"Assalammu'alaikum" teriak Sharen memasuki rumah besar itu
"Walaikumsalam" jawab mami Anis dari ruang keluarga sambil jalan kedepan melihat siapa yang datang dijam yang sudah melewati waktu makan malam ini.
Mami belum sampai ruang tamu Sharen sudah ada dekat ruang keluarga. mami terkejut melihat kedatangan Sharen yang tanpa pemberitahuan itu. biasanya Sharen ke Jakarta bersama ayah/pakdenya namun selalu dijemput di Stasiun/Bandara jika memang naik pesawat.
"Sharen... Sharen beneran itu kamu nak?" tanya mami saking tidak percayanya.
Sharen langsung saja berlari ke arah maminya itu salim dan memeluknya erat "iyaa mii ini Sharen"
"kamu sama siapa kok ke Jakarta ga bilang2 dulu sih.. kan mami bisa jemput" tanya mami sambil celingukan mencari siapa yang datang bersama Sharen.
"Sha.. Shaaareenn... sendirian" jawabnya sambil cengar cengir.
"Apppaaa... kamu sendirian...???" bukan mami tapi ibu yang bertanya. iya ibu Artin, ibu kandungnya yang mendengar nama Sharen diteriakkan majikannya. membuatnya berlari menuju ruang keluarga tempat nyonya besarnya berada.
"ii.. iibuuu..." Sharen segera menghampiri ibunya yang sudah terlihat marah itu.
"iii... iyaaa bu,, Sharen sendirian ke sininya" sebelum ibu sempat menanyakan kenapa sendirian, Sharen langsung saja memeluk ibunya sayang sambil mengatakan kenapa dia datang sendiri.
"Bapak sama Pakde ga ikut karena Sharen yang minta bu... Sharen sudah besar,, Sharen mau mandiri,, lagipula Sharen ga mau buat ayah/pakde kecapekan cuma anterin Sharen yang mau liburan panjang disini..." Sharen menjelaskan dengan manjanya untuk merayu ibunya.
Namun lagi2 sebelum ibu dan maminya mengomelinya Sharen langsung meminta ijin untuk menelpon ayahnya. "sebentar bu, mi Sharen mau telp ayah dulu,, lupa tadi belum kasih kabar udah sampai rumah" Sharenpun mengambil dan mengaktifkan HPnya segera menelpon sang ayah. "Hallooo assalamu'alaikum yah.. Ayah,, Sharen sampun dugi nggeh ten nggriyanipun mami. niki pun kalian ibu kaleh mami, ayah pun khawatir2 maleh nggeh, Sharen selamet mboten kirang nopo2 yah. Ayah kajenge matur kalian ibu mboten?? oohh nggeh pun yah, ayah sehat2 nggeh pun supe ngunjuk obat assalamu'alaikum"
Sharen menawari ayahnya untuk bicara dengan ibunya bermaksud agar dia terhindar dari amukan masal mami dan ibunya itu. namun ayahnya pun takut kena omel ibunya memilih menolaknya. setelah telepon berakhir Sharen siap dengan amukan masal itu, namun dalam hati berharap semoga papi Ibra datang menyelamatkannya. karena papilah yang selalu memanjakan Sharen setiap mereka bertemu.
"kamu naik apa??" tanya ibu masih kalem.
"kereta bu sama taksi" jawab Sharen grogi.
"kenapa bisa senekat itu?! kenapa ga kasih kabar ibu, mami/papi kamu?!" tanya ibu sudah dalam mode marah tingkat dewanya.
"maaf ibuuu... mami..." jawab Sharen sambil menundukkan kepalanya menunjukkan betapa dia menyesal sudah membuat semua orang tuanya khawatir dan marah. dan mungkin memang jawaban itu saja yang mampu meluluhkan hati ibu dan maminya itu.
"Siapa bilang kamu sudah besar?!! ibu benar2 marah sampai meninggikan suaranya. " KTP saja belum punya bilang sudah besar kamu?!! mami hanya diam mengamati namun tetap tidak merubah ekspresi marahnya. membuat Sharen benar2 takut dan merasa sangat bersalah. dia semakin merunduk dan menahan tangis takut kalau dia menangis maka mami dan ibunyapun akan ikut menangis meskipu tidak berhenti mengomel. "maafff..." hanya itu yang bisa Sharen katakan.
"kamu ta..."
"ada apa ini?" tanya papi yang baru saja selesai mandi dan menghentikan omelan ibu.
"Sharen.. kamu datang nak... sudah makan malam belum?" tanya papi sambil menghampiri Sharen yang berdiri menunduk kemudian mengangguk mengiyakan pertanyaan papi. tanpa memperdulikan mami dan ibu, papi langsung memeluk Sharen sayang. dan mamipun langsung ambil alih menjelaskan kenapa ibu sampai marah besar seperti itu
"Sharen datang sendiri pi.. tanpa ayah/pakdenya. dan tidak memberitahu bu artin dulu kalau mau kesini, udah gitu naik kereta pula" sambil memijit pelipisnya mami menjelaskan ke papi.
"Bener itu sayang?" tanya papi sambil mengangkat wajah Sharen yang mulai terisak pelan dalam pelukan papinya. "maaf pi.. hikss.. hikss"
"Hebat dong.. anak gadis papi yang satu ini memang dari kecil sudah berani dan percaya diri"
"papppiii..." "tuaaannn" jawab mami dan ibu kompak memprotes tanggapan papi ibra. Jika seperti ini, jangankan ibu, mami saja yang istrinya papi tidak bisa berbuat apa2. karena mereka tau sesayang apa papi kepada ke2 anak perempuannya itu. papi tidak pernah membedakan kasih sayang pada putri kandungnya dan juga Sharen.
"Sudah ga usah marah2 lagi. kasian Sharen pasti capek menempuh perjalanan jauh selama hampir 10jam bisa sampai rumah ini. apalagi sekarang sudah mulai malam, ayoo papi antar ke kamar kamu nak, istirahat ya kamu. besok saja papi kangen2an sama kamu ya.Dan kalimat panjang papi mampu membuat ibu dan mami menurunkan emosi mereka
Sharen hanya bisa mengangguk mengiyakan perintah papi dan berlalu meninggalkan mami dan ibu yang terlihat menahan marah. Sharen mencium pipi kanan dan kiri ibu dan mami bergantian sebelum benar2 diantar papi ke kamarnya "maaf... Sharen ke kamar dulu"
Baru saja Sharen dan papi sampai di lantai 2 rumah itu, Sharen sudah dikejutkan dengan teriakan Numnum(Sanum) anak ke2 mami dan papi. "SHAREEENNN... lo dateng mau liburan disini kan ma gue?" tanya sanum antusias sambil memeluk Sharen erat.
"Iyaaa... tapi besok saja kita kangen2annya ya Num? sekarang biarkan Sharen istirahat dulu. capek dia, lagian juga sudah malam ini" bukan Sharen yang menjawab tapi papi. Sharen hanya tersenyum menanggapi ucapan papi dan melepaskan pelukannya dengan Sanum.
"iiihhh... papi ganggu aja deh... anak muda itu seterong papi ga gampang capek.. ya kan Shar?"
"Sanummm..." papi mempertegas kalimatnya pertanda tidak mau dibantah
"heeemmmm... yaudah kalau gitu lo tidur ma gue aja ya Shar"
"Sanum... biarkan Sharen istirahat dulu, masih banyak waktu buat kalian menghabiskan liburan panjang ini. kalau kalian tidur sekamar yang ada nanti Sharen ga bisa istirahat karena harus mendengar kamu ngoceh"
"Pappiii... iiihhh... ga asik" kata sanum sambil berlalu menghentakkan kakinya kembali menuju kamarnya. Dan Sharen hanya bisa mendongakkan kepalanya kearah papi meminta agar papi melunak
"Sudah biarkan saja Sanum, kamu juga harus nurut sama papi, kalau ga mau papi marahin seperti ibu dan mami kamu di bawah" kata papi penuh penekanan agar Sharen menurut. "iya piii.. maaf"
Papi membukakan pintu kamar Sharen, memasukkan 1koper besarnya, karena koper satunya lagi berisi oleh2 dari jogja.
"kamu mandi langsung istirahat ya nak" perintah papi sambil mencium puncuk kepala Sharen. "iya pi.. makasih"
Setelah papi keluar dan menutup pintu kamar, Sharen merapikan kopernya dan mengambil piyama tidurnya untuk dikenakan setelah mandi nanti. dalam kaman mandi Sharen menangis sambil berendam dalam bethub. menyesali perbuatan nekatnya yang membuat seluruh orang tuanya marah karena kelewat khawatir.