Masalah Tahta

831 Kata
"Karena aku mencintaimu." Pangeran Air hanya bisa terdiam tak tahu harus berkata apa. Bibirnya tertarik untuk menyunggingkan senyuman. Cinta? Selama hidupnya baru kali ini Pangeran Air baru mengenal satu kata lima huruf itu. Apakah ia juga mencintai Putri Api? "Kalian berduna kenapa masih di sini?" tanya sebuah suara yang membuat Pangeran Air dan Putri Api terkejut. "I-ibunda ...." "Masuk ke kamar kalian sekarang!" "Ba-baik, Ibunda." "Baik, Yang Mulia." Permaisuri Raqia pun mengikuti Putri Api ke kamarnya. Ia perlu berbicara dengan putri semata wayangnya itu. *** Tak bisa dipungkiri jika melihat pemuda yang menjadi teman Putri Api tadi membuat perasaan aneh tergambar di hati Raja Rowned. Ia merasa kehangatan dan kenyamanan saat memandang pria itu. Entah kenapa Raja Rowned melihat Dafta seperti duplikat dirinya. "Ada apa, Yang Mulia? Kenapa kau tak kunjung tertidur?" tanya Permaisuri Raqia. "Aku selalu terpikirkan pemuda laki-laki tadi. Aku merasa, ada sesuatu dalam dirinya yang dekat denganku." Permaisuri Raqia mengerutkan keningnya. Sejujurnya ia juga merasakan aura yang berbed ketika melihat pria itu, tetapi Permaisuri Raqia langsung menangkal, mungkin saja itu karena perasaan baru pertama kali bertemu dengan pemuda yang seumuran dengan putrinya. "Sudahlah, Yang Mulia. Kau tak perlu memikirkan hal itu," ucap Permaisuri Raqia. Raja Rowned juga teringat saat berjabat tangan dengan pria tadi, kekuatannya jadi semakin bergejolak. "Oh, ya, ada hal yang belum kuceritakan padamu, Yang Mulia," ucap Permaisuri Raqia. "Apa yang ingin kau ceritakan, istriku?" "Aku tak sengaja mendengarkan ucapan putri kita dengan pemuda itu. Pricil mengutarakan perasaannya, dia berkata bahwasanya telah menyukai pemuda itu. Aku takut mereka saling mencintai, karena putri kita tidak mungkin bersanding dengan orang biasa seperti Dafta." Raja Rowned menggeleng tak setuju. "Kau melupakan istri pertamaku yang berasal dari rakyat biasa. Aku sebagai Raja menikahi janda desa. Cinta tak bisa diatur harus bersama siapa, Raqia. Kau tak seharusnya mengatur kisah cinta putri kita," ucap Raja Rowned tegas. "Tapi putri kita bukan sembarang putri. Dia telah menjadi putri mahkota, dan juga diangkat sebagai Putri Vuurland. Tentu saja sebagai seorang dengan derajat setinggi itu tidak bisa asal pilih pasangan, karena tahtanya akan berpindah kepada suaminya nanti," ujar Permaisuri Raqia panjang lebar. "Biarkan saja mereka berteman sebagaimana mestinya dahulu, perjalanan mereka masih cukup panjang jika membicarakan tentang pernikahan." Raja Rowned sebenarnya mendukung putrinya itu bersama Dafta, karena menurutnya pemuda itu adalah orang yang bijaksana. Entah kenapa Raja Rowned merasa putrinya akan aman jika bersama pria itu. "Tidak semudah itu, Yang Mulia. Mereka mengaku baru bertemu, kenapa putri kita sudah menaruh perasaan? Aku curiga pemuda itu memakai sihir." Raja Rowned menggeleng. Jalan pikir istrinya itu tetap saja tak berubah. "Hilangkanlah pikiran buruk kau, Raqia. Tidak semuanya akan terjadi sesuai pikiranmu. Semua pasti baik-baik saja." Permaisuri Raqia terkekeh sinis. "Sepertinya kau pun sudah terkena sihir pemuda itu, sampai kau membantahku dan tetap mendukungnya." Permaisuri Raqia bangkit, lalu keluar dari kamar meninggalkan Raja Rowned sendirian. Sudah bisa dipastikan jika Permaisuri Raqia tengah merajuk, karena pendapatnya tidak disetujui oleh Raja Rowned. Permaisuri Raqia dulunya adalah seorang Putri Kerajaan Api yang terpandang, kerajaannya besar dan juga berpacu-pacu dengan Kerajaan Pusat—Van Vuur. Sampai akhirnya Raja Van Vuur dahulu menjodohkan Raja Rowned dengan Permaisuri Raqia, saat istri pertama Raja Rowned meninggal. Saat itu Permaisuri Raqia masih seorang perawan dan ia sebenarnya tidak berkeinginan menikah, karena ingin menjadi Ratu di kerajaannya sendiri. Namun, kerajaannya tiba-tiba berada di masa sulit, ia terpaksa menikah dengan Raja Rowned agar bisa tetap menjaga tahtanya. Bagi Permaisuri Raqia tahta adalah segalanya dan dinomorsatukan. Sikap itulah yang kurang disukai oleh Raja Rowned, karena tidak semua bisa berupa tahta. *** Permaisuri Raqia memilih duduk di halaman belakang istana, tempat di mana ia meluapkan rasa resah, bosan, dan bosan di dalam istana. Tempat itu sejuk dan juga tampak indah dengan bor api yang berjejeran menyinari. Ternyata Permaisuri Raqia tak sendiri, sudah ada Putri Api yang duduk di sana lebih dahulu. "Kenapa kau belum tidur?" tanya Permaisuri Raqia, lalu duduk di sebelah Putri Api. "Tidak bisa tidur, Ibunda." "Temanmu bagaimana? Sudah di ruangannya, kan?" "Sudah, Ibunda. Aku tak bertemu dia lagi." "Ya. Kau harus ingat apa kata Ibunda." Putri Api hanya diam. Ia menatap lurus ke arah depan. Tiba-tiba Putri Api tersenyum kecil, mengetahui maksud kenapa Ibundanya itu berada di sini sekarang. "Ibunda kenapa ke sini? Ibunda tidak tidur?" "Tidak ada, Ibunda hanya ingin menghirup udara segar." Putri Api tahu Ibundanya itu tengah berbohong. "Pasti ibunda sedang marah dengan Ayahanda, kan? Ah, sudah terbaca. Dulu, kan, Ibunda sering melamun di sini jika sedang ada masalah dengan Ayahanda." "Kau masih kecil, tidak usah mengurusi urusan orang dewasa." Putri Api mengerucutkan bibirnya tak terima dikatakan anak kecil, ia sudah lebih dewasa sekarang. "Ada masalah apa, Ibunda?" tanya Putri Api dengan suara yang diubah selembut sutera. "Lebih baik kau diam, sebelum Ibunda membakar mulutmu," ucap Permaisuri Raqia. "Ibunda, kan, tidak memiliki kekuatan api sepertiku," cibir Putri Api membuat emosi Permaisuri Raqia semakin naik. Permaisuri Raqia memilih bangkit dari duduknya, duduk di sini pun terasa tak nyaman karena ada Putri Api. "Ya, Ibunda mau ke mana? Tunggu!" Putri Api pun mengejar Ibundanya itu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN