“Hah.. Bahkan tidak ada pemanas kasur juga? Baiklah.. Kau juga tidak boleh meminta lebih, Frans. Ingatlah, ini bukan penginapan.” Gumamnya dengan meraih kedua tangan Nana dan menggenggamnya erat. Kemudian ia bergeser lebih dekat dan menghembuskan hawa panas dari mulutnya pada isi genggaman kedua tangannya, “Ck! Kenapa tangannya terus-terusan terasa dingin begini?” Kemudian Frans mengangkat pandangannya untuk menatap wajah Nana karena ia hendak menyentuh kening gadis itu untuk merasakan suhu tubuhnya. Namun ia terhenti ketika menyadari kedua mata Nana sudah terbuka, menatapnya dalam diam. Kedua mata Frans mengerjap. Ia menatap Nana balik dengan bingung. Mereka saling berhadapan dengan kepala yang berbaring di atas bantal putih empuk. Frans bisa melihat kedua bola mata Nana yang memantulka

