Peduli

1742 Kata

Sebenarnya, seluruh tubuh Nana rasanya akan rontok. Begitu ia duduk di sofa besar itu, Nana merasa nyaman sekali hingga rasa kantuknya jadi semakin besar. Nana tidak tidur kemarin dan hari ini harus bekerja mati-matian dari pagi sampai malam. Sekarang, ia juga harus menemani Frans. Meski begitu, Nana tidak merasa masalah dengan ini. Selagi Frans bisa beristirahat dengan benar, maka Nana akan melakukannya untuk pria itu. Lima menit berlalu. Kepala Nana sudah bersandar pada sandaran tangan sofa yang panjangnya sekitar dua meter itu. Ia sudah terlelap dalam posisi duduk. Karena terlalu lelap, Nana bahkan tidak menyadari ada seorang pria sedang berlutut di hadapannya. Frans menyeka helaian rambut Nana yang jatuh di pipi tirusnya. Wajah Frans sendu, penuh dengan penyesalan. Ia hanya bisa mena

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN