Putri Api terus saja mengikuti ke mana langkah kaki Permaisuri Raqia. Tenyata Ibundanya itu masuk ke kamar Putri Api.
"Malam ini Ibunda tidur bersamamu," ucap Permaisuri Raqia lalu duduk di ranjang, bersiap membuka semua perhiasan yang melekat di badannya.
"Dugaanku benar," lirih Putri Api. Tidak salah lagi. Pasti orang tuanya sedang ada masalah.
Jiwa penasaran Putri Api pun menggebu, ia memilih keluar dari kamarnya, tetapi Permaisuri Raqia memanggilnya, menahan langkah kaki Putri Api.
"Mau ke mana? Tidur di sini, sudah malam!"
"Eum ... gelangku, ah ya ... gelangku sepertinya jatuh di halaman belakang tadi, Ibunda. Ananda harus mencarinya," ucap Putri Api mencari alibi, padahal ia tak memakai gelang apa pun tadi.
"Kau jangan berbohong, Pricil. Cepat, berbaring di sini!" suruh Permaisuri Raqia.
"Aku tidak berbohong, Ibunda. Ananda pamit sebentar." Buru-buru Putri Api keluar dan menutup pintu kamarnya itu. Tak lupa Putri Api mengunci pintu itu, agar Permaisuri Raqia tidak ke mana-mana.
Permaisuri Raqia menarik gagang pintu, ah putrinya itu menguncinya di sini.
"Aku tahu dia pasti sedang mengadu ke ayahandanya," ucap Permaisuri Raqia. Wanita paruh baya itu memilih berbaring kembali di kasur. Lebih baik ia tidur, karena malas sekali jika malam ini melihat muka Raja Rowned.
"Terserahlah," kata Permaisuri Raqia, setelah itu ia memejamkan mata, mulai masuk ke alam mimpi.
***
Putri Api pun berjalan menyusuri lorong. Matanya tak sengaja menatap Pangeran Air yang berdiri di ujung sana tengah memperhatikan obor api yang menyala.
Ah, ternyata ia belum tidur.
Putri Api pun berjalan mengendap-endap di belakang, lalu hendak menepuk punggung Pangeran Air untuk mengejutkannya. Namun, sebelum itu ....
"Aku tau kau di belakang," ucap Pangeran Air membuat Putri Api mengerucutkan bibirnya, karena sudah menggagalkan rencananya.
"Ah, kau sungguh tidak asyik," dengkus Putri Api. Pangeran Air tersenyum singkat, lalu membalikkan badannya menghadap ke arah Putri Api seutuhnya.
"Kenapa belum tidur?" tanya Pangeran Air.
"Kau juga belum tidur," balas Putri Api.
"Hm."
Putri Api terdiam sebentar. Ia teringat apa kata Permaisuri Raqia tadi. Namun, hatinya berkata tidak masalah, karena Permaisuri Raqia juga tak melihatnya bukan?
"Kau sedang apa di sini?" tanya Putri Api.
"Aku hanya jalan-jalan."
"Oh, ya sudah. Aku mau ke sana dulu," ucap Putri Api pamit.
"Hati-hati," pesan Pangeran.
"Ah, hati-hati segala. Ini, kan, istanaku, jadi tidak--Aaa" Tiba-tiba Putri terpeleset yang membuatnya hampir terjatuh, untung saja Pangeran Air dengan sigap menahan badan gadis itu.
"Hati-hati," ucap Pangeran Air mengulang, sembari menatap bola mata Putri Api yang sedang menatapnya.
Putri Api pun segera bangkit dari pelukan pria itu. "I--iya, terima kasih," ucap Putri Api.
Gadis itu pun segera pergi dari situ, sedangkan Pangeran Air masih menatap Putri Api sampai menghilang dari persimpangan lorong.
Pangeran Air tersenyum singkat, tangannya lalu memuncratkan api. "Kau bahagia api? Ya, aku pun," ucap Pangeran Air menatap api yang menari-nari di tangannya.
***
Putri Api mengetuk pintu ruangan Ayahandanya itu sampai tiga kali. Apa mungkin Raja Rowned sudah tertidur? Ah, sepertinya tidak mungkin.
Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka. Walaupun kilatan api yang membuka pintu itu. Putri Api pun langsung masuk, mencari keberadaan Ayahandanya.
"Ada apa, Putriku?" tanya sebuah suara.
Putri Api menatap ke arah cahaya yang terang, bewarna merah kebiru-biruan. Cahaya itu muncul dari tangan Raja Rowned.
"Ayahanda sedang apa?" tanya Putri Api.
"Tidak ada. Apa tujuan kau menemui Ayahanda?" tanya balik Raja Rowned.
"Eum ... Ibunda, Ayahanda. Kau tahu apa yang terjadi padanya? Ananda tahu kalian sedang ada masalah."
Raja Rowned mempersilakan putrinya itu duduk terlebih dahulu di kursi yang ada di sana.
"Ini bukan urusanmu, Putriku," ucap Raja Rowned lembut. Segalak-galaknya sang raja api itu, tetapi ketika berhadapan dengan sang putri tercintanya, ia akan berubah menjadi sangat lembut.
"Ananda tidak suka jika Ayahanda dan Ibunda bertengkar, karena Ibunda pasti tidak mau melihat Ayahanda."
Sebenarnya ini hanyalah masalah kecil dan Raja Rowned pun yakin, esok istrinya itu sudah memaafkannya, tetapi masalahya adalah pertikaian ini diketahui putri mereka. Putri Api tidak akan membiarkan kedua orang tuanya itu diam-diaman seperti itu.
"Ayahanda tidak mau membujuk Ibunda?" tanya Putri Api.
"Bukan masalah besar, Putriku. Besok Ibundanya pasti tidak mengingat masalah ini lagi."
"Tapi, tidaklah enak bukan jika Ayahanda sedang tidak berbaikan di saat ada temanku di sini."
"Kau benar."
"Bagaimana nanti citra seorang pemimpin di matanya jika melihat Ayahanda dan Ibunda sedang ada masalah?"
Ucapan Putri Api ada benarnya juga.
"Ibunda sudah lama tidak dimanjakan Ayahanda. Mungkin Ibunda merindukan itu," bisik Putri Api terkikik pelan.
Raja Rowned lalu mengacak-acak rambut Putri Api pelan. "Kau selalu mengurusi urusan orang dewasa," ujar Raja Rowned.
"Urusan orang tuaku sendiri tidak masalah, bukan?"
"Lalu, menurut kau apa yang harus Ayahanda lakukan?" tanya Raja Rowned.
Putri Api pun membisikkan rencananya pada Raja Rowned bagaimana cara membujuk Permaisuri Raqia dengan mudah. Rencana Putri Api pun diangguki oleh Raja Rowned.
"Baik, Ayahanda. Sekarang, silakan Ayahanda pergi ke kamarku," suruh Putri Api.
"Berarti kau yang tidur di sini malam ini?"
"Iya, Ayahanda."
"Baiklah."
Putri Api membiarkan saja aksi Raja Rowned berdua dengan Permaisuri Raqia malam ini. Ia yakin rencananya akan berhasil, karena cara itu sangat ampuh digunakan untuk Permaisuri Raqia.
***
Raja Rowned menuruti saja apa yang disuruh putrinya itu. Ia pergi ke dapur istana.
Para pelayan yang masih terjaga segera membungkukkan badan.
"Selamat malam, Yang Mulia. Apakah ada yang bisa kami bantu, Yang Mulia?"
"Tidak. Kalian tidur saja, saya akan bergulat di dapur malam ini."
"Baik, Yang Mulia."
Para pelayan itu pun segera pamit undur diri dari dapur. Raja Rowned mengambil sepotong roti.
Ia akan membuatkan roti bakar untuk Permaisuri Raqia, agar istrinya itu mau memaafkannya.
Roti itu diletakkan di atas telapak tangannya. Biarlah api Raja Rowned sendiri yang memanggang roti itu, karena bagi Permaisuri Raqia makanan yang dipanggang oleh tangan Raja Rowned sendiri, memiliki kelezatan tersendiri oleh lidahnya.
Entahlah, entah dari mana datang lezatnya, yang pasti begitulah selera Permaisuri Raqia.
Setelah selesai, roti itu ditata-tata di atas piring. Tak lama bagi Raja Rowned membuatkan roti sederhana ini untuk Permaisuri Raqia.
Setelah sampai di depan kamar Putri Api. Raja Rowned pun membuka kunci pintu itu dengan kekuatannya, tak memerlukan kunci apa pun.
Ia menatap sang istri sudah terlelap. Raja Rowned pun menghidupkan api, untuk mengusik tidur Permaisuri Raqia. Tak lama kemudian, karena merasakan hawa hangat yang menyengat, wanita itu terbangun. Ia terkejut menatap Raja Rowned yang sudah ada di hadapannya.
"Kau--" Hampir saja Permaisuri Raqia memukul Raja Rowned, karena kesadarannya belum penuh.
"Aku minta maaf," ucap Raja Rowned dengan tulus. Sebagai laki-laki ia harus mengalah.
Raja Rowned lalu menyodorkan roti itu pada Permaisuri Raqia. Mata wanita itu berkaca-kaca. Ah, ia teringat pada daat Raja Rowned mulai mendekatinya dulu, dengan memberikan roti yang ia buatkan sendiri. Permaisuri Raqia pernah bercerita pada Putri Api dahulu hal paling romantis menurutnya dari Raja Rowned.
Sudah dipastikan putrinya itulah yang memberitahu ke suaminya.
"Aku yang meminta maaf, karena sudah membangkangmu," ucap Permaisuri Raqia.
Raja Rowned menampilkan senyumnya, lalu membungkukkan badan, tuk mencium puncak kepala istrinya.
Malam yang tadi sangat menjengkelkan bagi Permaisuri Raqia berubah menjadi malam yang manis. Ia tak menyangka akan jadi seperti ini.
***
Hai, Guys, gapapa kan kita bahas Raja Rowned dan Permaisuri Raqia juga, daripada stuck di Putri Api dan Pangeran Air saja wkwkw.
Thank you.
~Amalia Ulan