bc

Day by Day

book_age16+
219
IKUTI
1K
BACA
brave
doctor
drama
bxg
lighthearted
witty
office/work place
illness
friends
like
intro-logo
Uraian

Satu tahun, 365 hari. Sarayu Dineshcara menandai agendanya hari demi hari. Mencoba mencari alasan untuk tetap bertahan hidup dan menahan diri dari keinginan untuk resign, meninggalkan rumah, mengejar mimpi, atau lebih baik mengakhiri hidup secara paksa. Sepanjang satu tahun ini ada banyak hal yang ia alami, bertemu dengan banyak orang, dan menemukan arti kehidupan dalam persepsi yang benar-benar baru.

chap-preview
Pratinjau gratis
Day 1 : Selasa, Januari 1 2019
Satu hari setelah hari ulang tahun Raya. Satu minggu setelah dia ditemukan terbaring di parkiran mobil gedung kantornya dengan mulut berbusa. Tidak ada yang berbeda antara hari itu dengan hari-hari sebelumnya, juga hari-hari pada beberapa bulan lalu. Ia masih bangun siang jika baru bisa tidur menjelang subuh. Hanya saja, semalam ia menonton film akhir tahun maraton di saluran televisi berlangganan sambil menghabiskan seloyang pizza ekstra keju ukuran besar dan cemilan lainnya. Satu hal yang ia sadari siang ini saat memandang bayangannya di cermin, pipinya tampak bertambah tembam dalam semalam. Atau mungkin dia memang sudah gemukan sejak dulu. Sejak depresi pertama kali menerpanya sekitar enam bulan lalu. Raya menggosok giginya dengan kecepatan tinggi, sekeras gusinya bisa bertahan tanpa mengalami perdarahan, lalu cepat-cepat menjauhkan diri dari cermin. Raya menggunakan tiga puluh menit ke depan untuk memunguti kardus pizza, bungkus-bungkus kosong keripik kentang berbagai rasa, membersihkan serpihan-serpihan kulit kacang yang mengotori karpet bulunya dengan pengisap debu, lalu membaringkan tubuh di kasur pegas. Tengkuknya terasa nyeri karena semalam ia tidur meringkuk di lantai. Teringat sesuatu, Raya buru-buru bangkit, ia merogoh-rogoh laci nakas mencari ponselnya yang mati kehabisan baterai. Ia menyambungkan kabel pengisi daya sebelum menekan tombol hidup. Rentetan ucapan selamat tahun baru di aplikasi obrolan kantor dan grup-grup pertemanan maupun keluarga masuk secara bersamaan membuat ponselnya bergetar-getar dan menghasilkan suara seperti dengungan sekelompok lebah. Raya tidak tertarik memeriksa ponselnya. Tidak seorang pun yang ingat bahwa kemarin pada malam pergantian tahun, ia resmi bertambah usia. Tidak ada ucapan dari kerabatnya atau beberapa teman dekat, karena sepertinya mereka sibuk menyiapkan pesta tahun baru. Raya tidak menyalahkan siapa-siapa yang lupa dengan hari ulang tahunnya. Bahkan orang tuanya lebih memilih merayakan tahun baru dengan keluarga besar pakdenya di kota lain. Raya hendak memejamkan matanya kembali, jika saja perutnya tidak keroncongan. Raya memutuskan untuk turun ke lantai bawah. Pintu depan masih terkunci rapat, masih seperti kondisi terakhir setelah Raya menerima pesan antar pizza-nya. Raya membuka pintu depan. Terik matahari menjelang pukul dua belas siang menusuk pandangannya, membuat Raya memicingkan mata. Halaman depan tempat mobil perkotaan mungilnya terparkir tampak basah. Sepertinya semalam atau pagi ini turun hujan cukup deras. Teringat kembali pada rasa laparnya, Raya beranjak ke dapur. Mengisi air dalam panci, lalu menyalakan kompor. Ia sedang menimbang-nimbang apakah memasak sebungkus atau dua bungkus mie instan. Tetapi, pilihannya berakhir pada sebungkus mie instan ukuran jumbo. Sambil menunggu airnya mendidih, Raya memeriksa isi kulkas, mencari tambahan lauk untuk makanannya. Sayang, ia hanya menemukan sekotak tahu dan telur. Raya mengambil mangkuk kosong, mengocok telur dengan garpu, menggunting cabai rawit, memasukkan tahu lalu mencacah kasar, terakhir memberikan garam dan lada sebagai penambah rasa. Raya bukan orang yang jago memasak. Ia hanya bisa membuat menu sederhana untuk dirinya sendiri. Raya merebus mie instannya bersamaan dengan menggoreng omelet telur di wajan anti lengket. Makanan Raya matang hampir bersamaan. Ia memindahkan ke piring saji, lalu menghias seadanya dengan tomat ceri yang dibelah empat sehingga mirip kelompok bunga. Raya membawa makanannya ke lantai atas setelah memeriksa ulang kompornya telah dimatikan. Terakhir kali ia ceroboh, ia hampir membakar rumah karena kelalaian kecil. Raya menyantap makan siangnya di depan televisi sambil mengganti-ganti saluran. Kebanyakan acara berupa gosip siang, bincang-bincang dengan peramal atau ahli feng shui tentang peruntungan di tahun 2019, atau liputan ke tempat-tempat liburan. Raya menggigit garpunya saat pembawa berita menampilkan kondisi wahana permainan air yang padat pengunjung. Raya tidak suka meninggalkan rumah. Yah, kecuali untuk berangkat bekerja atau memikirkan cara untuk pindah ke tempat tinggal baru, Raya merasa lebih nyaman tinggal sendiri. Saat-saat seperti sekarang ini sudah didambakannya sejak pertengahan tahun lalu, di mana ia bisa menguasai rumah seluas 150 m2 dengan tiga lantai untuk dirinya sendiri. Selesai makan dan mencuci piring, Raya membawa keranjang pakaian kotornya ke lantai atas untuk mencuci pakaian. Kali ini ia membawa ponselnya serta, yang meski baru terisi baterai setengah, tetapi sudah cukup untuk memutar lagu. Waktu menunjukkan pukul setengah tiga sore ketika Raya kembali ke kamarnya. Mbak Shyntia, psikiaternya selalu berpesan untuk menyibukkan diri agar pikirannya tidak selalu tertuju pada keinginan untuk mengakhiri hidup dan hal-hal menyedihkan lain tentang kehidupannya. Raya beranjak ke kamar mandi. Ia mengisi bathtub hingga hampir penuh, memasukkan bath bomb kesukaannya beraroma vanilla dan bergamot, lalu menggosok tubuhnya dengan hati-hati. Ponselnya terletak di wastafel, memutarkan daftar putar musik instrumen gitar akustik bermelodi rancak. Sesekali alunan musiknya terhenti karena pemberitahuan pesan masuk, meski ia abaikan. Raya bersandar di dinding bathtub, memejamkan mata. Kilasan ingatan tepat setahun yang lalu membayang di balik pelupuk matanya. Ia dan Bisma merayakan ulang tahunnya sekaligus pergantian tahun bersama. Ia mematut di depan cermin kamar mandi president suite yang mereka sewa, lingerie merah mudanya tampak sempurna membalut tubuh. Elegan. Polos. Raya sudah siap memberikan segalanya untuk Bisma. Semua pertama dan terakhirnya. Ia tidak pernah menemukan laki-laki seperti Bisma sebelumnya, dan ia begitu yakin bahwa Bisma bisa menjadi sandaran terakhir. Bisma sedang mengobrol dengan seseorang di telepon. Ia terlihat gelisah, berjalan mondar-mandir di balkon, seraya mengisap rokoknya dalam tarikan-tarikan kuat. Seperti sedang menahan emosi, atau justru malah meluapkannya. Raya duduk di tepi ranjang, berusaha keras menekan keingintahuannya. Ia dan Bisma selalu memberi jarak untuk urusan pribadi masing-masing. Suara tinjuan Bisma di dinding menyentak Raya. Ia bergegas mendekati kekasihnya, tetapi Bisma menepis dengan gelengan kepala. Ia mematikan telepon, menggenggam benda tersebut kuat-kuat dengan salah satu tangan, seolah hendak meremukkan benda tersebut. Bisma menggenggam kedua bahu Raya, mendaratkan ciuman di kening. "Aku keluar dulu sebentar. Kamu mau nunggu, ‘kan?" tanyanya. Raya hanya menjawab dengan anggukan lemah. Bisma keluar dari kamar hotel mereka dan tidak pernah kembali lagi. Hingga waktu Raya check-out keesokan harinya, membiarkannya membawa dua koper berisi barangnya dan barang Bisma. Hingga seminggu kemudian Bisma benar-benar menghilang dari hadapan Raya. Teleponnya tidak tersambung, pesannya tidak terkirim. Bahkan ketika Raya mencoba menemui Bisma di kantor, pegawai lain di kantor itu selalu mengatakan Bisma tidak ada. Mereka baru bertemu kembali tepat tiga bulan setelah hari itu. Bisma meneleponnya menjelang tengah malam, mengajak bertemu di suatu tempat. Raya mengembalikan koper Bisma, laki-laki itu memberinya undangan pernikahan. Raya membuka mata ketika menyadari pipinya basah oleh air mata. Bisma mengaku khilaf. Waktu itu perusahaan yang bergerak di bidang teknologi tempat Bisma bekerja sebagai kepala divisi sedang mengadakan acara outing bersama. Ia salah masuk kamar hotel karena dalam pengaruh alkohol. Bisma meniduri sekretarisnya malam itu. Juga malam-malam sesudahnya, secara diam-diam di balik punggung Raya. Semua itu karena Raya tidak kunjung memberikan apa yang Bisma inginkan. Raya meringkuk di dalam bath tub, tangisnya makin kencang. Semestinya ia memberikan itu lebih awal, hingga hal ini tidak harus terjadi. Bisma laki-laki yang bertanggung jawab atas perbuatannya. Semestinya nama Raya yang tercantum sebagai mempelai wanita Bisma di undangan pernikahannya. Semestinya. Raya mengambil handuknya yang tergantung di rel dekat dinding. Ia tak henti menyesali dan menyalahkan diri sendiri sejak hari itu. Raya memblokir semua kontak dan akun sosial media Bisma untuk mencegah dirinya sendiri melakukan hal bodoh, seperti mengintip kehidupan Bisma sekarang yang terlihat lebih bahagia dengan putri kecil mereka. Selesai berpakaian, Raya mengambil dompet, ponsel dan kunci mobil, lalu turun ke bawah. Ia berkendara menuju kedai kopi langganannya melewati jalanan yang terlihat lengang. Sepertinya orang-orang lain menghabiskan energi mereka kemarin malam hingga hari ini tidak tampak aktivitas signifikan di tempat-tempat umum. Antrean di depan Raya adalah sepasang pemuda-pemudi dimabuk asmara. Hera dan Janitra? Pendengarannya tidak terlalu jelas, saat mereka diminta memberikan nama untuk ditulis di gelas. Ia sendiri juga tidak mau tahu siapa mereka berdua. Raya memesan Iced Americano dan sandwich, lalu mencari tempat duduk pojok dekat dinding agar bisa melanjutkan mengisi daya ponselnya. Raya mengeluarkan buku jurnal yang tadi tergeletak di kursi penumpang mobilnya, dan ia masukkan dalam tas di detik terakhir sebelum meninggalkan parkiran. Pada halaman pertama, ia menandai jadwal pertemuan dengan Mbak Shyntia, psikiaternya. Terakhir kali mereka bertemu, saat Raya sehabis dirawat karena overdosis. Tiga hari sebelum hari ulang tahunnya, empat hari setelah ia masuk ruang emergensi. Mbak Shyntia terlihat kecewa. Itu reaksi wajar, bentuk kekecewaan seseorang yang menaruh harapan besar agar Raya bisa sembuh, tetapi malah dikhianati. Raya membuka halaman pertama agendanya yang sudah ia tulis tanggal dan jadwal kegiatan yang direncanakan. Ini adalah salah satu dari harapan Raya di tahun yang baru. Menjalani kehidupan dengan lebih baik. Setiap harinya, sepanjang tahun ini saja. Sayangnya, karena ia tidak tahu harus mengisi dengan apa, ia mengetikkan di kolom pencarian tentang perayaan hari-hari penting sepanjang hari dalam setahun. Ia hanya tahu beberapa, seperti hari kemerdekaan atau Hari Kartini. Ia butuh lebih banyak hari-hari seperti itu untuk mengalihkan pikiran. Untuk membuatnya sibuk, yang kemudian diharapkan akan menjauhkannya dari pikiran-pikiran buruk. "Iced Americano atas nama Kak Soraya," panggil barista. Raya memutar bola mata sebagai respons. Barista di sini selalu salah menuliskan namanya. Serayu. Sarah Ayu. Sekarang Soraya. Seharusnya ia tadi menyebutkan Raya saja, agar lebih mudah. Tetapi, ia tidak yakin apa namanya akan ditulis dengan benar. Raya mendengkus membayangkan jika namanya ditulis Ria atau Laia. Apa susahnya menulis Sarayu? Bahkan, keponakannya yang masih berumur enam tahun sudah bisa menulis nama lengkap Raya dengan sempurna. Raya membaca jadwal hari ini. Ia cemberut. Ia tidak punya pasangan untuk merayakan hari komitmen. Namanya bukan berawalan huruf Z. Dan ia bahkan tidak punya dolar Amerika, apalagi euro di dalam dompetnya. Satu-satunya yang bisa ia kerjakan hanyalah menonton video beruang kutub berenang. Raya mencoret yang tidak dia kerjakan. Raya mulai mengisi agendanya. Menceritakan semua yang ia lakukan hari ini, hingga namanya yang salah tulis di cangkir kopi. Ketika sampai pada kalimat ini pun, ia masih merasa tidak percaya bahwa ia bisa mencurahkan segala isi hatinya hanya dengan menggunakan sudut pandang penceritaan orang ketiga. Semestinya ia sudah menggunakan metode ini sejak berbulan-bulan lalu saat pertama kali mendatangi ruangan Mbak Amalia, psikolognya, yang kemudian merujuk Raya pada Mbak Shyntia, psikiaternya, karena pertemuan-pertemuan mereka tidak kunjung membuahkan hasil. Raya tidak pernah menulis sebelumnya. Mungkin dengan metode ini, ia menemukan bakat terpendam menjadi penulis novel?

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Pawang Cinta CEO Playboy

read
1.7K
bc

Menikah, Karena Tak Sengaja Hamil

read
1.1K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
43.6K
bc

Mantan Sugar Baby

read
8.4K
bc

Hati Yang Tersakiti

read
8.5K
bc

I Love You Dad

read
297.8K
bc

The CEO's Little Wife

read
684.4K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook