Day 3 : Kamis, Januari 3 2019

1602 Kata
Pagi ini Raya terbangun karena suara eongan kencang Miracle di dekat wajahnya. Raya mengerjap beberapa kali, Miracle mengusap-usapkan kepalanya di lekuk leher Raya sebagai respon. Ketika ia telah benar-benar terjaga, Raya refleks menarik selimutnya sambil duduk tegak. Kotak pasir terguling. Kotoran kucing di karpet tebalnya. Mangkuk minum dan makanan yang terbalik. Raya membelalak tidak percaya melihat isi kamarnya berantakan seperti kapal pecah. Raya menatap Miracle geram. Makhluk kecil tersebut tengah menguap lebar-lebar sambil menjilati tangannya secara bergantian. Ah, jika dia terlihat sangat menggemaskan seperti ini, bagaimana bisa Raya memarahinya? Raya lekas mengambil ponsel, memotret kondisi kamar, lalu mengirimkan pada Mbak Mega. Dari jam indikator pesan terkirim di layar, sekarang masih pukul empat pagi. Orang gila mana yang mengirimkan pesan jam segini? Raya bahkan tidak terlalu ingat jam berapa kemarin ia tertidur. Rasanya sudah lama ia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Semuanya berkat suara dengkuran halus Miracle di samping bantal yang membuat Raya jadi cepat mengantuk. Ah iya, sekarang hari Kamis. Semestinya ia membuat jadwal konseling dengan psikolognya kemarin, tetapi Raya lupa karena kesibukannya dalam mengadopsi Miracle. Haruskah ia membuat janji sekarang? Jempol Raya menggantung di atas tombol panggil pada nomor telepon Mbak Shyntia. Ia mengurungkan niat, tetapi memasang pengingat untuk menelepon Mbak Shyntia nanti agak siangan. Miracle mengeong manja sambil mengusapkan puncak kepalanya di lengan Raya. Raya menjulurkan sebelah lengan untuk meraup Miracle dalam pelukan, kemudian mendekap kuat-kuat. Sebelum memutuskan untuk mengadopsi kucing secara impulsif, Raya tak pernah tahu jika dia bisa menyukai binatang peliharaan tersebut dalam waktu singkat. Tetapi, perasaan manusia memang susah ditebak. Raya menarik selimutnya turun. Sepertinya pagi ini ia harus membereskan rumah sebelum orang tuanya pulang sore ini. Ia mengikat rambut lalu mulai bekerja menyekop kotoran Miracle, memunguti makanan yang tumpah, membersihkan karpet dengan penyedot debu dan air sabun, lalu diberi pewangi pakaian sebelum dikeringkan. Raya juga merakit kandang Miracle untuk sementara selama dia bekerja, membongkar kasur kucing lucu yang kemarin dibelinya di toko peralatan hewan peliharaan, lalu menata ulang kondisi kamarnya agar memberi ruang untuk Miracle. Ketika Raya selesai mandi dan turun untuk sarapan, sebuah pesan masuk di ponselnya. Mbak Mega membalas dengan mengirim gambar kamar yang hampir puluhan kali lebih berantakan dari kondisi kamar Raya tadi pagi ditambah takarir foto 'jangan khawatir, Sis. Di bawah langit masih ada bumi. Rumahku lebih berantakan lagi. Sabar ya.' Raya memandangi Miracle yang sedang menyantap sarapannya di bawah meja makan. Makanan basah rasa seafood lebih disukainya ketimbang rasa tuna, Raya mencatat dalam pengingat di ponsel untuk membeli rasa seafood saja nanti kalau persediaan habis. Untung saja kemarin ia hanya membeli ukuran sachet untuk tester. Raya membawa Miracle ke kamarnya, memasukkan kandang dengan berat hati, lalu berangkat bekerja. Semestinya ia tidur seharian ini, tetapi tidak bisa. Tidak mungkin, di saat ia punya pekerjaan yang menunggu. Sesampai di kantor, Raya menguap di balik telapak tangannya ketika ia berdiri di hadapan pintu lift yang terbuka. Terkejut dengan seraut wajah yang ditemuinya di balik pintu, Raya mundur dua langkah, menabrak seseorang yang berdiri di belakangnya. “Raya,” sapa Pak Bram, manajernya yang muncul dari dalam lift, hendak keluar. Mungkin membeli kopi sambil merokok, sudah kebiasaannya begitu. “Pagi, Pak,” sapa Raya. “Tumben nggak telat?” sindir Pak Bram. Tetapi belum sempat Raya membalas, beliau sudah berjalan cepat lalu berbelok ke kiri menuju kedai kopi. Teringat sesuatu, Raya lekas-lekas membalikkan badan hendak meminta maaf pada seseorang yang ditabraknya tadi saking kagetnya. Kelopak mata Raya membulat ketika menyadari bahwa orang tersebut Saka. Belakangan ini mereka sering sekali berpapasan. “Uh, sori ya, saya—” “Ayo masuk,” Saka tersenyum, menyentuh bahu Raya dengan ujung-ujung jarinya, mengisyaratkan untuk masuk ke dalam lift. “Pak Bram kayaknya lagi bad mood tuh.” “Ah, iya.” Mereka hanya berdua di lift. Dengan canggung, Raya menekan lantai 3 menuju ruangannya, sementara Saka lantai lima. "Maaf ya, tadi saya nggak se—" “Nggak apa-apa kok, Sara,” Saka tampak berpikir sejenak. “Oh ya, tadi Pak Bram kok manggil kamu Raya?” “Teman-teman seruangan panggilnya Raya, itu panggilan dari orang rumah,” Raya menunduk seraya merapikan rambutnya yang bahkan sudah rapi. “Aaah,” Saka manggut-manggut. “Apa saya boleh panggil Raya juga?” Raya mengangkat bahu, “Terserah saja.” Lift yang mereka tumpangi berhenti di lantai Raya dan membuka pintunya otomatis. “Saya duluan—” Mas? Pak? Saka? Raya tidak cukup akrab dengannya, dan ia tak tahu harus memanggil apa pada Saka. “Raya, tunggu!” Saka menjulurkan tangan untuk menahan pintu lift. “Nanti siang mau makan di mana?” Raya menautkan kedua alisnya bingung, “Ah, saya belum memikirkan soal itu, sih. Biasanya saya spontanitas aja kalau buat makan siang. Mari.” Raya buru-buru membalikkan badan dan berlalu. Ia bahkan tidak ingin berpikir macam-macam mengenai pertanyaan Saka tadi. Sesampainya di ruangan, Mbak Mega menyambut Raya dengan pelukan. “Selamat datang, sobat cat pawrents-ku.” Belum pernah ada yang menyambutnya semeriah itu. Raya hanya menyeringai canggung sebagai balasan. Rio yang sepertinya baru datang dari pantry, menghampiri Raya setelah ia duduk di mejanya sendiri sambil menekan tombol hidup di komputer. “Siiss, kucingmu lucu banget! Aku lihat di postingan Tweetermu tadi. Kamu sejak kapan pelihara kucing? Gemes banget deh, mau pegang. Kapan-kapan bawa kantor ya, kalau pas pet day. Namanya siapa? Cewek atau cowok?” “Ah, ya, ya. Kapan-kapan deh kalau kita ada pet day lagi. Namanya Miracle, jenis kelamin betina. Masih bayi, usianya baru empat bulanan.” Kantor mereka pernah mengadakan acara pet day, yaitu setiap karyawan mereka diperbolehkan membawa hewan peliharaan mereka ke kantor. Namun, acara hari itu yang seharusnya menyenangkan berakhir petaka ketika ular boa peliharaan manajer mereka bertengkar dengan anjing peliharaan Mbak Ayu, salah satu orang HRD. Untung saja tidak terjadi hal yang gawat, tetapi Miko, anjing pudel putih itu tampak cukup trauma hingga Mbak Ayu sampai izin pulang lebih awal demi membawa Miko ke dokter hewan. “Kamu mau adopsi juga?” Mbak Mega nimbrung. “Ayo aku anterin ke tempat penampungan kucing langgananku. Di sana kucingnya dijamin sehat dan bersih-bersih, kok.” “Tapi aku ngekos, Mbak. Boleh nggak ya kalau ngekos bawa peliharaan?” gumam Rio muram. “Ya nggak usah cerita ke orang-orang kalau kamu punya kucing.” “Enak aja kalau bicara,” gerutu Rio. “Kalau aku lagi di kantor, terus kedengeran suaranya ngeong-ngeong dari luar gimana, dong? Ibu kosku orangnya ketat banget, sering patroli juga, berasa lagi di asrama tentara deh, ketimbang tempat kos.” “Emangnya pernah ada kejadian apa, kok ibu kosnya sampai seketat itu?” tanya Raya. Tadinya ia tak tertarik dengan obrolan ini, karena beberapa surel baru masuk di kotak suratnya, dan ia tak sabar ingin membaca balasan dari beberapa klien tersebut. Tetapi, rasa penasaran mendorongnya untuk bertanya. “Kalau nggak salah, sebelum aku pindah ke sana, ada anak yang sakit pas di kamar dan nggak ketahuan. Baru setelah temen kuliahnya nyariin dia di kosan, terus kamarnya didobrak rame-rame, kondisinya udah parah. Untung masih ketolong sih, tapi habis itu dia disuruh keluar dari kosan.” Raya bergidik mendengar cerita tersebut. Ingatannya masih segar akan kejadian hampir dua minggu lalu, ketika ia mencampurkan beberapa obat yang bisa ditemuinya di apotek dalam upaya melukai diri sendiri. Tetapi, ia terbangun di ranjang rumah sakit sehari kemudian dalam kondisi perut yang habis dikuras bersih, dan lengan terpasang infus. Rio dan Mbak Mega beralih menatapnya lekat, seolah khawatir jika Raya akan jatuh ke dalam fase seperti itu lagi dalam hidupnya. Raya tertawa kecil untuk meredakan suasana yang tiba-tiba menjadi tegang, lalu memutar kursi menghadap komputer. “Jangan khawatir, aku nggak akan kayak gitu lagi, kok,” ucapnya sebelum mulai bekerja. Raya menarik diri dari obrolan Rio dan Mbak Mega, ia ingin pekerjaan hari ini cepat selesai, sehingga dia bisa tidur sampai besok paginya. Rasanya sepagi ini ia sudah sangat lelah gara-gara membersihkan kamarnya yang berantakan karena ulah Miracle. Menjelang jam makan siang, sebuah pesan masuk ke ponsel Raya. Ia agak bingung melihat nama pengirimnya, kemudian menyadari kebodohannya tadi pagi. Karena panik dan marah gara-gara kelakukan kucing kecil, ia melayangkan protes pada Mbak Mega dan dokter Robin tentang perilaku Sleepy—Miracle pada hari pertamanya di rumah. drh Robin (Klinik hewan Clover Cat) Ah, Sleepy ternyata begitu ya, kalau dibiarkan keluar. Maaf, maksud saya Miracle. Lucu juga nama barunya. Sabar, Raya. Mungkin dia butuh adaptasi. Maaf juga baru balas, saya baru menemukan di mana terakhir saya taruh ponsel. Raya tersenyum. Mengetikkan balasan berupa ucapan terima kasih dan maaf karena telah mengganggu waktunya. Lalu kotak obrolan tersebut senyap. Tidak ada balasan lagi dari dokter Robin. Mungkin ia merasa pesan Raya tidak memerlukan balasan, sibuk mengasuh bayi-bayi kucing, atau bahkan lupa lagi di mana dia menaruh ponsel. “Makan siang yuk, Sis?” ajak Rio. “Beli mie ayam go-meal sama dimsum dan pangsit goreng aja, ya, karena aku harus render file nih.” “Oke,” Raya menganggukkan kepala. “Aku urunan berapa nih?” Rio mengibaskan telapak tangannya di depan muka. “Nggak usah, aku aja. Seporsi cuma 13 ribu aja, kok. Anggap aja uang buat makan siang hari ini untuk belikan makanan Miracle nanti. Hadiah dari Om Rio.” “Eh, beli apa kalian? Mie ayam? Aku mau mie setan level 5 sama dimsum sekalian, dong!” seru Mbak Mega dari meja seberang. “Okeee, siap!” Sambil terkikik kecil, Rio sibuk menggulirkan jari di atas layar ponselnya untuk memesan makanan. Sejak berkenalan dengan Mbak Shyntia dan Mbak Amalia, Raya kini bisa melihat jika orang-orang di sekitarnya cukup peduli pada kondisi mentalnya, dan ia sangat bersyukur memiliki teman seperti Rio dan Mbak Mega, di saat banyak orang kesulitan menemukan teman dekat di lingkungan kerja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN