Keterkejutan Nana belum berakhir dari sebatas papan nama yang berdiri di depan bangunan itu saja. Begitu Frans memarkirkan mobilnya lebih dekat dengan bangunan tersebut, sekelompok anak kecil keluar berlarian dari pintu utamanya. “Hah?” Nana menutup mulutnya dengan kedua tangan karena terkejut melihat adik-adik pantinya. Ia langsung menoleh ke belakang untuk melihat Frans yang ternyata tengah menatapnya, tersenyum senang. “Kita menginap di panti asuhanmu,” Ucap Frans dengan mengusap kepala Nana sebelum menarik rem tangan mobilnya. “Frans..” Nana hanya bisa bergumam dengan dua mata berkaca-kaca. Ia bahkan tidak harus menunggu Frans turun dan membukakan pintunya dari luar seperti biasa. Ia langsung turun sendiri dari mobil itu untuk menyapa adik-adik pantinya. “Kak Nana!” Seru anak-anak

