...............
PURITY
..............
"Selamat pagi kak adam." sapaan penuh hormat itu mengiringi langkah kaki Adam menuju kelasnya. Berbeda dari biasanya, biasanya adam akan membalas sapaan itu dengan riang namun pagi ini otak kusut adam tidak bisa memproses sapaan ramah apapun untuk yang menyapanya.
Sementara adik kelas yang menyapanya itu memaklumi saja kelakuan adam sang wakil ketua OSIS sekaligus ketua klub science yang aneh itu. Mereka sudah terbiasa dengan tingkah senpai berambut pirang mereka itu yang aneh.
Bisik-bisik siswi-siswi memenuhi koridor yang dilalui oleh Kaito, bisik-bisik penuh kagum seperti biasanya. Bisik-bisik yang mendengungkan kekaguman mereka akan paras tampan Adam. Bisik-bisik yang mengudarakan pada seantero dunia bahwa paras tampan itu sangat pantas disandingkan dengan rambut pirangnya.
Rambut pirang yang sangat mencolok di antara siswa-siswi lainnya yang memang tak ada yang berani mengambil warna rambut tersebut. Warna rambut yang menjadikan paras Adam tampak lebih bersinar. Dan entah bagaimana caranya, sampai sekarang tak ada satu guru pun yang mempermasalahkan warna rambut Adam tersebut.
"Meski warna rambutnya begitu kenapa dewan guru tak mempermasalahkannya ya?"
"Kau pikir karena apa? Pasti ada pengaruh kekuasaan."
"Eyy... kekuasaan apa? Orang tua Kak adam bukan donatur terbesar sekolah kita. Kalaupun ada kekuasaan mungkin... kemampuan otaknya?"
"Mungkin saja, Wakil Ketua OSIS, ketua klub science semenjak tahun kedua..."
"Bahkan ada yang mengatakan bahwa dia sudah akan diangkat menjadi ketua klub science dari ia masuk, tapi ia menolak."
"Kenapa seperti itu?"
"Entahlah..."
Bisik-bisik itu sebenarnya bukanlah sebuah bisikan rumor semata, Adam memang sempat menolak menjadi ketua klub science saat tahun pertamanya bersekolah. Entah, sampai saat ini tak ada yang mengetahui alasannya meskipun pada tahun keduanya Adam bersedia mengemban tanggung-jawab itu.
..
.
Langkah kaki jenjang Adam berhenti tepat saat matanya menemukan sosok yang dicarinya sedari tadi. Dengan wajah yang masih ditekuk kesal, Adam mendekati Pangeran sport department, ace klub tenis yang seperti biasa berjalan dengan diiringi dayang-dayang kecentilan dengan make up tebal yang ingin Adam hapus make-up mereka dengan tissue basah.
"Rava Aryasatya." Panggil Adam.
Rava berbalik dan menatap Adam dengan style melipat kedua tangannya "Permisi, karena aku bukanlah orang yang senggang seperti murid lainnya, aku tak ingin menghabiskan waktuku untuk melakukan hal-hal tak berguna."
Dahi Adam semakin berkerut mendengar sapaannya yang langsung dibalas dengan ucapan angkuh sialan itu. 'Dasar adik kelas menyebalkan!' batin nya
Bahkan tatapan matanya terasa merendahkan Adam yang lebih tua dua tahun darinya itu.
"Oh baiklah, karena kau melewatkan rapat untuk kesekian kalinya, bukankah lebih baik kau langsung saja mengalihkan anggaran biaya sport department kepada kami?" Adam melayangkan tatapan mengintimidasinya pada Rava yang tetap berdiri angkuh di hadapannya.
"Oh oke, lakukanlah. Dan aku akan melayangkan surat komplain nantinya. Jadi coba saja." Balas Rava dengan santainya.
"Jika kau akan melakukan komplain nantinya, kenapa tidak lakukan saja sekarang?"
"Kak adam, bukankah sudah kukatakan untuk membaca situasinya jika kau tak ingin diprotes oleh semua orang. Jika... jika anggaran biaya sport department lebih rendah dari culture department maka seluruh program olahraga akan melawan mu." Ucap Rava dengan tampang merendahkan yang tak pernah hilang dari wajahnya.
"Rava~ kamu bisa terlambat untuk latihan." Salah satu dari dayang-dayang itu bersuara mengingatkan Rava yang bahkan tak melemparkan pandangan sedikitpun pada wajah palsu itu.
"Nah, aku masih punya kegiatan klub, permisi kalau begitu."
Dan begitu saja, sekali lagi untuk hari ini Adam gagal membawa Rava yang menjabat sebagai ketua sport department untuk datang ke rapat anggaran biaya mereka tahun ini. Kepala Adam rasanya ingin pecah melihat tatapan meremehkan pangeran sport department yang menyebalkan itu.
.
.
.
.
.
.
"Damn it! Bagaimana ia bisa bertingkah seperti itu pada seniornya? Menyebalkan!" Adam yang sudah terduduk di kursinya yang terletak di ruang rapat OSIS itu menggerutu dengan kesalnya. Berteriak kesal dan berguling-guling di atas meja rapat itu.
"Sudah, sudah. Siswa-siswa dari sport department memang seperti itu, sudah jangan kesal lagi." Sahabat terbaik yang dimiliki Adam itu melayangkan senyuman lembut bak malaikatnya pada Adam dan mengelus pelan surai pirang Adam untuk menenangkannya.
"Tapi! Tapi untuk siswa dari program olahraga dia memiliki lidah yang tajam!" dengus Adam kesal.
Sementara itu, beberapa pengurus OSIS yang berasal dari klub lainnya hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat keunikan dari Adam.
"Dia mulai lagi..." pemuda tampan dengan wajah tegas nya itu mengelus pelipisnya melihat kelakuan Adam.
"Iya dia mulai lagi..." sahut pemuda cantik di hadapannya, "Bagaimana anak-anak klub seni mu, Rafael?" tanyanya.
"Biasa saja, kami tetap membuat lagu seperti biasa" jawab Rafael, "Kau sendiri? Semakin susah berada ditingkat terakhir kelas bisnis, Galan?"
Dan Galan hanya memberikan senyumannya mengatakan pada Rafael bahwa ia baik-baik saja.
Sekolah mereka... memiliki tiga department berbeda. Kebudayaan, Olahraga dan Bisnis. Ketiganya sama besar dan sama berkualitasnya. Namun setiap tahun tentu ada saja department yang terasa menonjol dan mendapatkan prestasi yang cemerlang.
Dan setiap department memiliki klub-klub nya tersendiri. Seperti Adam yang menjadi ketua klub science sekaligus ketua culture department bedasarkan prestasinya di tingkat nasional yang mengantarkan sekolah mereka meraih medali emas saat menghadapi olimpiade science, sebenarnya Adam bersaing ketat dengan Rafael ketua klub seni, untuk mendapatkan jabatan sebagai ketua culture department.
Rafael juga pemuda berprestasi baik dalam bidang seni maupun akademisnya. Namun ia mengatakan jika ia hanya sanggup memegang satu jabatan saja.
Lalu, business department, yang dipimpin oleh Galan,
Yang terakhir adalah sport department yang tahun ini merupakan tahun puncaknya saat seorang atlit berbakat masuk ke dalamnya, atlit berbakat yang langsung saja menjadi ketua department tersebut.
Atlit berbakat yang telah Adam tasbihkan sebagai musuhnya.
Rava Aryasatya namanya, pemuda yang sangat populer dan juga enak dipandang. Karena prestasinya di bidang tenis ia mendapat julukan pangeran di lapangan tenis. Di luar lapangan tenis pun Rava sangat populer bahkan di media lokal mereka nama Rava bukanlah hal asing.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
'Semenjak bocah itu masuk... posisiku sebagai Top Intellectual Cool Beauty di sekolah ini terancam. Sial, akulah pangerannya, bukan bocah yang sok manis dan baik namun sikapnya angkuh dan sialan seperti itu.' Gumam Adam di dalam hatinya.
"Lagipula... dengan popularitasnya bagaimana ia bisa tidak bertingkah arogan? Itu sih membuat citranya semakin keren saja." Galan di seberang ruangan itu berujar dengan lucunya dan membuat Adam mendelik kesal pada nya.
"Bayu!" panggil Adam pada sahabatnya yang sedari tadi masih asik mengusap surai pirangnya itu, "Siapa yang lebih keren? Aku atau bocah Rava itu?" tatapan manis itu adam layangkan pada Bayu membuat Bayu tersenyum kecil.
"Adam yang lebih keren...?" mengabaikan nada bertanya yang dilantunkan oleh Bayu, Adam langsung tersenyum girang.
"Ya kan? Aku yang lebih keren kan? mata mu tidak pernah bohong bayu!" Ucap nya dengan sombong, dan Bayu hanya menggaruk garuk kepala nya melihat sifat Adam yang narsis nya benar-benar tidak ketolong.
"Sebenarnya jika Adam mengurangi keanehan sikapnya, dia akan tetap menjadi pangeran sekolah kan? Wajahnya juga lumayan." Galan bergumam dan hanya bisa didengarkan oleh Rafa yang duduk di sebelahnya.
"Yah, lebih baik jangan kau katakan itu padanya, keanehan Adam itu juga sebagai ciri khasnya sendiri." Sahut Rafael.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sejak kedatangan Rava, hidup seorang Adam dipenuhi dengan kecemburuan.
"Rava~ apa kamu ingin teh?"
"Rava~, aku membuat beberapa camilan, kumohon makanlah sebelum kamu berlatih."
Adam memandang iri pada pemandangan di kantin, saat sejumlah dayang-dayang Rava mengitari meja makannya. Dulu, dulu padahal itu adalah tempat Adam sebelum bocah sialan itu muncul.
"Apanya yang bagus dari sport department sih!" teriak Adam kesal dan sepertinya terdengar oleh Rava.
"Well, masih lebih bagus daripada tak bisa melakukan olahraga apapun." Jawab Galan yang menjadi teman makan Adam saat ini. "Seharusnya kau berterima kasih pada sport department yang aktif sehingga banyak dana sponsor yang masuk ke sekolah kita." Tambah Galan lagi.
"oi galan, sebenarnya kau di pihak siapa sih?" gerutu Adam kesal pada teman satu osis nya itu.
"Tentu saja, grup pemenang yang tampan," jawab Galan dengan santainya dan masih melanjutkan makannya.
"Aku juga tampan! Aku juga ahli matematika, aku bahkan pintar ketika belajar." Ketus Adam yang tak terima seakan Galan tak melihat kemampuannya.
"Tak ada yang spesial dari yang kau katakan itu Adam, dan lagi kelakuanmu sama sekali tak menunjukkan kemampuan akademis mu." Tambah Galan lagi.
"Apa yang-AAA!" pekik Adam saat kepalanya terasa dihantam sesuatu dan terasa basah di kemejanya. "woi!" Bentak Adam tak terima dan berbalik untuk melihat siapa yang melakukan hal menyebalkan ini padanya.
"Oh, maaf. Keberadaan mu terasa begitu lemah sehingga aku tak bisa melihatmu." Dan itu adalah Rava yang menyebalkan dengan segala ekspresi angkuhnya.
"Kau tahu? Rompi yang kau pakai itu melanggar aturan sekolah. Rambut pirang mu juga, terlebih lagi potongan rambutmu yang panjang itu. Sebagai anggota OSIS bukannya kau memberi contoh yang buruk pada murid lainnya? Berhenti mencari-cari perhatian dan pamer sana-sini, kau hanya siswa biasa." Bisik Rava penuh benci pada telinga Adam.
Membuat Adam terdiam dan membiarkan Rava berlalu dari hadapannya, "Rava Aryasatya!" teriak Adam kesal.
- TO BE CONTINUED -