Pagi ini Pangeran Air bersiap-siap untuk pulang kembali ke kerajaannya. Sebelum itu, ia akan kembali menikmati makan bersama Raja Rowned.
Entah kenapa ketika bersama raja galak itu ia merasakan sesuatu yang berbeda. Berdekatan dengan Permaisuri Raqia ia juga merasakan kehangatan.
"Silakan duduk!" suruh Raja Rowned, karena Pangeran Air hanya berdiri dan melamun.
"Baik, Yang Mulia."
"Kau yakin akan pulang hari ini? Mungkin kau masih ingin berada di sini dan pulang esok."
"Terima kasih, Yang Mulia. Tapi, hamba sudah rindu dengan keluarga hamba."
"Oh, baiklah."
Pangeran Air menatap Putri Api di sampingnya. Gadis itu tampak mengabaikannya, tak menatapnya sama sekali.
"Hai," sapa Pangeran Air.
"Hm," gumam Putri Api. Pangeran Air menautkan kedua alisnya. Ada apa dengan gadis itu? Apakah ia melakukan sebuah kesalahan?
"Ayo, silakan dimakan!" suruh Permaisuri Raqia.
"Baik, Yang Mulia. Terima kasih."
Pangeran Air mulai menyuapkan makanan itu ke mulutnya dengan sesekali menatap Putri Api yang tak mau menoleh ke arahnya.
Sepertinya ada masalah, tetapi apa? Bukankah, kemarin baik-baik saja?
Setelah menghabiskan makanan dengan keadaan hening. Raja Rowned bangkit dan meninggalkan ruangan terlebih dahulu disusul oleh Permaisuri Raqia.
Kini, hanya tinggal Putri Api dan Pangeran Air saja di sana berdua. Putri Api lalu bangkit dan akan meninggalkan Pangeran Air, tetapi tangannya ditahan oleh pria itu.
"Apa yang salah darimu?" tanya Pangeran Air. Namun, Putri Api hanya diam dan melengah.
"Apa aku melakukan kesalahan?" tanya Pangeran Air menurunkan pertanyaannya.
"Tidak."
"Lalu, kenapa kau berubah seperti itu padaku?" tanya Pangeran Air.
"Berubah, bagaimana?"
"Kau tak menatapku saat berbicara dan nada suara kau berubah menjadi ketus."
Putri Api langsung menatap Pangeran Air, tetapi tatapan yang ia pancarkan berbeda dari biasanya.
"Emangnya kau siapa? Apa hak kau atas sikapku?"
"Ak--"
"Siap-siap saja untuk kepulangan kau. Aku tak ingin melihat kau lagi."
Putri Api lalu berbalik dan meninggalkan Pangeran Air yang masih terdiam di sana memikirkan apa yang telah terjadi.
Ia benar-benar sangat bingung dengan sikap Putri Api yang berubah seratus delapan puluh derajat.
****
SAMPAI SINI DULU YA, GUYS.
Jangan lupa pencet love-nya ya.
Thank u. See you next chapter.
Salam hangat,
Amalia Ulan.