BAB 7

1404 Kata
Keesokan harinya Thania berdiri di depan cermin sembari merapikan penampilannya. Tidak lama Danish keluar dari dalam kamar mandi. Ia menatap penampilan istrinya dengan tatapan penuh arti. Tatapannya terlihat tidak suka karena menurutnya pakaian Thania cukup terbuka. Thania menatap wajah Danish dari pantulan kaca. “Pak Danish kenapa lihatin Thania seperti itu?” “Ganti!” Thania mengernyitkan kening. Ia berbalik badan menatap suaminya dengan penuh tanda tanya. “Apanya, Pak?” “Baju kamu.” “Ha?” Thania tidak mengerti apa yang dimaksud suaminya. Thania menunduk menatap penampilannya sendiri. Menurutnya tidak ada yang salah, namun berbeda dengan pandangan Danish. Sebagai seorang laki-laki ia tahu apa yang dilihat Buaya di luar sana saat melihat penampilan Thania. Lagipula Thania ingin pergi ke kampus, bukan ke tempat lain. “Nggak ada yang salah dari penampilan Thania kok.” “Banyak.” ujar Danish Ia mendekat ke arah Thania. Ia menelisik penampilan istrinya dari atas sampai bawah. Apa Thania tidak bisa melihat penampilannya sendiri? Apa yang dipakai Thania saat ini tidak pantas digunakan pergi ke kampus. “Ganti!” ujar Danish sembari menekan katanya. “Nggak mau.” Thania menolak keras mengganti pakaiannya. Menurutnya pakaian yang ia kenakan tidak ada yang salah. Justru penglihatan suaminya yang salah. Danish semakin geram karena Thania menolak untuk mengganti pakaiannya. “Ganti Thania!” ujar Danish sekali lagi “Nggak mau.” jawab Thania sembari menekan setiap kalimatnya. Danish memejamkan mata menahan amarah. Ia harus bersabar menghadapi anak kecil. Inilah resikonya jika menikahi perempuan muda. Ia harus memiliki stok kesabaran di setiap harinya. Apalagi Thania masih ingin bersenang-senang seperti gadis pada umumnya. Thania berbalik badan kembali menatap dirinya dari pantulan kaca. Ia tidak peduli dengan keberadaan Danish yang berdiri tepat di belakang tubuhnya. Bahkan ia mengabaikan perkataan Danish yang memintanya untuk ganti baju. Danish menatap istrinya lekat. Ia akan melakukan sesuatu agar Thania mau ganti baju. Danish memutar tubuh Thania agar menghadap ke arahnya. “Kenapa lagi sih, Pak?” ujar Thania dengan nada kesal “Ganti baju, atau…” “Atau apa? Thania nggak akan takut dengan ancaman Pak Danish.” Thania bersendekap d**a seolah menantang suaminya. Ia ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh Danish. Thania berpikir Danish hanya mengancam mengurangi nilainya di kampus. Hal itu tidak akan berpengaruh apapun padanya. Danish tersenyum smirk. “Kamu menantang saya, hm?” “Iya. Thania ingin tahu apa yang akan Pak Danish lakukan.” “Palingan juga mengancam nilai Thania di kampus. Hal itu tidak berpengaruh apapun ke Thania.” lanjutnya dengan penuh percaya diri. “Ooh, jadi itu yang dipikiran Thania.” ujar Danish dalam hati “Baiklah. Kita lihat setelah ini siapa yang akan memohon untuk berhenti.” “Ayo, apa yang ingin Pak Danish lakukan? Thania nggak akan takut.” “Apa kamu yakin dengan perkataanmu itu? Apa kamu tidak mau menariknya?” Thania menggelengkan kepalanya. “Nggak akan.” “Thania akan menunggu…” Srett Cup “Uumhh..” Belum selesai Thania bicara Danish menarik tengkuk wanita itu dan langsung menyatukan bibir keduanya. “Emhh..” “Pak Danish!” Thania terkejut dengan apa yang dilakukan suaminya. Gerakan Danish cukup cepat dan gesit, hal itu yang membuat dirinya tidak sempat menghindar. Thania berusaha mendorong tubuh Danish menjauh, namun tenaganya tidak cukup kuat. Tenaga Danish tidak sebanding dengan dirinya. “Enghh..” Thania melenguh pelan. Danish tersenyum puas. Ini akibatnya jika Thania membantah perintahnya. “Pak…” “Sshh..” Danish menarik tengkuk Thania lebih dekat dengannya. Hukuman ini yang pantas untuk istrinya karena Thania terus membantah. Ia mengambil keuntungan dari moment ini. Dan Thania tidak bisa melakukan apa-apa selain pasrah. Lama-kelamaan Thania pasrah dengan perbuatan Danish. Tenaganya tidak cukup kuat untuk melawan. Bahkan nafasnya hampir menipis. “Emhh.. Pak..” BUGH Thania memukul punggung Danish meminta untuk dilepaskan. Ia mulai kehabisan nafas. Ia bisa tidak sadarkan diri jika Danish tidak mau melepaskannya. Tidak lama Danish menarik diri dari Thania. Ia tersenyum puas dengan perbuatannya. “Huhh..” “Pak Danish udah gila, ha?” ujar Thania dengan nafas terengah. Bukannya tersinggung Danish justru tersenyum puas. “Itu akibatnya jika kamu menantang saya. Hukuman itu pantas kamu dapatkan. Justru saya ingin menghukum kamu lebih dari ini agar kamu tahu siapa saya.” “Pak, stop!” Dengan cepat Thania menahan tubuh Danish agar tidak melakukan sesuatu lebih. Ia mulai takut dengan ancaman suaminya. Bahkan tatapan Danish mulai berubah. Mereka bisa terlambat datang ke kampus jika Danish melanjutkan aksinya. “Terus, masih mau memakai baju itu atau ganti?” Danish mengelus pipi Thania dengan lembut namun tatapannya terlihat penuh intimidasi. Thania menelan ludahnya kasar. Danish berhasil melumpuhkannya agar tidak melawan. Bahkan ancaman Danish terlihat menakutkan daripada Orang Tuanya. “Ck, sejak kapan aku jadi penakut seperti ini?” ucapnya dalam hati “Pak Danish ngeselin banget sih!” “Satu..” Danish mulai berhitung karena Thania tidak kunjung menjawab. “Dua..” “Iya, Thania ganti.” Jawabnya cepat Danish tersenyum manis mendengar jawaban istrinya. Ia menepuk pucuk kepala Thania dengan gemas. “Nah, kalau gini kan enak. Kita nggak perlu berdebat ataupun saya nggak repot-repot menghukum kamu.” “Ck,” Thania berdecak kesal lalu menepis tangan Danish dari atas kepalanya. Danish terkekeh melihat wajah cemberut istrinya. Ia tidak ingin keindahan yang ada pada Thania dinikmati oleh laki-laki lain di luar sana. Jika sebelum menikah Thania bersikap bebas, tapi tidak setelahnya. Sekarang sudah ada dirinya yang berhak mengatur kehidupan Thania. “Ganti baju yang benar! Kalau enggak saya akan meminta kamu ganti lagi.” ujar Danish “Hmm.” gumam Thania dengan malas Thania membuka lemari dengan wajah masam. Dalam hatinya terus menggerutu tidak jelas. Sumpah serapah ia keluarkan untuk suaminya, Danish. Padahal penampilannya sudah rapi dan mereka tinggal berangkat. Kalau seperti ini ia harus memulai lagi dari awal. “Biar saya bantu pilihkan!” tiba-tiba Danish datang dan membuat lamunan Thania buyar seketika. “Eh, nggak usah, Pak.” “Biar nggak lama.” “Tapi…” “Sstt.. diam!” Thania mengepalkan kedua tangannya menahan amarah. Ingin rasanya ia memukul Danish dari belakang agar laki-laki itu tidak banyak mengatur. Bahkan Ayahnya tidak pernah mengatur seperti ini. “Thania bisa pilih sendiri, Pak.” ucapnya dengan nada kesal Thania tidak yakin dengan pilihan Danish. “Diam! Saya ingin bantu karena kamu terlalu lama mengambil sendiri.” ujar Danish Danish tersenyum saat menemukan baju yang cocok untuk istrinya. Pas, dan tentunya tidak terlalu terbuka. Ia memberikan bajunya pada Thania. “Ini, pakai!” Thania menatap baju itu dengan kernyitan di dahi. Dengan rasa ragu ia mengambil baju itu dari tangan Danish. Ia melihat baju itu dan betapa terkejutnya Thania. “APA!?” reflek Thania berteriak setelah melihat pakaian itu. Thania menatap suaminya tidak percaya. “Apa-apaan ini, Pak? Nggak mau.” Ia menolak mentah-mentah untuk memakai baju tersebut. “Kenapa? Apa ada yang salah?” “Jelas.” “Baju apa ini? Thania nggak mau pakai.” Thania mengembalikan baju itu ke Danish. Lebih baik ia tidak mengganti pakaiannya daripada harus memakai baju panjang, lebar, dan panas itu. “Udah ah, biar Thania cari sendiri!” Thania mencoba menyingkirkan tubuh Danish dari dekatnya. Ia akan mencari sendiri. Namun bukannya menyingkir Danish justru tidak memberi jalan pada istrinya. Danish tetap kekeh meminta Thania untuk memakai baju yang ia pilihkan. Danish mengambil sebuah gamis yang menurutnya cocok digunakan Thania. Namun pakaian itu bukan style Thania sehari-hari. “Nggak boleh! Saya mau kamu pakai baju ini.” “Pas, dan tertutup.” ujar Danish “Thania nggak mau.” jawabnya dengan penuh penekanan. “Baiklah. Sepertinya kamu lebih memilih hukuman.” Thania menggertakkan giginya. Ia benar-benar kesal karena Danish terlalu banyak mengatur. Akhirnya Thania mengambil gamis itu dengan kasar. Setelahnya ia berjalan menuju kamar mandi dengan amarah yang menggelora. Ia seolah ingin menerkam Danish secara hidup-hidup. Danish terkekeh geli. Jika Thania marah-marah justru terlihat semakin menggemaskan di matanya. “Pakai yang benar, ya!" BRAK Jawaban Danish disambut suara kencang dari pintu. Thania membanting pintu kamar mandi. Ia semakin kesal dengan perkataan suaminya. “NYEBELINN!” teriaknya dari dalam kamar mandi “Aarrgghh..” pekiknya tertahan “Kenapa sih Dosen itu banyak mengatur? Nggak bisa banget biarin hidup aku dengan tenang.” kesalnya Thania yakin hidupnya tidak akan tenang jika hidup dengan Danish. Tapi, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Nasi sudah menjadi bubur. Ia tidak bisa merubah keadaan karena dirinya sudah menikah dengan Danish. Mereka akan hidup selamanya dalam satu atap. "Kalau masih aja nyebelin aku aduin ke Papi." gumam Thania Next>>
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN