Day 4: Jumat, Januari 4 2019

1791 Kata
Kemarin sore menjelang azan Isya, ketika Raya bersiap-siap untuk tidur lebih awal, orang tuanya pulang ke rumah. Karena pulang kerja ia langsung mampir ke rumah sakit tempat Mbak Shyntia bekerja, jadi tenaganya seolah dikuras habis akibat sesi konseling dengan psikiater. Jika hanya suara koper yang diseret dan pintu-pintu dibuka saja, Raya tentu tidak akan merasa terganggu karena tidak terlalu kencang. Tetapi, orang tuanya membuat keributan dengan mengobrol di telepon semi berteriak pada seseorang entah siapa, derum pompa air ketika baru dinyalakan untuk mengalirkan air hangat ke kamar mandi, serta televisi di lantai bawah—yang letaknya persis di bawah kamar Raya—sedang menayangkan sinetron favorit Ibu dalam volume keras. Dengan mata lelah karena konsumsi obat yang diresepkan dokter mulai bereaksi, Raya menyingkirkan Miracle dari dekapan, lalu turun ke lantai bawah untuk menyapa orang tuanya. Ibu sedang di dapur untuk menjerang air panas, sedangkan Bapak di ruang tengah, sedang mengobrol di telepon. Raya menghampiri ibunya sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman. Melihat raut wajah Raya yang tampak lelah, beliau hanya berceletuk. “Selama Ibu sama Bapak ke Semarang, kamu begadang terus?” “Enggak kok, Bu. Emang ini efek obat dari dokter.” Waktu Raya dibawa ke rumah sakit hampir dua minggu yang lalu, ia tak sempat menitip pesan pada orang-orang terdekat untuk tidak memberitahu Ibu dan Bapak tentang kondisinya. Sehingga, ketika Raya siuman, ia mendapati Ibu menangis meraung-raung melihat kondisi putri bungsunya. Ibu tentu telah mendengar dari dokter tentang kondisi Raya. Karena dengan penuh kemarahan, beliau meletakkan seluruh kesalahan yang membuat Raya bisa berbuat senekat itu pada mantan pacarnya. Padahal, permasalahan psikologis Raya tak hanya sekadar itu saja. Sejak hari itu, Ibu selalu waspada terhadapnya, seolah kondisi mental Raya bisa meledak sewaktu-waktu. Kakaknya, Mas Arian, yang telah berkeluarga tidak bisa datang ke rumah sakit karena beliau ada pekerjaan di luar pulau. Sementara, istrinya tidak bisa mengunjungi Raya karena sibuk mengurus dua anak. Tetapi, Raya menerima omelan cukup panjang dari Mas Arian segera setelah beliau pulang dari Makassar selama berjam-jam. Ceramah tersebut diakhiri dengan nasihat untuk jadi orang yang legawa dan sabar. Kata-kata tersebut memang lebih mudah diucapkan ketimbang dipraktikkan, tetapi Raya tak mengatakan apa-apa pada kakaknya. “Pokoknya, jangan telat minum obat,” hardik Ibu. “Ibu nggak mau lihat kamu kumat lagi kayak itu.” “Iya, Bu,” jawab Raya singkat. Percobaan yang gagal tak lantas membuat Raya tergoda untuk mencoba lagi. Justru, ia merasa semakin hampa, seolah tak punya tujuan hidup. Sejak kejadian waktu itu, satu-satunya yang bisa memotivasi Raya untuk tetap bangun pagi dan berangkat ke kantor setiap hari hanyalah daftar Days of The Year pemberian Rio yang di-print dengan kertas bekas di kantor. Teringat sesuatu, Raya menghampiri Ibu yang sedang memeriksa nasi di dalam rice cooker dengan takut-takut. “Oh ya Bu, aku adopsi anak kucing.” “Hah? Kucing apa? Angora?” Ibu yang sedang membuka kulkas untuk memasukkan oleh-oleh khas Semarang, langsung membanting pintu tersebut hingga terkatup. Raya menggeleng pelan. “Kucing kampung biasa, adopsi dari tempat penampungan kucing. Tapi kucingnya sehat kok, sudah dikasih obat cacing, obat kutu dan vaksin dosis pertama. Tinggal disteril aja nanti kalau dia sudah cukup umur.” “Sejak kapan kamu suka sama kucing?” tanya Ibu sambil memicingkan mata. Raya mungkin tidak terlihat seperti crazy cat lady di mata keluarga dan teman dekatnya, tetapi ia juga tidak membenci mahkluk menggemaskan tersebut. Terkadang kalau sedang makan di luar dan melihat ada kucing menghampirinya, Raya pasti akan membeli menu ikan atau ayam untuk diberikan pada kucing liar tersebut. “Kok tiba-tiba pelihara kucing tanpa izin Ibu dulu?” Raya hanya mengangkat bahu. Di dalam kepalanya, ia sibuk menyusun alasan agar Miracle bisa diterima di rumah ini. Ia tiba pada satu alasan yang terdengar masuk akal, sembari berharap jika Ibu akan meloloskannya kali ini saja. “Katanya kucing bisa membantu buat terapi,” ucap Raya. Mereka tak pernah benar-benar mengucapkan kata ‘depresi’ di rumah ini, seolah mantra terkutuk. Meski begitu, tanpa diutarakan pun orang-orang di rumah ini langsung paham maksud Raya meski tidak diikuti penjelasan secara detail. “Aku pengin sembuh, Bu.” Ibu Raya terlihat menghela napas panjang, sebelum menatapnya lekat. “Kamu taruh mana sekarang kucingnya?” “Kamar.” “Bulunya rontok nggak?” “Aku kemarin beli sikat khusus untuk membersihkan bulu kucing di toko perlengkapan hewan peliharaan. Nanti kalau libur kerja aku mandikan juga kok, Bu.” “Kotorannya gimana?” “Aku beli pasir yang bahannya biodegradable jadi pasirnya bisa dibuang ke toilet dan nggak bikin buntu pipanya.” “Ya udah, asalkan kamu bisa ngerawatnya. Asal jangan dibiarin keluyuran di dalam rumah, ya, karena Ibu nggak suka kalau rumahnya kotor gara-gara ada bulu kucing berterbangan. Ibu mandi dulu, kamu tidur sana, biar cepat sembuh.” Meski Raya tahu jika penyakit ini bukan sesuatu yang bisa disembuhkan dengan tidur seperti solusi pada umumnya, ia tetap kembali ke kamar dan tidur di samping Miracle. Kucingnya itu masih terlelap pada posisi semula seperti saat Raya tinggalkan. Seolah ia tak menyadari jika Raya sempat meninggalkannya sebentar untuk bicara dengan Ibu. Selama dua hari tinggal bersama Miracle, Raya merasa betapa menyenangkannya bisa hidup sebagai kucing yang dipelihara majikan baik. Sebelum bertemu dengannya, Miracle hidup di jalanan yang keras. Semoga setelah ini, Raya jadi termotivasi untuk hidup lebih baik lagi demi kebaikan mereka berdua. “Mau makan siang apa hari ini, Raya?” Raya terkejut ketika sedang membeli kopi di bawah dan berpapasan dengan Saka. Sudah tiga hari sejak awal tahun mereka selalu bertemu, padahal selama Raya kerja di kantor ini selama kurang lebih lima tahunan, ia hampir jarang mengobrol dengan Saka meski divisi mereka berada di lantai yang sama. Saka yang tampan dan selalu modis biasanya berada pada lingkaran pertemanan berbeda dibandingkan dengan Raya. Untuk seseorang yang ekstrovert dan social butterfly seperti Saka, Raya hampir tak bisa menemukan keuntungan mengapa mereka harus sering bicara seperti ini, karena kesukaan mereka tentu tak sama. “Oh, rencananya mau beli spaghetti sama anak-anak lain,” dustanya. Ia masih belum menawarkan opsi tersebut pada Rio dan Mbak Mega, jadi ia tidak yakin apakah mereka berdua mau makan siang bareng dengannya. “Hari ini menunya masakan Italia?” tanya Saka penuh keingintahuan. Karena hari Rabu kemarin mereka makan soto bareng di depan, mungkin beliau hanya ingin tahu rutinitasnya saja. Raya buru-buru menggeleng, lalu membalikkan badan untuk mengambil kopinya. Ia berterima kasih pada pramusaji sambil menerima segelas dulce de leche latte dingin. “Oh, enggak.” Raya menimbang-nimbang apakah ia bisa memberitahu Saka tentang rutinitas barunya ini atau tidak, tetapi ia memutuskan untuk memberi petunjuk tentang misi yang sedang ia kerjakan. “Karena hari ini hari spaghetti aja, jadi saya makan makanan itu.” Kelopak mata Saka berdilatasi mendengar penjelasan Raya. Tampaknya, ia jadi semakin tertarik dengan rencana Raya. “Jadi hari Rabu kemarin waktu kamu makan soto itu karena hari soto?” Raya menggelengkan kepala, “Oh, hari itu enggak ada hubungannya kok. Kalau hari Rabu kemarin hari tahun baru kucing, jadi saya adopsi kucing kampung dari penampungan hewan.” Saka menyunggingkan senyum lebar hingga barisan giginya yang rapi terlihat. Ia seorang pria yang menawan, tetapi saat ini Raya hanya melihatnya sebagai teman kerja saja, tidak lebih. “Lucu juga ya, agenda kamu,” pujinya. “Carinya di mana sih, informasi kayak gini? Tinggal ngetik di Giggle aja gitu? Kata kuncinya apa?” “Kata kuncinya days of the year, nanti muncul semua selama setahun penuh,” jawab Raya. “Kalau gitu, saya permisi dulu.” Sadar jika ia sudah terlalu lama di sini karena mengobrol dengan Saka, Raya langsung berpamitan untuk kembali ke kantor. Setiba di kubikelnya, Raya langsung menekuni layar komputernya karena ada sedikit revisi desain dari klien dan ia harus membuat grafis animasi baru untuk iklan yang sedang mereka kerjakan. Singkatnya, ia lupa memberitahu Rio dan Mbak Mega hari ini tentang menu makan siang yang diinginkannya. Hingga menjelang jam 12 siang, pintu kaca yang membatasi ruangannya dengan ruangan lain diketuk dari luar, dan wajah Saka menyembul dari sana. Karena posisi kubikel Raya yang relatif dekat dengan pintu, jadi ia langsung keluar untuk menemui pria tersebut. “Ya, Mas?” tanya Raya. Ia kini telah menetapkan panggilan ‘Mas’ untuk Saka secara dadakan alih-alih ‘Pak’ karena jabatannya lebih tinggi dari Raya, atau memanggil nama langsung karena jarak usia mereka relatif dekat. Saka menyerahkan satu kantong kertas besar ke tangan Raya, “Ini tadi saya pesan spaghetti di go-meal. Saya nggak tahu kamu sukanya makan di mana, jadi saya pesenin yang deket aja biar cepet datang. Soalnya habis ini saya mau Jumatan, makanya saya kasihin sekarang aja. Dimakan ya, kalau kamu suka.” Raya menunduk untuk melihat isi kantong pemberian Saka. Ada 3 porsi spaghetti di dalam yang teraba masih hangat dari luar. Saka seolah tahu jika di kantor ini Raya hanya punya 2 orang saja teman dekat. Ia terharu melihat seseorang yang tak terlalu dikenalnya rela melakukan hal sejauh ini. “Terima kasih ya, Mas, nanti saya makan sama temen-temen yang lain,” ucap Raya. Saka langsung undur diri karena sayup-sayup dari arah masjid di belakang gedung perkantoran mereka telah terdengar suara azan yang pertama. Raya membawa makanan tersebut masuk ke dalam lalu meletakkan di atas meja. Rio yang tadinya sibuk menggambar dengan pentab sampai menengok ke samping saking penasarannya. “Lu kenal sama Mas Saka?” tanya Rio. Raya hanya mengangkat bahu. “Nggak terlalu akrab, sih. Tapi belakangan emang sering ngobrol bareng.” “Sis, kamu tahu nggak sih, waktu kamu pingsan di parkiran mobil dengan kondisi—” mulut berbusa dan tampak menyedihkan, tambah Raya dalam hati karena ia tahu Rio tidak akan tega mengatakan hal tersebut secara gamblang. “—kayak gitu, yang nolongin kamu pertama kali tuh Mas Saka, karena mobilnya parkir di sebelah mobilmu. Dia telepon ambulans dan nyariin kita-kita di ruangan buat bantu ngabarin keluargamu. Untungnya waktu itu gue belum balik, karena masih nungguin render-an.” Oh! Raya tidak tahu tentang ini, karena belum pernah ada yang menceritakan detail kecil bagaimana ia bisa ditemukan. Siapa yang menolong, bagaimana dia bisa terbangun di rumah sakit. Tetapi, ini menjelaskan bagaimana ia dan seseorang seperti Saka bisa bertemu dan bahkan mengobrol akrab padahal sebelumnya mereka tak pernah berinteraksi di luar urusan pekerjaan. “Ya udah, nanti bantuin makan, ya. Banyak banget soalnya.” Raya menunjuk kantong berisi spaghetti di atas meja, lalu melanjutkan pekerjaan sebelum jam makan siang datang. Melihat nama restoran yang tertera di kantong tersebut, Rio terkesiap. Saka sih tadi memang bilangnya restoran terdekat yang bisa mengantar dengan cepat, tetapi restoran ini terkenal cukup bergengsi dan mahal, jadi Raya tidak tahu apakah ini hanya kebetulan saja atau tidak. “Selera anak akuntan memang beda ya,” gumam Rio. “Katanya dia diangkat jadi asisten manajer?” Tetapi tak ada obrolan lebih lanjut lagi dari mereka berdua karena masing-masing sibuk melanjutkan pekerjaan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN