Keesokan harinya, Nana datang ke kantor dengan kedua mata bengkak dan wajah pucat. Meski pakaian dan rambutnya rapih, namun tidak cukup untuk menutupi kekusutan pada wajahnya. Kiky menghampiri Nana yang sedang duduk membaca buku perusahaan. “Nana.. Kenapa matamu bengkak begitu? Semalam kau menangis?” Tanya Kiky dengan wajah khawatir. “Ah.. I-iya,” Angguk Nana canggung. “Aku.. merasa sedih karena gajiku dipotong.” Kiky mengangguk sedih, “Aku pun juga akan menangis kalau menjadi kau, Na. Kau juga pasti sangat tertekan setelah dimarahi habis-habisan oleh Pak Earvin kemarin. Bu Tati saja sampai tidak memarahimu..” Nana hanya mengangguk tipis. Sepertinya Frans bisa bekerja sama dengan baik. Kemarin, saat Nana dipanggil ke ruang Bu Tati, wanita itu mengatakan bahwa Frans memintanya untuk ti

