BAB 9

1415 Kata
Danish menggenggam kedua tangan Thania. Dan… “Aahh..” “Pak.. owh..” Thania melenguh panjang dengan mata terpejam. Begitupun dengan Danish, ia tersenyum setelah melakukannya. Ia mulai menggerakkan tubuhnya dengan perlahan. Danish merasakan cengkraman di lengannya. Terasa sakit namun teralihkan dengan rasa nikmat karena perbuatannya. Namun tiba-tiba… Tok.. tok.. tok Seseorang mengetuk pintu ruangan Danish. Sontak hal itu membuat Thania dan Danish terkejut. Mereka saling menatap. d**a keduanya bergemuruh hebat. Bahkan Danish baru memulai. Tidak mungkin Danish melepaskan Thania, yang ada dirinya sangat tersiksa jika melakukan itu. “Pak, ada orang!” ujar Thania dengan suara terbata-bata “Enghh..” Wajah Thania tidak bisa berbohong jika menikmati sentuhan suaminya. Tapi mereka harus mengakhiri ini semua karena ada seseorang. Thania berusaha mendorong d**a bidang suaminya namun tidak bisa. Danish tetap mempertahankan dirinya. “Pak, lepas!” “Nggak.” “Tapi ada orang, Pak! Thania takut orang itu mengetahui apa yang kita lakukan.” Tok.. tok.. tok Pintu kembali diketuk dari luar. “Oh, s**t!” umpat Danish dalam hati “Siapa yang berani mengganggu waktuku?” Thania menggelengkan kepalanya. Ia berusaha mendorong tubuh Danish namun tidak bisa. Danish menahan diri karena belum selesai dengan perbuatannya. Ia sangat tersiksa jika menarik diri. “Pak Danish, menyingkirlah! Itu ada orang.” ujar Thania dengan nafas terengah “Thania, tapi…” Tok.. tok.. tok “SIALAN!” desis Danish dengan tajam Terpaksa Danish menarik diri dari istrinya. “Aahh..” “Owhh..” Thania melenguh pelan. “Huhh..” Nafas Thania terengah setelah Danish menarik diri darinya. Ia tidak ingin mengambil resiko. Ia takut ada yang melihat perbuatan mereka berdua. Meskipun mereka pasangan suami-istri tapi tidak seharusnya berbuat di tempat ini. Thania akan terkena masalah besar jika ada mahasiswa yang mengetahuinya. Buru-buru Danish memakai pakaiannya kembali. Tidak lupa ia juga membantu Thania untuk memakai pakaiannya. Karena perempuan cukup ribet Danish meminta Thania masuk ke dalam kamar mandi. “Setelah selesai kamu keluar, ya!” ujar Danish “I-iya, Pak.” Setelah memastikan pintu kamar mandi tertutup rapat Danish berjalan menuju pintu ruangannya. Ia menarik nafas panjang agar lebih tenang. Mati-matian ia menahan amarahnya saat ini. Dipastikan nilai mahasiswa itu tidak selamat karena telah mengganggu kesenangannya. Sebelum membuka pintu Danish merapikan pakaiannya kembali agar orang lain tidak curiga. “ADA APA?” bentak Danish setelah membuka pintu “Papa!” Deg Danish terkejut melihat siapa yang datang. Ia terlanjur membentak tanpa melihat dulu siapa yang datang. Ya, yang datang adalah putranya, Zidan. “Papa kenapa bentak Zidan?” tanyanya dengan wajah polos “Astaga.. ternyata Zidan yang datang.” ujar Danish dalam hati Danish tersenyum lalu berlutut menyamakan tubuhnya dengan sang putra. Ia tidak sengaja membentak karena belum tahu siapa yang datang. Ia menangkup wajah putranya dengan tatapan bersalah. “Maaf, Boy. Papa nggak tahu kalau kamu yang datang.” “—“ “Maaf Pak, tadi Den Zidan yang minta untuk diantar ke sini. Katanya Den Zidan rindu sama Pak Danish.” ujar Mbok Yem, pengasuh Zidan. Danish mengangguk mengerti. “Nggak papa, Mbok.” “Mbok Yem bisa pulang! Biar Zidan nanti pulang sama saya.” “Baik, Pak.” Setelah kepergian Mbok Yem, Danish mengajak putranya masuk ke dalam. Ia merasa bersalah telah membentak putranya. Zidan masih bertanya-tanya kenapa Ayahnya membentak. Padahal ia datang karena merindukannya. Setelah menikah Danish jarang mempunyai waktu dengannya. Menurutnya Danish lebih banyak menghabiskan waktu bersama Thania. “Papa nggak suka Zidan datang ke sini?!” ujar Zidan “Astagaa.. enggak, Boy.” “Papa senang kok kamu datang ke sini.” Danish tersenyum sembari mengelus rambut putranya dengan penuh kasih sayang. “Bohong! Kalau senang kenapa barusan bentak Zidan?” “Huhh..” Danish menghela nafas kasar. Bagaimana ia menjelaskan pada putranya jika kejadian barusan tanpa disengaja! Danish pikir yang datang adalah mahasiswanya. Apalagi tepat di saat ia berhubungan dengan Thania. Rasanya sangat menyiksa sampai saat ini. “Papa pikir yang datang tadi orang lain, Boy. Papa minta maaf, ya!” “Hmm.. baiklah.” Ceklek Zidan dan Danish mengalihkan pandangannya setelah mendengar suara pintu terbuka. Terlihatlah Thania dengan pakaian yang lebih rapi dari sebelumnya. Ia tersenyum ke arah putra tirinya. Ternyata yang datang adalah Zidan. “Eh, Zidan! Kamu ke sini sama siapa, sayang?” tanya Thania sembari tersenyum hangat “—“ Zidan terdiam. Bukannya menjawab Zidan justru menatap Thania lekat. Ia belum beradaptasi dengan Ibu tirinya itu. Pernikahan Danish dan Thania cukup singkat yang membuat Zidan belum bisa mengenal Thania lebih dalam. Apalagi mereka jarang bertemu karena kesibukan masing-masing. “Bunda tanya itu, Boy!” ujar Danish memecah keheningan Zidan dan Thania menatap ke arah Danish secara bersamaan. Mereka cukup terkejut dengan perkataan Danish barusan. “Bunda?” tanya Zidan sembari menatap Ayahnya penuh tanda tanya. “Iya. Bunda Thania sekarang kan jadi Ibu Zidan.” Thania mengerjapkan matanya berulang kali. Apa ia tidak salah dengar? Rasanya mendebarkan sekali setelah mendengar perkataan Danish. Ia tidak menyangka di usianya yang masih muda Thania sudah menjadi seorang Ibu. Ibu dari putra sambungnya. Zidan beralih menatap Thania. Tatapannya terlihat polos. Thania tersenyum manis, ia tidak tahu harus melakukan apa. Ia belum berpengalaman dalam hal ini. “Bunda mau jadi Ibu Zidan?” tanyanya dengan wajah polos. Thania mengangguk tanpa ragu. “Mau. Kan sekarang Bunda sudah jadi Ibu kamu.” “Yeyy..” Zidan memekik bahagia setelahnya. “Zidan sekarang punya Ibu baru.” “Oh ya, jadi Zidan punya dua Ibu dong, Pa?” tanyanya sembari menatap Danish Danish tersenyum kecil. Banyak arti dibalik senyuman itu. Namun, ia tidak ingin membuat hati putranya merasa sedih. Karena mau bagaimanapun mantan istrinya adalah Ibu kandung dari Zidan. “Iya, Boy.” “Zidan boleh meluk Bunda, nggak?” “Boleh. Sini peluk!” Thania merentangkan kedua tangannya dan langsung disambut pelukan hangat dari Zidan. Sudah lama Zidan tidak merasakan pelukan dari sosok Ibu. Setelah bercerai Zidan lebih banyak menghabiskan waktu bersama sang Ayah, daripada Ibunya. Karena setelah menikah Ibu kandung Zidan sudah pergi entah ke mana. Bahkan sudah hilang kabar. Thania mengelus punggung Zidan dengan lembut dan penuh kasih sayang. Hal itu membuat Danish tersenyum haru. Ternyata ia tidak salah dalam memiliki seorang istri. Ia bisa melihat ketulusan di mata istrinya. Danish harap keluarganya bisa tumbuh harmonis dan bahagia seperti ini selamanya. “Ternyata aku tidak salah dalam memilih istri.” “Aku yakin meskipun Thania masih muda tapi dia bisa menjadi Ibu sambung untuk Zidan.” ucap Danish dalam hati Thania melepas pelukannya secara perlahan. Ia beralih menangkup wajah Zidan sembari menatapnya lembut. “Mulai sekarang Zidan panggil Bunda!” Zidan mengangguk sembari tersenyum manis. “Bunda nggak keberatan kan?” “Nggak sama sekali, sayang.” “Terima kasih, Bunda.” “Sama-sama.” Zidan kembali memeluk Thania dengan erat. Ia beralih menatap sang Ayah memintanya untuk memeluk mereka juga. “Pa, peluk kita juga dong!” Dengan senang hati Danish memeluk keluarga kecilnya. Keluarga harmonis yang telah ia mimpikan sejak dulu. Dan baru sekarang Allah mengabulkan Doa-doanya. Tidak mudah sampai di titik ini, namun ia berhasil melewatnya. Harus melewati rintangan yang menguras energy dan mentalnya. “Ternyata Zidan dengan mudah menerima kamu, Thania.” bisik Danish tepat di telinga istrinya. Thania hanya tersenyum menanggapinya. Ia juga tidak menyangka Zidan bisa menerimanya dengan tulus. Padahal mereka baru mengenal beberapa hari. Karena kebaikan seseorang bisa dilihat dari sorot matanya. Anak kecil tidak mungkin salah dalam memilih. Apalagi firasat anak kecil cukup kuat dan mudah peka terhadap lingkungan di sekitarnya. “Oh ya, Papa dan Bunda udah makan siang belum?” tanya Zidan Danish dan Thania saling menatap. “Sudah.” Jawab Thania “Yahh.. padahal Zidan belum makan. Zidan ke sini mau makan siang sama Papa.” Zidan terlihat sedih setelah mendengar jawaban Thania. Karena tidak ingin membuat putranya sedih Thania langsung berdiri. Ia akan mengajak Zidan dan Danish ke kantin untuk makan siang bersama. “Yaudah. Kalau gitu kita makan siang, yuk!” “Beneran, Bunda?” Thania mengangguk. “Iya, sayang. Iya kan, Pak?” Thania meminta persetujuan pada suaminya. Danish mengangguk sembari tersenyum. “Boleh. Kita ke kantin sekarang!” “Yeyy..” Zidan memekik bahagia. Ia langsung menggenggam kedua tangan Orang Tuanya. Karena sudah terbiasa datang ke kampus ini membuat Zidan tahu di mana arah kantin. Cup "Eh," Thania terkejut karena tiba-tiba mendapat ciuman kecil di pipinya. Siapa lagi jika bukan Danish pelakunya! Danish mencuri ciuman kecil saat mereka berjalan keluar ruangan. Untung saja Zidan tidak mengetahui perbuatan Ayahnya itu. Thania menyipitkan mata penuh intimidasi. "Bisa-bisanya Pak Danish mencuri kesempatan dalam kesempitan." ucapnya dalam hati Next>>
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN