"EMPU EYANG?" teriak keduanya.
Empu Eyang tersenyum. Ia sejak tadi sudah melihat apa yamg dilakukan Putri Api dan Pangeran Air. Empu Eyang berdecak kagum, sangat bangga melihat api yang dihidupkan oleh Pangeran Air. Akhirnya, api unggun itu bisa disentuh oleh sang Pangeran Api seaungguhnya.
"Salam hamba, Yang Terhormat Empu Eyang," salam keduanya membungkukkan badan. Hampir saja keduanya lupa memberikan salam.
"Salam kembali, Putri dan Pangeran Van Vuur Water," jawab Empu Eyang.
"Api yang kau hidupkan bagus, Pangeran Air," ucap Empu Eyang yang membuat Pangeran Air terkejut.
"Ap-apakah Empu Eyang melihatnya?"
"Tenru saja."
"Mohon ampun, Empu Eyang. Izinkan hamba bertanya, kenapa dia yang bukan keturunan Negeri Vuurland bisa menghidupkan api unggun? Sedangkan aku yang menjadi Putri Mahkota tak mampu melakukannya. Ini sungguhlah tak adil."
"Tenangkan diri kau dulu, Putri Api."
Putri Api menghela napas sebentar lalu menunduk hormat.
"Percaya atau tidak kalian adalah sepasang bayi yang di--"
Alis Pangeran Air bertatut, sangat bingung apa yang dimaksudkan Empu Eyang.
"Ayahanda, sekarang bukanlah waktu yang tepat membongkar semuanya," ucap Permaisuri Delita dari jauh. Ya mereka sejak tadi berkomunikasi batin.
"Sepasang bayi apa, Empu Eyang?" tanya Putri Api dibuat penasaran.
"Lupakan." Empu Eyang hampir saja buka mulut.
"Ya sudah. Hari sudah malam, kembali ke ruangan. Putri Api, antarkan Pangeran Air ke ruangan tamu istana."
"Baik, Empu Eyang. Laksanakan."
***
Putri Api mengantarkan Pangeran Air ke ruang tamu istana. Ia membukakan pintu ruangan lalu mempersilakan Pangeran Air masuk.
"Terima kasih."
"Ya. Semoga kau merasa nyaman."
"Aku akan pulang besok pagi."
"Ya. Tetapi kata Ayahanda kau disuruh sarapan pagi dulu bersama keluargaku."
"Oke."
"Ya sudah. Aku balik."
"Ya."
Putri Api berbalik, tetapi tangannya dicengkal oleh Pangeran Air.
"Ada apa?" tanya Putri Api menoleh menatap mata tajam Pangeran Air.
”Aku masih belum puas mengelilingi istana bersama kau."
"Lalu, kau mau kuajak berjalan-jalan lagi?"
"Ya. Apakah boleh?"
"Tentu saja. Ayo!" ajak Putri Api menarik tangan Pangeran Air.
Mereka berlari menyusuri lorong istana yang bersinar terang oleh bor api yang menyala di sepanjang lorong.
Pangeran Air menambah cahaya api yang mulai redup. Sedangkan Putri Api sengaja memadamkan api yang sudah dihidupkan Pangeran Air.
Putri Api terbahak melihat api yang selalu dipadamkannya.
"Lihat, ada apa itu ...."
***
BERSAMBUNG
Terima kasih yang udah mau baca. Jangan lupa vote dan komen, ya.
Thank u guys
~Amalia Ulan