Si pirang itu meletakkan kedua botol yang ia pegang dengan asal ke atas tasnya. Ia langsung melangkah secepat dan sesunyi mungkin ke dalam medan penyiksaan. Namun, ia tidak sadar bahwa ia lupa mengunci kembali pintu yang tadi ia buka. Dan yang lebih parah lagi.. ia bahkan tidak menutupnya dengan benar. Selang beberapa menit, seorang gadis berjalan cepat melewati pintu tersebut. Nana membuka pintu kayu yang berada di ujung lantai tiga menggunakan kunci duplikat yang diberikan oleh Bu Rosma. Setelah pintu terbuka, angin besar langsung berhembus menerpa tubuh Nana hingga rambut halusnya berterbangan ke belakang. Sambil menyipitkan kedua matanya agar tidak terciprat air, Nana melangkah ke balkon itu dan menutup pintu di belakangnya. Untungnya, ukuran balkon tersebut cukup lebar sehingga jar

