Pangeran Air menambah cahaya api yang mulai redup. Sedangkan Putri Api sengaja memadamkan api yang sudah dihidupkan Pangeran Air.
Putri Api terbahak melihat api yang selalu dipadamkannya.
"Lihat, ada apa itu ...."
Putri Api langsung menoleh ke belakang, kesempatan itu diambil oleh Pangeran Air membakar semua bor dan memperkuat apinya agar tetap bertahan.
"Ah, tidak ada apa-apa." Putri Api kembali menoleh. Ia terdiam sebentar melihat api yang dinyalakan oleh Pangeran Air di bor tersebut.
Tiba-tiba bibir Putri Api tertarik untuk tersenyum. Pipinya memerah menahan senyuman.
"Ap-apa maksudnya?"
Pangeran Air yang tak mengerti beralih menatap bor yang telah dihidupkannya. Mata Pangeran Air melotot melihat api yang dinyalakannya berbentuk simbol hati.
Ah, apa karena ini gadis itu tersenyum salah tingkah?
"Ak-" Pangeran Air jadi gugup sendiri tak tahu apa yang dikatakannya.
"Lihat ini." Putri Api memutar tangannya, lalu memunculkan sebuah air yang mengalir di tangannya membentuk huruf D dan P.
"DP?" tanya Pangeran Air.
"Dafta dan Pricil."
Pangeran Air tersenyum samar bahkan tak terlihat. Mau salah tingkah pun rasanya akan gengsi.
"Ada-ada saja," titah Pangeran Air.
"Kau suka, 'kan?"
"Suka apa?"
"Ini apa?"
"Ini maksudnya?"
Putri Api gemas sendiri dibuatnya. Ternyata laki-laki di hadapannya ini tidaklah peka. Sudah dingin, datar, juga cuek. Untung Putri Api memiliki kesabaran tingkat tinggi.
"Kau suka aku, kan?" tanya Putri Api.
"Hah?"
"Ah, sudahlah." Putri Api merajuk. Pipinya mengembung. Melihat itu Pangeran Air jadi bingung sendiri terhadap sikap Putri Api.
"Apa salah pada kau?" tanya Pangeran Air yang tak mengerti apa-apa.
"Ah, aku sedang kesal. Diam dulu!"
"Oke."
"Kau itu sudah dingin, ternyata tak peka juga," ucap Putri Api.
....
Pangeran Air hanya diam.
"Hari sudah malam. Kau kembali ke ruangan!"
....
"Hei. Kenapa kau diam saja?"
Tadi gadis itu sendiri yang menyuruhnya diam.Ingin sekali rasanya Pangeran Air membakar lorong istana ini.
"Hei! Kenapa kau diam!"
"Kau yang menyuruhku untuk diam."
"Tapi, tak sepantasnya kau diam saja saat aku berbicara."
What?
Tarik napas, lalu buang. Jangan lupa mengusap d**a, itulah yang dilakukan oleh Pangeran Air.
"Jadi, kau suka aku?"
"Hah?"
"Suka tidak?"
"Ya."
Putri Api terdiam sebentar. Mencoba mengulang memori yang baru saja terjadi.
"Benarkah?"
"Ya."
"Kau suka aku?"
"Ya."
"Benarkah?"
"Ya."
"Kau suka aku?"
Pangeran Air menatap datar. Sampai kapan obrolan tak jelas ini akan berakhir?
"Ya."
"Ben--" Pangeran Air langsung saja meletakkan jarinya di bibir gadis itu agar berhenti berbicara.
"Ya. Aku menyukaimu," bisik Pangeran Air tepat di telinga Putri Api yang membuat gadis itu terdiam. Ia harus mengumpulkan oksigen banyak-banyak, karena ia kesusahan bernapas.
"Te-terima kasih," jawab Putri Api yang tak tahu harus berkata apa.
"Kenapa kau berterima kasih?"
"Ak-aku tak tahu."
"Apakah kau juga menyukaiku?" tanya Pangeran Air menatap mata Putri Api. Gadis itu semakin tak bisa berkutik.
"Ak--"
"Terima kasih," ucap balik Pangeran Air.
"Ken-kenapa kau berterima kasih?" tanya balik Putri Api.
"Karena aku sudah tahu jawabannya."
"Apa?" tanya Putri Api.
"Tentu kau juga menyukaiku."
"Tidak." Alis Pangeran Air bertaut.
"Terus? Berarti kau tak suka denganku?"
"Bukan itu jawabanku," bantah Putri Api.
"Makanya dengarkan dulu aku sampai selesai berbicara!"
"Ya sudah apa jawabanmu."
"Aku mau kau mengulang pertanyaanmu."
"Hah?"
"Ulang saja. Biar aku bisa memberikan jawaban yang tepat."
"Oke."
Pangeran Air kembali menatap mata Putri Api.
"Apakah kau menyukaiku?"
"Tidak."
"Kenapa?" tanya Pangeran Air. Putri Api menarik kedua tangan Pangeran Air, lalu menggenggamnya.
"Karena aku mencintaimu."
BERSAMBUNG
HALLO-HA. YA AMPUN AKHIRNYA BISA UP NEW CHAPTER Hehe.
Terima kasih yang udah mau baca, semoga suka, ya.
Aku sempetin up padahal bentar lagi mau ujian wkwkwk.
Salam,
~Amalia Ulan