Teach me - 03

1404 Kata
PURITY . . . . . . . . . . "Apa di sini ada kak adam?" Sebuah suara terdengar dari arah pintu ruang kelas tiga yang mengundang semua mata untuk menatap ke arah asal suara tersebut, selanjutnya mulai terdengar suara bisik-bisik mengenai seorang siswa yang datang dari program olahraga. Lebih tepatnya.. ketua Sport Departement, Rava. Dengan kesan angkuh dan dingin, ia tanpa takut atau ragu memasuki ruang kelas seniornya. "Huh?" respon Adam dengan ekspresi wajahnya yang terkejut saat ia tengah memakan roti isinya. Tanpa menjawab Rava menunjuk pintu keluar dengan dagunya, memberikan Adam tatapan agar pemuda itu mengikutinya. Mau tak mau Adam pun menurutinya, hal itu menjadi perbincangan singkat murid-murid kelas tiga yang melihat mereka. Rava Aryasatya si ketua Sport Departement, rival dari Adam Solana si ketua science departement karena mereka tidak pernah akur, kini berjalan keluar kelas dengan Adam yang mengikuti Ravadari belakang. Ada apa? . . . . . Selama berjalan menyusuri koridor sekolah Rava mengabaikan Adam. Dia berjalan dengan santai di depan Adam dan Adam mengikutinya dari belakang. Sedari tadi, murid lain yang berstatus sebagai kakak kelas nya itu memberi tatapan heran pada Rava, Tapi Rava tidak peduli, dia tetap berjalan dengan tenang, seolah mereka semua hanya patung yang tidak berpengaruh apa-apa untuknya. Sedangkan Adam yang mengikutinya dari belakang mengeluarkan tanda tanya besar di kepalanya, mengapa Adam menghampirinya sampai ke kelasnya? Seorang murid baru tingkat pertama, yang memiliki nyali cukup besar untuk datang ke wilayah kelas tiga, begitulah pikiran-pikiran kakak kelas nya mengenai Rava. 'Apa dia marah mengenai apa yang aku lakukan kemarin dan dia berencana akan memukulku sekarang?' batin Adam tiba-tiba dirinya merasa ketakutan membayangkan bagaimana nasibnya sesudah ini, apa Rava akan menghajarnya? Atau lebih parahnya si pangeran tenis itu akan membunuhnya? Adam terus memikirkan hal-hal aneh yang mungkin akan Rava lakukan pada dirinya, sampai ia sadar kemana Rava membawanya, ke lorong sekolah yang gelap dengan beberapa loker di sana. Itu semakin memperkuat dugaan Adam. Rava akan menghajarnya. "Hei, kita mulai memasuki daerah sepi kau tahu," ujar adam mulai merinding sekarang apalagi saat rava mulai berbalik. Bagaikan seorang pencuri yang tertangkap basah Adam merasa gugup sekali, apalagi saat kedua mata Rava menatapnya tajam dan mencengkram sebelah tangannya dengan cukup kuat secara tiba-tiba, "Katakan aku menyakitimu," titah Rava dingin. Adam terkejut. Selanjutnya dia meringis pelan saat merasakan rasa sakit pada sebelah pergelangan tangannya yang dicengkram oleh Rava dengan cukup kuat. 'Menyakiti apa?' batin Adam dibuat bingung apalagi saat Rava secara spontan menariknya ke dalam ruangan penyimpanan yang memang terasing dari ruangan lain. Sepertinya Adam harus membuang semua dugaannya barusan jauh-jauh atau menguburnya di bagian bumi terdalam. Karena bukannya sebuah pukulan pada wajahnya atau sekedar kerah kemejanya yang ditarik sebagai permulaan, melainkan... Sebuah ciuman... Begitu Rava menariknya ke dalam ruangan, tubuh Adam langsung didorongnya hingga terjatuh di lantai, tanpa jeda sama sekali Rava mempertemukan bibir mereka, mencium bibir milik Ad dengan tidak sabaran bahkan memaksanya terbuka dan menjulurkan lidahnya pada goa hangat milik Adam, bahkan hingga gigi mereka bertabrakan. Selama ciuman itu Adam terdiam, jujur ia terkagum dengan kemampuan Rava dalam ciuman mereka sekarang. Bagaimana lidah milik Rava bermain dalam mulutnya, membuat sesuatu dalam dirinya bergejolak dan menginginkan lebih dari ini. Tapi Adam segera tersadar, begitu Rava menyudahi ciumannya dengan wajah yang memerah padam dan terlihat imut. Nafas keduanya tersengal. Mata mereka yang saling memandang satu sama lain, tubuh Rava masih memerangkap tubuh kurus Adam dengan sebelah tangan memegang mesra wajah milik Adam. Pandangan kedua mata mereka saling bertemu, terdiam sedang menikmati pesona satu sama lain. Dalam hatinya Adam tidak bisa berbohong kalau wajah Rava, si pangeran tenis itu, kini terlihat jauh lebih manis dan bertolak belakang, dengan wajah yang biasa ditunjukkannya saat di depan umum. Sebelah tangan Adam beralih menangkup sebelah wajah Rava dengan ibu jarinya mengusap pipi yang berisi yang memerah itu, ia berucap sembari tersenyum miring, "Level ciuman seperti itu tidak akan membuatku hard, apa ini sebagai balasan untuk yang kemarin, heh?" Nada bicaranya terdengar mengejek, meremehkan rava saat ini. Buru-buru Rava menepis tangan adam di wajahnya, dan kedua nya berdiri. kedua mata rava ia alihkan ke arah lain dengan wajahnya yang memerah, "A-aku tidak pernah melakukan ini dengan siapapun, jadi aku tidak begitu mengerti bagaimana cara melakukannya," ungkap Rava dengan nada bicara dan tingkah yang memperlihatkan dengan jelas bahwa ia malu, malu karena sudah mengatakan fakta yang sebenarnya. Adam menaikkan sebelah aslinya, senyum miring masih jelas terpampang di wajah tampannya itu, "Benarkah? Tapi tetap saja kau terlihat ahli dalam hal ini barusan." "Tsk!" Rava berdecak kesal mendengarnya, sungguh ia tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa ia gugup sekaligus senang setelahnya, apalagi saat hanya berdua besama adam seperti sekarang. Ya satu kenyataan pahit tapi bisa dikatakan manis juga untuk rava, meski ia tahu kalau adam membencinya. Tapi apa daya tubuh dan hatinya ini selalu ingin dekat dengan si ketua Science Departement, dengan segala tingkah anehnya. Tubuhnya selalu terasa panas dan menginginkan lebih saat kulit mereka bersentuhan dan lebih parah hatinya yang ingin sekali diperlakukan khusus oleh adam. "Well, aku bisa mengajarimu," jawab Adam santai yang membuat Rava yang semula menatapnya kini mengalihkan pandangannya, meski begitu sebenarnya ada arti lain dari kedua matanya. Dari situ Adam sadar mengapa tatapan Rava kini berubah seolah pemuda itu kecewa dengan kedua pipinya yang masih merona, Adam beropini kalau si ketua Sport Departemen itu menginginkannya, tapi ia malu. Adam pun menarik wajah Rava agar jarak keduanya dekat kembali, tersenyum meremehkan sebelum berbisik dengan suara seraknya, "Karena...kau tertarik untuk melakukannya." "Apa?!" respon Rava bingung. Tapi adam tidak menjawab, Dia berjalan dengan santai, meninggalkan rava yang kebingungan. . . . . . . . . . Kedua kaki Adam menuruni anak tangga satu persatu, mulutnya terus mengumpat dengan berbagai macam kata umpatan yang ia tahu. "f**k! Apa yang baru saja aku katakan?!" rutuk nya sambil mengusap kepalanya gusar. Adam tidak habis pikir apa yang terjadi dengan dirinya tadi. Dia berkata dan berbuat begitu pada Rava seolah ia paham dan sudah ahli dalam hal seks hanya karena si pangeran tenis menciumnya dengan agresif dan menyuguhkannya dengan wajah yang seolah minta disetubuhi itu. Padahal selanjutnya Rava mengakui sendiri bahwa dia itu masih perjaka. "Maksudnya, aku juga masih perjaka, tapi mengapa aku berkata seolah aku sudah pernah melakukannya?" keluhnya lagi sambil menghela nafasnya kasar, masih tidak menerima peristiwa barusan yang memang nyata. "Kak adam?" Panggil seorang gadis yang berada di bawah beberapa anak tangga dari Adam. senyum mengembang dari wajah gadis itu yang entah mengapa membuat sesuatu muncul di benak Adam, "Apa kau hendak ke ruang OSIS?" tanya gadis itu ceria. "hei, Mau berciuman denganku?" tawar Adam spontan, mengabaikan pertanyaan gadis itu. Adam kemudian tersadar atas apa yang baru saja ia tawarkan begitu melihat ekspresi terkejut dari gadis itu, hei yang benar saja? Mengajak seorang gadis berciuman? Adam tidak mengenalnya, ya meski gadis itu mengenalnya dan pasti gadis itu akan menolak— "Tentu, lagian aku belum punya kekasih," jawab gadis itu selanjutnya, yang memang sudah paham dengan tingkah dan pola pikir Adam yang memang sering di luar nalar. But, see? Gadis itu cepat sekali meresponnya dan langsung menerimanya, padahal Adam hanya sekedar menjadikan gadis itu sebagai pengganti eum... atau percobaan mungkin? Tiba-tiba saja otak Adam kembali terbayang wajah si ketua Sport Departemen saat mereka berciuman dan sesudahnya. Apa ia terlalu kejam jika melakukan ini? "Jika kita melakukan ini, aku mungkin akan menyukaimu nanti," terang gadis itu masih dengan senyuman yang sama. Adam terdiam, otaknya memutar kembali adegan di ruang penyimpanan, bagaimana ia dan Rava berciuman, dan kini ia mengajak seorang gadis untuk melakukan hal itu lagi. "tidak, tidak, tidak," tolak Adam dengan imajinasinya sendiri yang mulai kacau, mengundang keheranan dari gadis di hadapannya. Setelah menghela nafasnya pelan Adam pun mulai menarik tubuh gadis itu mendekat, gadis itu harus sedikit berjinjit mengingat tinggi badannya, walau begitu dalam pikirannya, Adam terus memikirkan saat-saat ia melakukan hal ini bersama Rava, rasanya nyaman, tidak ada yang aneh sama sekali meski mereka sama-sama lelaki, dan sekarang ia akan mencium seorang perempuan? Entah mengapa Adam malah menghentikan gadis itu, memperbesar jarak antara mereka. Tiba-tiba otaknya mengingat wajah Rava yang tengah merona dengan tatapan sayu nya. "Ya meski begitu, aku pikir ini tidak baik," ujar Adam dengan nada halus, tidak ingin melukai hati gadis itu. "Benarkah? Oh lagi pula aku tidak mungkin juga bersama kak adam, seperti itu." terang gadis itu masih tetap tersenyum, "Kalau begitu sampai bertemu lagi," pamitnya membuat ad terdiam karena bingung. "Apa maksudnya?" tanya adam pada dirinya. dan kemudian menaikkan kedua pundaknya dan pergi. TO BE CONTINUED
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN