Kampus
“Huhh.. sabar, Thania! Orang sabar di sayang Allah.” gumamnya
Thania menarik nafas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan. Ia melakukannya berulang kali agar bisa lebih tenang. Moodnya kembali berantakan setelah mendapat pesan dari Danish. Laki-laki itu memintanya untuk datang ke ruangannya sekarang juga.
“Nggak bisa ya, nggak ganggu sehari saja!”
“Untung suami.”
Thania berjalan menuju ruangan suaminya dengan wajah cemberut. Selama berjalan hatinya terus menggerutu karena kesal. Semenjak menikah dengan Danish hidupnya tidak bisa bebas. Bahkan hanya untuk bergerak dan bernafas terasa diawasi oleh suaminya itu.
Tok.. tok.. tok
“Masuk!” ujar Danish dari dalam ruangan
Ceklek
Thania masuk ke dalam dengan wajah dingin. Wajahnya terlihat tidak ikhlas menghampiri Danish. “Akhirnya datang juga. Duduk sini!” ujar Danish sembari menepuk space di sampingnya. Karena kebetulan ia sedang duduk di sofa.
“Nggak mau.”
“Jadi, mau berdiri di situ terus?”
Thania terdiam. Ia membenarkan perkataan suaminya. Jika ia tidak duduk yang ada dirinya akan terus berdiri entah sampai kapan. Dengan berat hati Thania duduk di samping suaminya. Ia masih kesal karena kejadian tadi pagi. Dan sekarang laki-laki itu memaksa agar ia datang ke ruangannya.
“Kenapa minta Thania datang ke sini?” tanyanya to the point
“Makan siang bersama!”
Thania langsung tersenyum mendengarnya. Kebetulan perutnya terasa lapar sejak beberapa menit yang lalu. Ia menatap Danish yang sedang membuka kotak makanan. Dan seketika tercium harum masakan yang tercium begitu lezat.
“Waw!” gumam Thania
Danish menatap istrinya sembari tersenyum manis. Ia dengan sengaja membeli makanan untuk mereka berdua. Ia tahu Thania belum makan siang. “Mau makan siang bersama?”
Thania mengangguk cepat. Apalagi seafood adalah makanan kesukaannya. “Mauu! Kebetulan perut Thania terasa lapar sejak tadi.”
“Yaudah, kita makan sekarang!”
“Thania mau cuci tangan dulu.”
Danish menahan pergerakan Thania saat wanita itu ingin berdiri. “Kenapa, Pak?”
“Biar saya suapin!”
“—“ Thania terdiam. Ia mengerjapkan matanya berulang kali mencoba mencerna perkataan suaminya.
“Nggak usah cuci tangan, biar saya yang suapin kamu.” ujar Danish sekali lagi
“Emangnya nggak papa?”
“Nggak papa.” Thania mengangguk kaku. Ia masih speechless dengan tindakan Danish barusan.
Danish mengarahkan tangannya pada mulut Thania. “Aaa.. buka mulutnya!”
Thania membuka mulut sembari menatap suaminya lekat. Ia tidak menyangka Danish begitu perhatian padanya. Padahal sikap laki-laki itu terlihat menyebalkan, namun dibalik itu semua ada sifat tersembunyi. Dan Thania adalah perempuan beruntung yang bisa menaklukkan hati seorang Danish.
“Enak nggak?” tanya Danish
Thania mengangguk sembari tersenyum. “Enak, Pak.”
***
“Huhh.. Alhamdulillah.”
Thania mengelus perutnya yang terasa kenyang. Ia dan Danish menghabiskan makanan tersebut tanpa tersisa. Thania menyandarkan tubuhnya di sofa sembari memejamkan mata. Ia tidak menyesal datang ke ruangan Danish yang awalnya menolak secara mentah-mentah.
Thania membuka mata saat merasakan elusan lembut di kepalanya. Dan saat matanya terbuka wajah Danish cukup dekat dengan wajahnya. Keduanya saling menatap. Thania mengerjapkan matanya berulang kali sembari menelisik wajah tampan Danish.
“Ternyata Pak Danish setampan itu jika dilihat dari jarak dekat.” ujar Thania dalam hati
Danish menelisik wajah cantik istrinya. Sangat sempurna, itulah yang ada di penglihatannya. “Pak Danish kenapa lihatin gue seperti itu?” batin Thania berucap
“Apa dia terpesona dengan kecantikan gue?”
“Emang sih, gue cantik banget. Pak Danish nggak akan mau kalau gue jelek.”
“Pak Danish ngapain lihatin Thania seperti itu?” tanya Thania memecah keheningan
“—“
“Pak!”
“—“ lagi-lagi Danish terdiam.
Bukannya menjawab pertanyaan Thania, Danish justru semakin mendekatkan wajahnya. “Pak Danish belum jawab…”
Cup
“Uumhh..”
Belum selesai Thania bicara Danish tiba-tiba menyatukan bibir keduanya membuat perkataan Thania terhenti seketika. “Hmptt..”
Thania memberontak meminta untuk dilepaskan. Ia belum siap menerima apa yang suaminya lakukan. Kejadiannya begiti cepat membuat Thania tidak sempat menghindar. Danish mengarahkan tangan Thania ke arah lehernya agar sensasi keduanya terasa berbeda.
“Enghh..”
Thania menurut. Ia mengalungkan kedua tangannya pada leher Danish. Keduanya terlihat romantis. Thania mendongak memberi ruang pada Danish agar bisa lebih leluasa melakukannya.
“Emhhh..” Thania melenguh pelan
Tangan Danish mengelus pipi chubby istrinya dengan lembut. Namun setelahnya semakin turun ke bawah. Dan sampailah pada dua benda kenyal milik Thania. Tempat yang saat ini menjadi favoritnya.
“Aahh..”
“Emhh.. Pak..”
“J-jangan! Sshh..”
Meskipun mulut Thania menolak namun tidak dengan respon tubuhnya. Ia menerima sentuhan dari suaminya. Tubuh Thania bergetar merasakan sensasi aneh. Untuk ke dua kalinya ia merasakan hal ini. Ia tidak bisa bergerak dengan bebas karena Danish berada tepat di atas tubuhnya.
“Enghh..”
“Pak, stop!” Thania merintih pelan. Hal itu membuat Danish semakin bersemangat melakukannya.
“Owhh..”
“Aakkhh..”
“s**t! Aku sangat menyukainya.” ucap Danish dalam hati
Saat menyentuh Thania ia merasa berbeda dengan dulu. Jantungnya selalu berdebar setiap berdekatan dengan Thania. Hal itu tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Pernikahan yang pertama mengajarkan ia banyak hal. Dan sekarang ia baru menemukan pasangan yang sesungguhnya.
Danish beralih pada leher jenjang Thania. Ia meninggalkan tanda kepemilikan di sana. “Sshh..”
“Awhh.. jangan digigit, Pak!”
“Enghh..”
Tangan Danish tidak berhenti bergerak. Bahkan ia semakin kuat melakukannya. Ia dibuat gila oleh istri mudanya itu. Padahal Thania belum berpengalaman namun dia mampu memikatnya dengan mudah. Entah apa yang Thania lakukan padanya.
Cup
“Uumhh..”
Thania mendongak dengan mata terpejam. Ia tidak bisa berbohong tubuhnya terlihat sangat menikmati. Bahkan ia merasa ketagihan untuk merasakan lagi dan lagi. “Owhh.. Pak Danish!” panggilnya dengan nada meracau
Danish tersenyum puas mendengar namanya disebut. “Terus panggil nama saya, Thania!” bisiknya dengan suara berat
Danish bergerak semakin ke bawah. Sampailah pada dua benda kenyal milik istrinya. Ia menelan ludahnya kasar. Danish menginginkan lebih dari ini. Ia sudah tidak tahan untuk tidak melakukannya. Thania telah membangunkan Singa yang sedang tidur.
Jemari kekar Danish membuka satu per satu kancing baju yang dikenakan Thania. Namun di pertengahan Thania menahan pergerakan suaminya. “Pak Danish mau ngapain?” tanyanya dengan nafas terengah
“Thania, saya sudah tidak tahan.”
“Pak, tapi kita lagi ada di…”
“Sstt..” Danish meminta istrinya untuk diam. Ia tahu di mana saat ini mereka berada. Tapi, mau bagaimana lagi? Ia sudah tidak tahan.
“Karena itu jangan banyak bicara! Jangan berisik!”
“—“ Thania menggeleng pelan. Ia tidak yakin dirinya tidak akan berisik.
“Jangan terlalu kencang saat bersuara!” bisik Danish
Mata Thania terlihat sayu. Ia tidak yakin bisa. Tapi di satu sisi, ia tidak bisa menghentikan keinginan suaminya. Sekalipun menolak Danish akan tetap memaksa. Karena itu Thania memilih untuk diam dan pasrah. Ia akan lihat selanjutnya bagaimana.
Danish berhasil membukanya. Setelah itu ia melempar baju itu ke lantai. Ia tersenyum menatap istrinya. Dan dalam satu tarikan penutup yang menjadi penghalang keindahan istrinya berhasil ia lepaskan.
Danish tersenyum kagum melihat pemandangan indah tepat di hadapannya. Tanpa penghalang apapun membuat ia bisa melihatnya sampai puas. Bahkan setelah ini ia akan merasakannya. Ia menelan ludahnya kasar berulang kali. Ia berdecak kagum melihatnya.
“Waw.. sangat indah!”
Thania memalingkan wajahnya karena malu. Kedua pipinya bersemu merah. Meskipun bukan untuk pertama kalinya Thania masih belum terbiasa. Bahkan Thania tidak menyangka Danish melakukannya di sini.
“Jangan menatapnya seperti itu, Pak!” ujar Thania tanpa menatap suaminya
“Sangat indah, Thania!”
“Saya menyukainya.” Danish tersenyum penuh arti. Ia semakin tidak sabar untuk melakukannya.
Danish menunduk, dan…
“Owhh..”
“Aakkhh.. Pak Danish!”
Tanpa menunggu lama Danish melakukannya. Ia minum seperti bayi yang sedang kehausan. Bahkan hisapannya cukup kuat. Thania menggigit bibir bawahnya menahan diri agar tidak bersuara cukup kencang. Namun lama-kelamaan ia tidak bisa. Apalagi Danish cukup gila saat menyentuhnya.
Tangan Danish tidak tinggal diam. Tangannya bergerak sesuka hati membuat Thania hampir gila. Sesekali Thania mendongak dengan mata terpejam. Ia menikmati sentuhan suaminya. Bahkan Thania menekan kepala Danish agar lebih dalam melakukannya.
“Aahh..”
“T-teruss, Pak!”
“Enakkhh..”
“Owhh..” Thania meracau tidak jelas.
Thania kelepasan. Ia tidak bisa menahan suaranya sendiri. Ia tidak peduli sekalipun berisik. Suara indahnya mengalun di dalam ruangan Danish. Hal itu yang membuat Danish semakin bersemangat melakukannya. Mereka lupa di mana saat ini berada. Keduanya sudah larut dengan nikmat dunia.
Suara rintihan Thania mengalun indah di telinga Danish. “Enghh.. teruss.."
“Emhh.. enakkk..”
Thania ikut gila karena perbuatan suaminya. Ia meremas rambut Danish sebagai pelampiasan. Mulutnya terus bersuara memanggil nama suaminya. Karena hanya Danish yang mempu membuat Thania menggila seperti sekarang ini. Padahal awalnya ia sempat menolak. Dan sekarang ia justru sangat menikmatinya.
"Sshh.."
"Teruss, Pak.. owhh.."
"s**t! Enak sekali. Aku bisa gila jika terus seperti ini." ucap Danish dalam hati
Untuk pertama kali perasaannya campur aduk seperti sekarang. Di pernikahan sebelumnya ia tidak merasakan hal aneh seperti ini. Tapi Thania mampu membuatnya menggila. Padahal dia hanyalah gadis kecil yang tidak sengaja menarik perhatiannya, Kenapa mereka tidak bertemu sejak dulu?
Setelah merasa cukup Danish bergerak ke atas. Dan...
Cup
"Uummhh.."
Danish menyatukan bibir keduanya karena mulut Thania terus berisik. Ia takut ada yang mendengar suara istrinya. Namun hal itu tidak membuat ia berhenti begitu saja. Ia terus melakukannya sampai ke inti. Sayang sekali jika harus berhenti di tengah jalan.
"Uumhh.."
"Sstt.. jangan berisik, Thania!"
"Aahh.."
Bukannya diam Thania justru bersuara semakin kencang, hal itu menjadi kekhawatiran sendiri bagi Danish. Namun di satu sisi, ia tidak bisa berhenti. Thania seolah candu baginya. Lama-kelamaan tubuhnya semakin tidak terkendali.
"Aku tidak bisa berhenti, Thania." ujar Danish dengan nada meracau
Next>>