Frans tersenyum hangat, lalu mengusap kepala Nana, “Terima kasih. Kau adalah gadisku yang sangat pengertian,” Kedua pipi Nana seketika memerah. Ia segera berdehem dan bergeser untuk menghindari tangan pria itu. Kemudian, Frans teringat akan sesuatu. Ia langsung bangkit dari duduknya dan mengambil sesuatu dari atas meja, lalu melangkah ke pojokan ruangan dekat jendela. Ia berdiri cukup lama di pojokan gelap itu dengan kedua tangan terangkat ke atas. Nana menatap Frans yang memunggunginya dengan heran. Namun perhatiannya lebih terfokus pada gambar naga besar dan gambar lainnya yang terlukis di punggung lebar dengan gelombang-gelombang otot itu. Ketertegunannya langsung lenyap saat Frans menurunkan tangan dan berbalik menghadapnya dengan senyum lebar pada wajahnya. “Apa yang kau lakukan?

