.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sejak saat itu Adam merasa enggan untuk pergi ke kantin. Rava sukses mempermalukannya di hadapan seluruh pengunjung kantin dan itu membuat adam malu sekali.
Jadi setiap makan siang, kalau tidak mengandalkan bekal yang dibutkan oleh bayu sahabatnya, adam akan membawa beberapa roti yang sengaja ia beli sebelum ke sekolah dan memakannya di manapun ia suka, asal jangan kantin.
"Rava Aryasatya yang menyebalkan! bahkan aku tak bisa membalas perlakuannya." Dengus adam kesal. Mata elangnya perlahan menatap ke arah langit yang sedang bersinar cerah itu.
Tempat adam berada saat ini adalah di koridor menuju ruangan klub sciencenya, koridor yang tenang karena koridor ini daerah kekuasaan klub science yang menuntut ketenangan untuk mengerjakan proyek mereka di dalam ruangan.
Dan... ketenangan itu terganggu oleh derap kaki orang yang berlari.
yang mengejutkan adalah, rava terlihat berlari di sepanjang koridor dan beberapa dayang-dayangnya yang mengejarnya.
"Apa-apaan ini?" Tanya adam tak mengerti.
"Oh?" gumam Adam saat melihat kelompok yang mengejar rava, mereka adalah anak tahun terakhir yang membentuk klub aneh, stalker pangeran sekolah. Semua pemuda yang sempat menjadi pangeran sekolah akan selalu dikuntit oleh klub itu dan sebagai mantan pangeran sekolah adam pernah merasakannya namun hanya sebentar karena terlalu banyaknya pangeran sekolah yang seangkatan dengan adam saat itu.
Dan saat itu juga adam tidak punya ruang pribadi saat bersembunyi dari segerombolan wanita centil itu sangat memuakkan bagi adam.
"Aaah... mereka menakutkan," gumam adam. "Lebih baik kutinggalkan saja mereka." Lanjut adam dan berbalik menuju ruangan klubnya.
"Permisi!" seseorang setengah berteriak di belakang nya, ad berbalik
"Hm? Woah!"
Saat ini Rava yang terengah-engah dengan keringat yang membasahi wajah menawannya itu berdiri di hadapan Adam, wajah polos nan terengah-engah itu menimbulkan kesan aneh di pandangan adam.
"Eh? apa ini Sebuah ilusi?" Tanya adam pada diri nya sendiri.
"Hah?" balas Rava yang tak mengerti apa maksud senior aneh di hadapannya ini, padahal Rava hanya ingin senior imbisil di hadapan nya ini menyingkir dari jalannya sehingga ia bisa melanjutkan pelariannya.
"Oh sepertinya aku mendengar suara rava disini." Pekikan dari segerombolan wanita tersebut itu membuat baik Adam maupun Rava bergetar takut.
Adam segera meraih pergelangan tangan Rava untuk membawanya kabur segera dari tempat mereka berdiri.
"Apa yang kau lakukan?" protes Rava yang tak terima akan perlakuan Adam.
"Sudah diam dan ikuti aku saja jika ingin selamat!" balas Adam. adam membawa Rava masuk ke dalam ruangan klub sciencenya dan mengunci pintu masuk ruangan klubnya.
"Dia tak disini?" dengungan kecewa itu terdengar dari grup pengejar Rava sebelum mereka beranjak dari koridor klub science setelah mendapatkan peringatan keras agar tidak berlari dari guru penanggung jawab klub science.
Langkah kaki yang menjauh menjadi penanda kepergian gadis-gadis kelebihan hormon itu. 'Mereka sudah pergi? Oh astaga aku saja masih takut dengan klub itu.' Keluh Adam di dalam hati.
Sementara itu... tautan tangan yang erat itu masih terjalin meski telah berlalu beberapa menit sebelum Rava melepas kasar tautan itu.
"Begitu caramu menunjukkan rasa terima kasihmu?" keluh adam memandangi pemuda yang terduduk di sampingnya itu.
"Bukan aku yang meminta kau menolongku kan?" balas Rava yang membuat Adam kesal dan sedikit kecewa.
"Oke kalau begitu, aku akan memanggil mereka lagi," Adam beranjak berdiri dan akan membuka kunci pintu klubnya sebelum jari-jemari Rava menggenggam tangannya.
"Umh... tu-tunggu..." panggil Rava, membuat Adam memandang Rava dengan seringainya.
dan melihat seringaian itu entah kenapa wajah Rava memerah malu. "Aku tak bisa menghadapi mereka lagi, mereka terus saja menguntitku kemanapun." Ucap Rava memalingkan wajahnya agar Adam tak bisa melihat rona wajahnya.
Dan entah mengapa Rava malah mulai menceritakan tentang ia yang sebenarnya tak mau menjadi ketua sport department, ia yang sebenarnya terusik dengan kehadiran dayang-dayangnya padahal sebenarnya Rava hanya ingin fokus di tenis dan semakin mengembangkan kemampuannya dalam bermain tenis tanpa harus susah payah mengemban semua tugas yang diletakkan di bahunya.
"Walaupun kau mengatakan seperti itu, bukan berarti kau telah berusaha mengerjakan tugasmu sebagai ketua sport department kan?" Respon Adam atas apa yang rava ceritakan itu.
"Aku juga tak meminta menjadi populer, pergi dan tanyakan pada gadis-gadis itu kenapa mereka selalu saja mengikutiku."
Adam yang menangkap nada kesal di suara Rava itu kembali berujar dengan angkuhnya dan kembali membuat persimpangan imajiner itu terlukis di kepala Adam yang kesal dengan keangkuhan bocah kelas satu di sampingnya ini.
"Jika kau lelah diikuti mereka kenapa kau tidak mengatakan kepada mereka untuk berhenti mengikuti mu?" ujar Adam dengan nada lelah menghadapi sikap angkuh Rava.
"Apa kau tahu apa yang akan dilakukan mereka padaku jika aku mengatakan hal itu?" balas Rava yang tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya.
"Hmm..."
Kepala Adam berpikir, bocah di sampingnya ini tak pernah bisa rileks jika gadis-gadis itu mengerubunginya. Juga... bukankah bocah di sampingnya ini tak pernah berbicara dengan gadis-gadis itu?
Bocah ini... terlihat takut dan terintimidasi?
"AH! Katakan saja kau takut pada mereka makanya kau berlari menjauhi mereka." Ujar adam dengan senyuman miringnya.
dan Rava hanya memandang datar pada Adam yang sedang tersenyum itu, "Bukan karena takut, tapi rasanya sesak terus-terusan dikuntit mereka,"
"Oh? Jadi kau tidak menyangkal jika kau kabur dari mereka." Potong Adam dan membuat Rava terdiam. "Ah, betapa sia-sia. Jika aku yang dikejar-kejar mereka, aku akan mengambil keuntungan dari mereka. Lagipula mereka cantik-cantik." Tambah Adam lagi dan pemuda pirang itu tersenyum semakin miring saat Rava masih tak membalas kata-katanya.
"Katakan, kau masih perjaka kan? Kau tahu maksudku kan?"
dan yang tak Adam sangka, wajah memerah Rava menghiasi wajah bocah itu. "T-Tentu saja tidak, aku sudah dewasa. Aku, memiliki banyak partner untuk hal itu." Dan Adam semakin menyeringai melihat Rava yang memaksakan kata-katanya itu. dia bohong.
"Kalau begitu..." Adam beranjak untuk memegang bahu Rava, "Kau pasti sudah terbiasa dengan ini kan..." wajah Adam semakin mendekat ke wajah Rava, tangan yang berada di bahu Rava itu merambat dan mulai memegang dagu Rava.
"H-Hentikan..."
Adam terpana, meski mulut Rava menolak namun tak ada gerakan yang berarti dari tubuhnya untuk menolak Adam. Meski telapak tangan itu bersandar di dadanya untuk mencegah Adam, semakin mendekat namun tak ada tenaga yang ia salurkan untuk benar-benar menahan Adam.
Dengan tangan Rava yang perlahan beralih menjadi meremat rompi Adam dan dengan tangan Adam yang menggenggam mesra pipi mulus Rava, kedua belah bibir itu bertaut dengan sempurna.
Mata yang saling menatap itu perlahan memejam, menikmati tautan basah namun panas membara itu.
"Mmh..."
Bahkan yang lebih muda mulai mengeluarkan lenguhan tertahannya. Lenguhan yang membuat Adam kembali membuka matanya untuk mendapatkan wajah merah merona Rava yang entah kenapa membuat detak jantungnya berdetak tak karuan.
'This guy... actually...' Adam perlahan melepas tautan itu untuk menyelami mata sayu Rava yang terbuka karena terlepasnya tautan itu. '...quite cute.' Desah Adam di dalam hatinya sebelum semakin memojokkan Rava dan merubah tautan itu menjadi pagutan mesra penuh hasrat.
"Mmmh.." lenguhan itu kembali menguar dari bibir Rava yang terkejut saat Adam semakin mendesaknya dengan pagutan basah penuh nafsu itu.
Perlahan mata Adam kembali terbuka, entah kenapa ia menikmati wajah memerah Rava yang terlena oleh pagutan mereka. Adam mengecap pelan lidah pemuda itu entah mengapa terasa begitu manis.
'Apakah wajah manis pemuda ini juga mempengaruhinya?' Tanya Adam di dalam hatinya, tak memerlukan jawaban, Adam kembali meraup bibir Rava.
Di dalam pagutan itu, lidah keduanya kembali bersatu, bermain dalam hasrat panas. Tanpa sepengetahuan Adam, mata Rava terbuka dan memandangi wajah pemuda tampan yang sedang memagutnya itu. "Nggh..." desah Rava saat tubuhnya bergetar menikmati dipagut oleh senior pirang di hadapannya ini.
Keduanya masih saling memagut, terduduk di lantai ruang klub science, diterangi oleh sinar matahari yang menelusup masuk dari jendela besar ruangan klub dan mengiringi tautan indah mereka berdua.
Keduanya terengah-engah kala kebutuhan akan oksigen membuat mereka menghentikan ciuman itu. Rava memandang Adam dengan tatapan tak percaya sebelum kata-kata penolakan itu terucap dari bibirnya.
"Rasanya aneh... melakukan hal tadi dengan seorang lelaki."
Wajah merona itu, dan kata-kata penolakan itu terdengar sangat bertolak belakang. Dan hal itu entah kenapa lagi-lagi membuat kepala Adam berpikir aneh.
'Dia sangat manis... atau... dapat kukatakan bocah ini, erotis?'
Adam menyeringai melihat Rava yang masih terengah-engah dengan wajah merah meronanya itu. Perlahan ibu jari Adam menggapai bibir merah Rava, merasakan jejak yang ia tinggalkan di bibir seksi itu.
Dan bibir seksi yang baru saja dicecapinya itu membuat kepala Adam semakin aneh..
seakan... mencium bocah yang selalu melawan kata-katanya itu adalah hal wajar. Seakan... wajah merona yang diakibatkan olehnya itu adalah hal wajar. Seakan... perasaan menikmati ciuman itu adalah hal wajar.
Dan Adam tak bisa menahan dirinya untuk kembali mendekat saat wajah erotis milik Rava Aryasatya itu seakan mengundangnya untuk kembali merasakan betapa sempurnanya bibir milik Rava di belahan bibir seorang Adam.
'Aku menginginkannya lagi...' desah Adam saat melihat Rava kembali memejamkan matanya.
Namun... tiba-tiba saja pemikiran warasnya datang dan mengenyahkan keanehan di kepalanya.
'Lalu apa yang akan kulakukan setelahnya... maksudku, aku juga tak mengerti apapun karena aku juga masih perjaka!' jerit Adam di dalam hatinya karena ia juga masih awam dengan hal-hal seperti ini.
"hei..." Adam bersuara dan mulai melepaskan Rava dari genggamannya. "Akan menyedihkan jika aku menakutimu berlebihan, karena kau sudah mulai menangis seperti ini." Ucap adam sembari menyeka pelan satu titik air yang menggenang di pelupuk mata rava.
"Yah... sebaiknya kau jangan membiarkan gadis-gadis itu membuatmu menangis seperti apa yang telah kulakukan." Dan entah bagaimana senyuman miring itu kembali tercipta. Membuat kedua pelupuk mata bulat rava melebar mendengar ucapan adam.
Adam keluar dari ruangan itu, meninggalkan Rava dengan wajah memerahnya yang sangat merekah dan sedang terpana memegangi bibirnya "i..ni.. mimpikan?"
Adam keluar dari ruangan itu, untuk berpikir...
"Apa yang baru saja kulakukan..."
-TO BE CONTINUED-