“Minta maaf? Kau bercanda? Untuk apa aku minta maaf padamu?” Jawab Frans, ketidak senangan turut nampak di wajahnya. Ia bahkan tidak jadi kembali duduk. “Hei, apakah kau berpura-pura amnesia? Biarkan aku menyebutkan apa saja kesalahanmu, yah,” Ujar Nana geram. “Pertama, kau tiba-tiba masuk menerobos kamarku di saat aku sedang setengah hendak berpakaian. Ke dua, kau hampir membunuhku dengan cara mencekik leherku. Apa itu sudah jelas, Pak Earvin yang terhormat?” Lanjut gadis itu. Sikap kurang ajar Nana membuat Frans kesal. Ia melangkah mendekati gadis itu, “Apa kau tau, kenapa aku menerobos kamarmu? Pertama, aku bebas masuk ke ruangan mana saja di rumahku. Dan yang ke dua, kau menjemur pakaian bodohmu itu sembarangan di rumahku yang indah. Seharusnya, kau yang meminta maaf padaku!” Wajah

