya dengan mudah. Ini adalah dunia kita. Dunia yang penuh dengan sandiwara dan kepicikan setiap orang. Gue saranin lo berhati-hati."
Mereka berdua kembali terdiam, membiarkan angin malam menerpa wajah tampan mereka. Kedua mata yang memiliki iris berbeda itu menatap hamparan kota Jakarta dari atas atap rumah. Lampu-lampu yang menerangi setiap pemukiman rumah tampak kecil dan terlihat lebih mirip seperti bintang bumi.
Keduanya menghembuskan napas panjang bersamaan, seolah sedang bekerja sama untuk mencari jawaban yang begitu sulit dan sama-sama kesulitan saat mengerjakannya.
"Gue ikut seneng dengan apa yang lo pilih sekarang. Lo tahukan Papa Raka pernah bilang dulu pada kita 'Perjuangkanlah apa yang patut untuk diperjuangkan. Lindungilah dia, jika memang dia sangat berharga lebih dari apapun' gue percaya kalau lo enggak akan nyerah sama cinta lo."
Noah berbalik dan berjalan pergi, tapi dia menghentikan langkahnya, masih memunggungi Arka. "Bersiap-siaplah! Karena mulai sekarang semuanya tidak akan sama lagi seperti sekarang. Lo harus lebih waspada lagi buat ngelindungi dia." Setelah mengucapkan hal itu, Noah benar-benar pergi meninggalkan Arka yang masih berdiri di belakangnya.
***
Perlahan Arka masuk ke dalam sebuah kamar bernuansa putih yang kebetulan pintunya tidak dikunci sama sekali. Mata zamrudnya melihat seorang wanita yang sedang tidur pulas di ranjang yang berukuran cukup besar walau tak sebesar ranjang miliknya.
Ada senyuman kecil di wajah tampan Arka ketika matanya terus memandang Cinderella-nya. Dia duduk di samping ranjang dan menggenggam tangan Cinderella-nya yang sangat lembut, membuatnya merasakan nyengat yang cukup membuatnya terkejut untuk beberapa saat.
"Aku tidak tahu kenapa aku memilihmu, Ara?"tanya Arka pada dirinya sendiri. Dia masih ingat betul dengan pertemuannya dengan Bintang tadi malam yang membuatnya mengambil keputusan tanpa pernah memikirkannya terlebih dahulu.
"Tapi hanya kamu yang bisa membuatku seperti ini." Arka menarik napas panjang. "Noah benar, akan ada banyak hal yang harus ku lewati agar aku bisa bersamamu. Tapi, apapun yang terjadi nanti, percayalah kalau kita pasti akan bersama. Aku akan selalu memperjuangkanmu, aku akan selalu melindungimu."
Arka kembali mengamati wajah cantik Arafah ketika tidur. Sungguh sangat cantik dan menggemaskan. Dia kembali tersenyum, merasakan perasaan bahagia yang meledak dalam hatinya sekarang. Jemarinya menyingkirkan anak rambut yang jatuh di bagian wajah depan Arafah.
"Aku senang kamu datang, karena itu membuatku sadar akan perasaanku pada Bintang. Terima kasih untuk semuanya, Ara."
Lalu Arka menyimpan kotak yang berisi flat shoes hitam lusuh milik Arafah yang dulu pernah ditinggalkan oleh Arafah. Dan kini flat shoes itu sudah lengkap. Kanan-kiri. Kemarin malam dia memerintahkan anak buahnya untuk mengambil sebelah flat shoes milik Arafah dan berniat untuk memberikannya besok.
Tapi sepertinya dia tidak bisa menundanya. Arka tidak sabar ingin melihat ekspresi Arafah ketika mendapati flat shoes hitam kesayangannya telah kembali ke pangkuannya.
Arka menggelengkan kepalanya. Merasa bodoh dengan apa yang telah dilakukannya.
"Selamat malam, semoga bermimpi yang indah. Aku ... mencintaimu."
Arka mengecup kening Arafah pelan tapi lama. Setelah cukup puas dia pergi ke luar dengan berbagai perasaan yang berkecamuk dalam hatinya.
***