Hari Minggu pagi ini Raya berencana untuk bangun lebih siang dari hari biasanya. Dia janji akan sering-sering memandikan Miracle pada Ibu agar izin tinggal bayi kucing itu bisa terus diperpanjang setiap pekannya, tetapi karena ini pengalaman pertama Raya dalam menjadi orang tua kucing, ia sama sekali tak punya bayangan bagaimana cara memandikan hewan. Sehingga kemarin sore ia menghubungi dokter Robin untuk minta diajari. Kebetulan, hari ini dokter Robin jaga di klinik, karena kemarin masuk pasien seekor kucing dewasa yang patah kaki karena tertabrak kendaraan bermotor, sehingga beliau harus lembur untuk memantau kesehatannya.
Meski begitu, Raya tidak bisa mengabaikan suara bising dari arah luar kamar, sehingga mau tidak mau dia terpasksa turun dari tempat tidur yang nyaman, lalu membuka pintu. Miracle yang sejak sebelum subuh tadi sudah mencolek-colek pipinya untuk minta makan, menguntit dari belakang. Lima hari setelah diadopsi, Miracle kini berani naik dan turun tangga sendiri tanpa bantuan Raya. Sebuah prestasi yang membanggakan bagi orang tua asuh kucing baru sepertinya. Ia tak tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh rata-rata kucing untuk bisa beradaptasi dengan tempat tinggal baru mereka, tetapi bagi Raya Miracle hidup sesuai namanya, yaitu keajaiban.
“Jam berapa ini?” sindir Ibu Raya dari hadapan kompor, ketika Raya ke dapur untuk mengambil air minum. “Tidur jam berapa semalam?”
“Jam 11 malam karena kemarin ada diskusi seru di Discuss,” jawab Raya singkat.
Discuss adalah nama aplikasi berbasis forum yang tadinya hanya populer di kalangan gamer saja, tetapi kini hampir semua orang yang Raya kenal punya akun di sana. Sejak usahanya mengakhiri hidup yang gagal, Raya memutuskan untuk bergabung di komunitas untuk kehidupan yang lebih baik. Sejauh ini, ia sudah mengikuti sesi yoga bersama sebanyak dua kali dan sesi mengobrol di saluran suara membahas topik-topik yang disukainya.
“Sekarang masih jam 8 pagi kok, Bu. Belum siang-siang amat.”
“Tadi subuhan nggak?” tanya Ibu Raya lagi. Beliau mengambil sendok dari rak piring, lalu mencelupkan ke dalam panci. Setelah itu, sambil meniup-niup kuah yang masih agak panas, beliau menyodorkan sendok tersebut ke depan mulut Raya. “Cicipi, kurang apa bumbunya.”
Raya hanya menurut saat ditodong seperti itu. Padahal ia benar-benar baru bangun; belum sempat cuci muka apa lagi menggosok gigi. Ia mencecap beberapa kali untuk menganalisa hasil masakan Ibu. Biasanya, Ibu Raya cenderung mengurangi garam karena di rumah ini ada dua orang lansia dan satu orang dewasa muda yang mengalami gangguan kecemasan, sehingga ia harus mengikuti pola diet orang tua agar konsumsi nutrisinya lebih stabil.
“Udah Bu, udah enak,” jawab Raya. Ibu mengambil sendok sayur yang tadi dipakainya untuk mengaduk makanan, lalu meneteskan kuah sup di punggung tangan dan menjilat sedikit.
“Kurang asin dikit,” ucap Ibu Raya. Beliau mengambil toples berisi garam dan menambahkan sejumput lagi untuk menambah rasa. Melihat banyaknya masakan yang dibuat Ibu jadi membuat Raya bertanya-tanya.
“Masaknya banyak bener, Bu, emang mau ada tamu?”
Biasanya ketika hari kerja, Ibu hanya masak seperlunya saja untuk tiga orang. Terlebih lagi, karena Raya bekerja hampir sejak pagi hingga petang, praktis ia hanya makan sekali saja di rumah setelah pulang kerja. Sehingga, biasanya Ibu hanya memakai panci diameter 14 cm untuk memasak. Tetapi kali ini Ibu menggunakan panci besar yang hampir dua kali lipat dari ukuran biasanya.
“Lho, bukannya Ibu udah bilang kalau Mbak Salsa sama keluarganya mau ke sini nanti siang?”
Raya paling tidak suka mendengar nada suara seperti ini keluar dari mulut Ibu. Seolah-olah beliau meletakkan kesalahan di pundak Raya sepenuhnya, karena ia kurang perhatian akan segala informasi dari beliau; atau saat beliau lupa memberitahu, tetapi ingatan Ibu terdistorsi hingga beliau merasa sudah pernah cerita. Raya hanya mengangkat bahu. Ia membungkukkan tubuh untuk mengangkat Miracle yang sibuk berguling-guling di atas keset dapur, hendak mengajaknya berlalu dari sini.
“Ibu kan tahu kalau aku agak kurang waras, jadi ya mohon maaf kalau aku lupa.”
Dulu Raya selalu memasukkan dalam hati setiap perkataan Ibu yang menyakitkan perasaannya. Hubungan mereka seperti berjalan di atas kulit telur; Raya harus selalu berhati-hati dalam memilih kosakata atau mengatur intonasi suara agar tidak melukai beliau. Ia tak tahu sejak kapan hubungannya dengan Ibu berubah menjadi dingin seperti ini. Mungkin setelah Mas Arian menikah dan keluar dari rumah untuk berkeluarga. Atau setelah Raya bekerja di kantornya sekarang dan ia jadi jarang punya waktu untuk mengobrol dengan Ibu dari hati ke hati. Mungkin juga jauh sebelum itu; sekitar sepuluh tahun lalu saat Bapak ketahuan berselingkuh dengan wanita muda yang hanya dua tahunan lebih tua dari usia Raya. Keluarganya sempat kacau balau, tetapi Bapak pulang ke rumah dalam kondisi berantakan, beliau bersimpuh dan mencium kaki Ibu untuk meminta maaf. Karena pada saat itu Raya masih 17 tahun dan Arian baru 21 tahun, Ibu memaafkan Bapak. Mereka batal bercerai, namun hubungan rumah tangga yang sudah hancur ini tak bisa kembali utuh seperti sedia kala.
Hingga hari ini, Raya masih menyimpan dendam pada Bapak. Rasa amarah yang membuat Ibu sakit hati. Karena beliau merusak kepercayaan yang telah Raya berikan padanya. Sebab beliau tak bisa menjadi teladan yang baik di keluarga dan gagal menjalankan tugas sebagai kepala rumah tangga. Banyak sekali hal yang tidak Raya sukai dari Bapak, sehingga ia memilih untuk menghindari interaksi dengan beliau sejauh yang ia bisa agar perasaan yang menggelegak dalam dirinya tidak lagi membara.
“Aku mandi dulu ya, Bu. Hari ini mau keluar sebentar, janjian sama dokter hewan di klinik buat mandiin Miracle,” ucap Raya sambil berlalu ke arah kamarnya lagi di lantai atas.
“Mandiin kucing aja pakai ke dokter hewan?” tegur Ibu dari bawah. Tetapi Raya tidak menyahut lagi karena tidak ingin teriak sebab jarak mereka sudah terlalu jauh untuk bisa mengobrol.
Raya mandi dengan cepat lalu berpakaian kasual. Baginya, pakaian yang nyaman terasa lebih baik ketimbang pakaian yang terlihat indah, jadi hampir separuh lemari Raya berisi hoodie, kaus, dan celana jins dengan 1-2 ukuran lebih besar dari tubuhnya. Ia segera memasukkan Miracle ke dalam kandang portabel, tak lupa membawa satu saset makanan basah kesukaan Miracle, buat jaga-jaga kalau dia lapar di jalan. Ia turun kembali ke bawah dan berpamitan pada Ibu. Raya mungkin akan sekalian mengunjungi tempat pencucian mobil setelah dari klinik dokter Robin, ketika melihat mobilnya tampak berdebu dan kotor. Tetapi, sebelum itu, ia membeli dua gelas kopi untuk dia dan dokter Robin, karena dokter itu mengatakan jika dia kurang istirahat sejak malam dalam salah satu pesan singkatnya.
“Masuk, Raya,” sapa dokter Robin saat menyambutnya di depan. Raya menyodorkan dua gelas kopi di dalam tas kain yang dibawanya pada satu tangan pada pria tersebut, dan ia menerima dengan senang hati.
“Terima kasih, ya, kamu tahu aja kalau saya suka kopi hitam,” ucap dokter Robin sambil mengambil segelas Americano. Ia meninggalkan gelas satu lagi yang berisi latte di dalam tas daur ulang tersebut untuk Raya.
“Cuma nebak aja kok,” ucap Raya sambil menggendong Miracle yang berhasil dikeluarkan dari kandang portabel tanpa berontak. Miracle mengendus-endus sekitarnya dengan penuh keingintahuan, sehingga dokter Robin mengulurkan sebelah tangannya di depan hidung kucnig kecil tersebut. Tampaknya ia mengenali tangan tersebut, karena reaksi Miracle berikutnya langsung mengusap-usapkan kepala di tangan dokter Robin.
“Mira masih inget sama saya, kayaknya,” ucap beliau sambil terkekeh. Raya mendengkus geli mendengar pernyataan tersebut.
“Jelas, dokter kan bapaknya Miracle selama dia di shelter.”
Pada saat itu Raya tak menyadari makna lain di balik ucapannya. Jika Robin adalah Bapak asuh Miracle, berarti dia ibunya. Begitupun dokter Robin sepertinya terlalu lelah menjaga kucing yang opname sehingga beliau hanya menganggap ucapan tersebut sepintas lalu.
Setelah makan sepotong roti shortbread yang Raya bawakan serta dan menenggak setengah gelas kopi, dokter Robin mengajak Raya ke ruangan yang biasa dipakai untuk memandikan kucing. Beliau memberi banyak tips; mulai dari usahakan memandikan kucing di tempat yang tertutup, suhu air yang ideal, serta cara memberi sampo kucing agar kandungan bahan yang tercampur di sana seperti anti kutu atau anti jamur bisa bekerja lebih efektif. Miracle tampak sangat anteng saat dimandikan. Ia baru panik dan mendesis marah ketika selesai mandi dan dokter Robin menyalakan blower untuk membuat bulunya lebih cepat kering. Sehingga dokter Robin sampai memasukkannya di dalam kandang selama proses pengeringan agar dia tidak menjadi terlalu stres. Raya merasa agak beruntung karena ia mengadopsi kucing kampung berbulu pendek, sehingga proses pengeringan ini tidak memakan waktu lama. Memang kucing kampung adalah pilihan terbaik untuknya, dan Miracle menyempurnakan kehidupannya.
“Nah, sudah,” ucap dokter Robin sambil menyerahkan kembali Miracle yang sudah kering dan tercium sangat wangi akibat aroma sampo bercampur pengharum bulu kucing ke pelukan Raya. “Kalau kamu kesulitan pakai blower, bisa diangin-anginkan di tempat yang agak teduh sampai setengah kering, baru dikeringkan pakai alat. Biar dia nggak terlalu panik dan trauma. Atau bisa juga kamu beli handuk yang menyerap air lebih cepat, jadi Miracle nggak perlu dijemur dulu. Tapi blower hukumnya wajib ya, karena bulu kucing yang kurang kering maksimal bisa jadi penyakit nanti.”
“Terima kasih, Dok,” ucap Raya. Ia melambai-lambaikan kaki depan Miracle ke arah dokter Robin. “Bilang makasih sama dokternya, Nak.” Raya mengembalikan Miracle ke dalam kandang portabel lalu merogoh dompet dari dalam tas jinjing untuk mengeluarkan uang. “Biayanya berapa, Dok?”
Robin menatap Raya dengan ekspresi jenaka, lalu ia mengangkat gelas kopinya yang kini hampir habis. “Udah lunas, ditukar sama kopi.”
Raya mengerutkan kening, “Jangan gitu dong, Dok. Tadi kan Miracle pakai sampo di sini juga. Terus airnya juga tadi banyak karena dia dibilas beberapa kali sampai bersih.”
Dokter Robin menggelengkan kepala pelan, “Nggak apa-apa, anggap aja servis ekstra untuk orang tua baru. Atau, kalau Raya bersikeras untuk membayar, bagaimana kalau akhir pekan depan temani saya nonton film?”
“Hah?”
Ajakan tersebut terdengar sangat mendadak dan mengejutkan. Raya tidak bisa menutupi kekagetannya akan tawaran yang tiba-tiba itu. Pikiran Raya seketika tertuju pada Saka, rekan kerjanya yang seminggu ini sudah menunjukkan rasa ketertarikan padanya. Bolehkah ia menerima ajakan orang lain, di saat ia menyadari ada seseorang yang menaruh hati padanya?
Melihat keengganan Raya dalam menjawab, dokter Robin tersenyum lemah. “Nggak apa-apa kalau kamu nggak mau, nggak usah terlalu dipikirkan.”
“Kalau gitu, saya kabari aja minggu depan jadi atau enggaknya,” desis Raya lirih. Ah, pada saat ini ia benar-benar butuh masukan dari Rio. Apakah tidak apa-apa jika dia sedikit menggantungkan pengambilan keputusannya berdasarkan masukan seorang teman?
“That sounds great. Kabari aja nanti kalau senggang, ya.”