Day 2 : Rabu, Januari 2 2019

2110 Kata
Raya tidak sempat membuat sarapan ini karena semalam ia sibuk menyelamatkan pakaiannya karena hujan, dan mengacaukan rencananya untuk menyiapkan overnight oats untuk sarapan. Semestinya ia menjemur di dalam ruangan saja, alih-alih mengeluarkan ke balkon. Pada bulan-bulan ini hujan sering turun tanpa bisa diprediksi, Raya tidak berhenti merutuki diri sendiri yang tidak kunjung peka pada kondisi lingkungan sekitarnya. Raya hanya menyeduh kopi instan di dapur dengan air panas dari dispenser, lalu mengambil apa saja makanan dari dalam kulkas yang bisa dibawanya ke kantor. Pilihan Raya jatuh pada sekotak donat yang kemarin dibelinya sepulang dari kedai kopi. Seakan kesialannya tidak berhenti di sana, Raya terjebak macet di jalan protokol menuju kantor hingga membuatnya terlambat hampir lima belas menit. Setengah berlari, Raya membawa kotak donat-donat beraneka topping gula ke dalam kantor menuju kubikelnya. Raya bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak pada bidang periklanan sebagai desainer grafis. Sudah hampir lima tahun ia bekerja di sini sejak lulus kuliah, dan ia mulai merasakan tanda-tanda kejenuhan yang amat sangat. Satu-satunya alasan mengapa Raya bertahan hanya rasa takutnya meninggalkan zona nyaman terlalu besar ketimbang keinginannya untuk menemukan pekerjaan lain. Lagipula pekerjaan ini tidak buruk juga. Gajinya cukup untuk hidup sebulan dan menabung untuk liburan ke luar negeri setidaknya sekali dalam setahun, tergantung negara destinasi dan kebutuhan akomodasi. Rio, teman di sebelah mejanya menyambut Raya, ia mencomot satu donat klasik toping gula putih tanpa permisi. Ia bahkan sudah tidak lagi minta izin untuk mengambil sesuatu di meja Raya setelah menjadi tetangga kubikelnya selama tiga bulan. Tahun ini sudah tiga tahun Rio bekerja di perusahaan yang sama. Berbeda dengan Raya, Rio berencana untuk resign tahun ini demi merintis bisnis kaus sablon kekinian daring. "Kok kamu kemarin nggak ikut kumpul anak lain sih, Sis?" tanya Rio dengan mulut penuh. Dia selalu memanggil Raya dengan sebutan Sis atau Sistur, karena disamping lebih muda setahun, Rio sering terbawa gaya bahasa pergaulannya yang didominasi oleh perempuan. "Padahal asyik loh suasana vila keluarganya Pak Bram di Pacet." Raya menggeleng, menyalakan komputernya, memeriksa surel masuk di surel kantornya. "Aku ada rencana lain," dustanya. Ia memang sengaja untuk tidak punya acara apa-apa pada malam pergantian tahun agar bisa merefleksikan segala rencananya tahun ini dengan matang. "Kamu jadi ngajak Vian?" Vian yang memiliki nama lengkap Oktaviano, adalah pacar Rio. Tidak benar-benar pacaran secara publik, tapi mereka terlihat berdua terlalu sering di kantor. Berbeda dengan Rio yang agak kemayu dan pakai 10 langkah perawatan kulit ala gadis-gadis di Korea Selatan sampai kulit wajahnya mengilap sempurna, Vian tipe anak gym dengan bahu bidang dan lengan berotot. Vian berada di divisi berbeda dari mereka dan anak lain yang dimaksud Rio dalam acara tahun baru kemarin, jadi akan sedikit canggung rasanya jika Vian berada di sana, sekaligus mengonfirmasikan hubungan spesialnya dengan Rio. "Gila ya, anak-anak itu. Masa aku di suruh sekamar sama Vian," gerutu Rio. Tetapi dari rona kemerahan di pipinya, ia tampak tidak cukup kecewa dengan itu. "Seneng, dong?" ledek Raya. Ia dan Rio tidak pernah membicarakan lebih jauh tentang hubungan pribadi dengan pasangan atau orientasi masing-masing. Tetapi, jika salah satu sedang merasa amat senang, maka yang lain akan turut berbahagia untuknya. "Apanya, aku ditinggal ngobrol sama cewek-cewek terus," Rio mengambil selembar tisu di mejanya lalu membersihkan tangan dan sudut-sudut bibir. "Aku mau beli Iced Americano ke bawah. Sistur mau titip Frappuccino?" Raya hampir saja mengangguk setuju, tetapi responnya adalah gelengan. "Aku boleh titip hot chocolate aja? Tadi di rumah sudah ngopi." “Okie.” Rio menempelkan jari telunjuk dan jempolnya sebelum kabur ke bawah. Raya bahkan belum sempat merogoh isi tasnya untuk mencari-cari dompet. Biasanya kalau Rio menawarkan untuk membelikan minuman, artinya Raya harus keluar uang untuk membayar minuman Rio juga. Raya baru sadar mengapa Rio begitu terburu-buru ingin kabur, ketika Vian lewat di depan ruangan mereka lalu berhenti sebentar untuk melongokkan kepala ke dalam. "Lihat Rio nggak, Sara?" sapanya. Anak-anak divisi lain memanggilnya Sara atau Ayu, hanya teman satu ruangan saja yang memanggil Raya. Raya menjawab dengan gelengan pelan karena mulutnya penuh donat cokelat. "Oh, dia beli kopi ke bawah," Mbak Mega yang duduk di kubikel seberang Raya dan Rio menyahuti. Vian mengucapkan terima kasih, lalu meneruskan perjalanan ke ruang HRD di ujung lorong. Raya pikir setelah mengetahui keberadaan Rio, Vian akan menyusulnya, tetapi tidak. Sepertinya sedang terjadi sesuatu di antara mereka. Raya mengisi sepanjang pagi hingga jam makan siang untuk merevisi konsep poster yang dikembalikan oleh anak produksi dan membuat konsep iklan untuk deterjen mesin cuci ramah lingkungan. Rio mengajak Raya makan siang sushi, tetapi Raya menolak halus. Ia memilih makan soto di penjual kaki lima depan gedung kantornya. "Sis, tanggal muda kok sudah berhemat, sih?" cebik Rio seraya mematut di depan cermin dan menepuk-nepuk wajahnya dengan spons cushion. "Aku mau nabung," jawab Raya singkat. Ia mengeluarkan selembar dua puluh ribuan dari dalam dompet, lalu mengantongi ponsel. "Mau ke Europe tahun ini?" ledek Rio.  Raya tergelak, "Mau sewa rumah. Atau kalau nasibku mujur dan uangku banyak banget, aku pengin punya rumah.” “Wah, ada apa nih kok kepengin punya rumah?” Rio memicingkan mata. “Kamu sih enak Sis, anak bungsu, tinggal sama orang tua. Daripada jadi anak rantau, pusing-pusing deh mikirin bayar kos kayak aku.” Raya mengulum senyum. Saat ini ia tidak terlalu ingin membicarakan tentang keluarga, jadi dia memutuskan untuk buru-buru cari makan siang. “Aku duluan ya, nanti takut nggak kebagian meja kalau kelamaan." Ketika Raya tiba di dekat gerobak Bang Maman, seseorang sudah lebih dulu di sana. Ia mengisap rokoknya lamat-lamat sambil menunggu sotonya tiba. Raya melempar senyum tipis ke arahnya sebelum duduk semeja, ujung ke ujung. Cowok itu Saka, anak akuntan di kantornya. Raya hanya mengenalnya sebatas nama, tidak lebih. Soto mereka berdua tiba, Raya baru mencicipi kuahnya sesendok, ketika didengarnya Saka mengajak bicara. "Sara, 'kan?" Raya menoleh demi kesopanan, lalu menganggukkan kepala. "Kemarin sudah dikasih tahu Pak Bram belum, kalau kita mau ada kerjasama dengan perusahaan makanan kucing?" Raya mengernyitkan alis, setahunya itu kerjaan yang diberikan pada Mbak Mega sebagai pecinta kucing sejati. Ia mengangkat bahu, "Tahu kok, tapi bukan saya yang pegang. Mau saya bantu tanyakan progress-nya?" "Oh, enggak kok, bukan." Saka meneguk es tehnya untuk mengalihkan perhatian. "Saya kira kamu yang kerjakan." "Oh, bukan." Raya melanjutkan makan. Tiba-tiba saja rasa laparnya hilang, seiring suasana canggung di antara mereka berdua. Raya membuka ponselnya untuk mengalihkan perhatian. Biasanya dengan menonton video mukbang bisa membantu mengembalikan nafsu makan. Tiba-tiba melihat catatan yang tersemat di kalender, Raya teringat jika hari ini ia belum menjalankan misi Hari dalam Setahun. Rio orang pertama yang menyarankan Raya untuk merayakan setiap harinya dalam setahun, sebagai pengalihan dari depresi dan pikiran-pikiran untuk mengakhiri hidup. Setelah menghabiskan waktu berjam-jam untuk berselancar di mesin pencari, mencatat di jurnal harian, akhirnya Raya berhasil mengumpulkan perayaan-perayaan penting dari berbagai negara pada setiap harinya selama setahun dan bertekad untuk setidaknya bertahan hidup satu tahun lagi. Jika ia tidak berhasil menikmati kehidupannya, ia sudah tahu akan melakukan apa. Raya menyelesaikan makannya dengan secepat mungkin, membayar, lalu kembali masuk kantor setelah menganggukkan kepala ke arah Saka. Dalam perjalanan menuju lift, ia berpapasan dengan Mbak Mega. Tiba-tiba saja bibirnya meluncurkan pertanyaan di luar kendali. "Mbak, kalau memelihara kucing susah nggak?" Mbak Mega yang asyik menonton video kucing menggonggong, menekan tombol berhenti di layar ponsel sebelum menatapnya lamat-lamat. "Siapa yang mau melihara kucing?" Tanyanya penuh selidik. " ... aku?" "Kamu mau melihara kucing?" Mbak Mega membelalak seolah baru bertemu hantu. "Nggak bisa, ya?" Nyali Raya mendadak ciut melihat reaksinya. Mbak Mega tiba-tiba saja memeluk Raya lalu menepuk-nepuk punggungnya. "Ya ampun, Raya, welcome to the club!" Ia berseru riang. "Kupikir kamu lebih ke dog person, tapi cuma belum menentukan keberpihakan aja ternyata." " ... aku nggak pernah punya anjing sih, Mbak," ada sedikit rasa sakit hati karena merasa dihakimi oleh Mbak Mega, tetapi Raya tepis jauh-jauh. "Kamu mau aku antar ke tempat penampungan kucing langgananku? Lucu-lucu kucingnya, sehat, gemuk-gemuk. Pasti gemes deh kamu kalau lihat nanti. Aku bantu kenalkan sama dokter hewannya juga, kalau kamu mau tanya-tanya. Adopt don't shop, oke! Jangan beli, adopsi kucing kampung aja juga nggak kalah keren kok." " ... oke, Mbak." Sepulang kantor, Mbak Mega duduk di bangku penumpang mobil Raya, setelah sebelumnya minta izin pada sang suami untuk tidak dijemput karena ada janji dengan teman. Suami Mbak Mega yang sesama penyuka kucing tidak kalah antusias saat Mbak Mega mengatakan ia berhasil membujuk penyuka anjing untuk beralih jadi penyuka kucing. Mereka bahkan berjanji akan merayakannya dengan makan malam mewah, seolah baru saja melakukan hal yang membawa pahala besar. Raya dan Mbak Mega sengaja pulang setengah jam lebih awal untuk menghindari macet, karena lokasi shelter yang cukup jauh dari kantor. "Apa yang tiba-tiba bikin kamu ingin punya kucing?" tanya Mbak Mega. "Emm ... karena sekarang hari tahun baru kucing?" Mbak Mega membelalak, "Yang bener kamu?" Ia mengutak-atik ponselnya, mungkin sedang mencari informasi lewat peramban untuk memastikan, lalu berseru histeris. "Ya ampun, iya sekarang Happy Mew Year Day!" Lalu Mbak Mega menelepon suaminya tentang hari ini, dan mereka akan membeli lima kaleng makanan basah rasa tuna dan sarden untuk kucing-kucing mereka. Tanpa Mbak Mega sadari, Raya senyum-senyum melihat interaksi seniornya dengan sang suami. Betapa menyenangkannya jika bisa bertemu seseorang yang memiliki kesukaan yang sama, dan menghabiskan seumur hidup dengannya. Mereka tiba di tempat penampungan kucing yang Mbak Mega tunjukkan hampir empat puluh lima menit kemudian. Seorang laki-laki menyambut mereka di balik pintu. Ia memakai celemek dan menggendong bayi kucing dalam kantongnya seperti induk kanguru. Mbak Mega menjabat tangan pria tersebut dengan ramah. "Dokter Robin, kenalin ini temanku Raya," Raya menjabat tangan Robin ramah. "Raya, ini dokter Robin, veterinarian penanggung jawab di penampungan kucing ini." "Mbak Mega mau ambil foster lagi, kah?" tanya dokter Robin. "Kemarin ada kitten 4 ekor dibuang di depan shelter. Masih merah, belum bisa buka mata." Mbak Mega membelalak, tetapi kemudian menggelengkan kepala. "Aduh, kemarin kucing liar di perumahan juga melahirkan di rumah, anaknya tiga. Aku sama Mas Akbar lagi ngurusin mereka." "Nanti kalau induknya sudah lepas menyusui, disteril aja," saran dokter Robin. "Niat dipelihara nggak?" "Iya, aku juga udah program mau sterilin.  Duh, gimana ya? Kucing indoor aku udah enam.  Nanti kalau kebanyakan, mertuaku ngomel, terus diceramahin melihara kucing bikin mandul lah, segala macam. Biar keliaran aja deh, kalau hujan atau panas aja baru di bawa masuk." Raya dan Mbak Mega berjalan masuk mengikuti dokter Robin untuk memilih-milih kucing yang cocok baginya. Sementara itu, dokter Robin sibuk memperkenalkan masing-masing kucing padanya. "Ini Mia, jantan yang semula rescuer kami kira betina karena terlihat seperti hamil," dokter Robin menunjuk kucing oranye gemuk yang berdiri dengan dua kaki belakang di balik kandang. "Sempat diganti nama jadi Miko tapi dia nggak mau menyahut, jadi kami tetap memanggilnya Mia. Sudah steril, vaksin sudah lengkap, tinggal booster saja tahun depan. Usia dua tahun setengah, pertama kali ditemukan di pasar dengan bekas-bekas luka di daerah punggung." Mia kucing yang lucu dan menggemaskan, tetapi Raya lebih tertarik pada kucing kecil tiga warna di kandang sebelah Mia. Melihat antusiasme Raya, dokter Robin membuka kandang dan mengeluarkan kucing tidur itu, membiarkan Raya menggendongnya. "Aku suka yang ini," kata Raya. "Warnanya lucu." "Namanya Sleepy, dia banyak tidur. Mungkin stres karena di sini dikandangin terus," dokter Robin mengusap-usap kepala Sleepy untuk membangunkannya. "Kalau di rumah Raya dia boleh dibiarkan berkeliaran dalam ruangan, Sleepy cocok untuk kamu." "Lucu tuh Ya, mending adopsi yang masih kecil aja jadi bisa dilatih," saran Mbak Mega. "Sleepy sudah bisa toilet training sendiri, kok, jangan khawatir dia buang air sembarangan," tambah dokter Robin. "Nanti kalau usianya sudah cukup, bawa ke sini untuk disteril, supaya dia nggak ada hasrat kawin. Oh ya, karena Sleepy calico, jadi jenis kelaminnya betina.” “Iya tuh Ya,” Mbak Mega mengangguk. “Kucing belang telon gitu emang selalu cewek, soalnya yang cowok seringnya nggak bisa bertahan hidup sampai gede.” Raya mengangguk mantap. Sleepy yang terlihat depresi tampak serasi dengannya. Sleepy membuka matanya, pada kontak mata mereka yang pertama, Raya terpukau. Ia membawa Sleepy setelah menandatangani berkas adopsi, menerima buku panduan kucing dan jadwal vaksin dari dokter Robin, dan membawanya pulang sambil mengantar Mbak Mega, karena kebetulan rumah mereka searah. Raya memandangi kucing kecilnya yang sibuk mengendus-endus seluruh penjuru kamar sebelum akhirnya memutuskan untuk tidur di pojok dekat jendela di bawah bean bag. Raya menata makanan-makanan kucing yang dibelinya setelah mengosongkan satu area di rak bukunya. Kemudian ia menyiapkan kotak litter untuk buang air, lalu meletakkan di pojok kamar.  Harus dikasih nama siapa Sleepy kecil ini? Raya menghabiskan sisa waktunya hari ini untuk berburu nama yang cocok untuk kucing, sebelum akhirnya jatuh pada nama Miracle. Nama yang cantik untuk seekor kucing betina. Raya mengelus kepala Miracle, terdengar dengkuran halus sebagai respon. Raya mendekatkan bibirnya ke telinga Miracle dan berbisik singkat.  “Happy mew year day, Miracle. Sehat-sehat ya, semoga kita bisa hidup bareng sampai tua. Semoga.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN