Pagi ini sambil menunggu pintu lift terbuka, Raya sekali lagi dalam seminggu belakangan berpapasan dengan Saka. Bedanya, dia sedang turun ke bawah mungkin untuk membeli kopi, sedangkan Raya baru datang. Jika Raya hanya memakai sweater dan bawahan jins, Saka justru memakai batik dan celana bahan warna gelap. Penampilan mereka sangat kontras hari ini, seolah semakin menegaskan status keduanya di kantor. Kali ini, Raya berinisiatif untuk menyapa Saka terlebih dulu, saat pria itu melemparkan senyuman padanya.
“Pagi, Mas,” sapa Raya.
“Hei,” balas Saka. “Baru datang?” Raya mengangguk. Mereka bertukar tempat, Raya di dalam lift, Saka di luar. Sebelum pintu menutup, Saka menjulurkan tangan untuk menahan pintu agar tetap terbuka. “Mau kopi juga nggak? Saya beliin sekalian.”
Raya menggeleng cepat, “Nggak perlu, Mas, makasih. Saya nanti bikin kopi di pantry aja.”
Saka tampak muram mendengar balasan Raya. “Mau dulce de leche latte lagi?”
Raya membelalakkan mata saat mengetahui jika Saka hafal kopi kesukaannya. Teringat sesuatu, ia buru-buru membuka tas jinjing untuk mengeluarkan agenda lalu membaca jadwal untuk hari ini. Kebetulan sekali, hari ini whipped cream day, jadi ia bisa merayakannya dengan makanan atau minuman yang menggunakan whipped cream.
“Boleh minta whipped cream-nya yang banyak nggak, Mas?” tanya Raya. “Oh, sama ini,” Raya meraba kantong depan celana denimnya—karena sekarang Sabtu, jadi dia bisa berpakaian yang agak kasual—lalu mengeluarkan selembar lima puluh dan dua puluh ribuan yang agak lecek dari sana. “Aku nggak ada uang pas, jadi bawa aja—”
“Nggak perlu,” sergah Saka. “Saya emang niatnya pengin belikan kamu, kok. Hari ini temanya makan whipped cream?”
“Iya sih,” Raya hanya menyeringai mendengar pertanyaan tersebut. “Eh, tapi temanya nggak melulu soal makanan, kok.” Saka hanya menyunggingkan senyum, ia menyingkirkan lengan dari depan pintu lift agar Raya bisa naik ke atas.
“Oke, nanti saya anterin ke atas,” ucapnya sebelum pintu lift tertutup sempurna, sama sekali tak memberikan kesempatan bagi Raya untuk menjawab. Raya tiba di ruangannya, menyapa Mbak Mega yang sudah datang, lalu menyalakan komputer. Setelah Raya membuka arsip surel, barulah Rio datang sambil membawa dua gelas kopi. Ia meletakkan salah satunya di meja Raya.
“Dari Mas Saka, nih,” kata Rio. “Makasih ya Sis, gara-gara kamu, aku jadi dapat kopi gratisan juga.” Raya celingukan mencari sosok Saka di luar ruangan, tetapi ia tidak bisa menemukannya. Rio menangkup kedua sisi wajah Raya, lalu memutarnya dengan lembut agar kembali menghadap komputer. “Tadi ketemu di bawah sama aku. Aku nggak langsung masuk kantor, mampir ngopi dulu, jadi dia titip sekalian buat kamu. Orangnya mah udah balik ke ruangan sebelum aku naik ke atas.”
“Ooh,” sahut Raya singkat. Ia membuka tutup minumannya, lalu menjilat whipped cream di atas. Pada saat ini, Rio mungkin sadar jika ada yang aneh dari Raya sejak beberapa hari lalu. Mulai dari tiba-tiba mengadopsi kucing, lalu ngidam spaghetti kemarin, dan hari ini malah ngemil whipped cream, padahal biasanya kamu minta whipped cream-nya dikurangi. Lu nggak sakit aneh-aneh, ‘kan, Sis? Psikiater masih rutin konsultasi?”
Raya hanya mengedikkan bahu, “Aku cuma ngerjain daftar yang kamu kasih kemarin, kok.”
Ia menunduk untuk merogoh isi tasnya, lalu mengeluarkan jurnal dari dalam. Ia membuka pengait karet buku tersebut, demi mengeluarkan selembar kertas yang Rio berikan padanya pada hari terakhir ia rawat inap di rumah sakit, lalu menunjukkan pada teman semejanya. Rio melihat ada tanda centang di empat hari pertama bulan Januari, pertanda Raya benar-benar menjalankan misinya pada hari itu. Mulai dari hal yang paling absurd seperti polar bear day, hingga whipped cream day.
“Bentar ya Sis, gue pinjem dulu sekejap aja.” Rio berlari ke luar ruangan menuju ruang mesin fotokopi, lalu kembali ke kubikel mereka dalam hitungan menit. Rio mengembalikan kertas asli milik Raya yang mulai lecek, lalu menyimpan salinannya ke dalam ransel.
“Buat apa?” tanya Raya keheranan. “Kan kamu yang ngasih di awal.”
“Biar kita bestie, dong,” sahut Rio. “Kalau ada event yang mau kamu kerjakan, nanti kabarin aja biar aku bisa ikut bantuin nyari atau gimana, gitu. Kita kerjain bareng-bareng biar lebih seru.”
Mbak Mega yang mencuri dengar percakapan antara Rio dan Sara jadi melongokkan kepala dengan penasaran. “Kalian ngapain, sih? Gue ikut juga, dong.”
Rio memutar bola matanya, lalu menarik selembar fotokopian miliknya. Rupanya tadi Rio tak hanya membuat satu duplikasi, tetapi beberapa lembar sekaligus. Mbak Mega yang membaca kertas pemberian Rio dengan antusias, jadi semakin tertarik karena matanya tertumbuk pada happy mew year day di tanggal 2 Januari. Setelah menyambungkan beberapa hal sekaligus, barulah beliau menyadari jika Raya sedang menjalankan misi khusus di setiap harinya.
“Ih sumpah, apa ini kok lucu banget?” seru Mbak Mega antusias. “Ini resolusimu selama tahun 2019, Ra?”
“Bukan resolusi juga, sih—”
“Ahem!” Mereka bertiga berjengit mendengar dehaman tersebut. Pak Bram berdiri di depan pintu sambil berkacak pinggang seolah guru galak yang menegur murid karena berisik saat di kelas. “Hari Sabtu kita memang masuk kerja setengah hari ya, Adik-Adik, tapi bukan berarti kalian bisa santai-santai.”
Rio, Raya, dan Mbak Mega langsung kembali mengalihkan fokus pada layar komputer masing-masing untuk melanjutkan pekerjaan. Menjelang jam dua belas siang, telepon intercom di ruangan desain berbunyi, mengagetkan mereka bertiga yang sedang sibuk. Mbak Mega yang paling dekat mengajukan diri untuk mengangkat panggilan tersebut. Rupanya, satpam memberitahu mereka jika kiriman makanan sudah sampai dan bisa diambil di bawah.
“Siapa yang pesen makan?” tanya Mbak Mega. Rio dan Raya saling bertukar pandangan lalu menggeleng. Tetapi, sejurus kemudian, mereka sama-sama tersadar.
“Jangan-jangan Mas Saka,” gumam keduanya.
“Ya udah, lu aja yang ambil,” perintah Rio.
Dengan cemberut, Raya meraup ponselnya lalu turun ke bawah. Ia melewati bilik akuntan tempat Rio berada, tetapi tak sempat celingukan ke dalam, karena ruangan tersebut terlihat sangat serius bahkan dari luar. Melihat kesibukan orang-orang di dalam sana—meski berada di divisi desain, Raya merasa jika pekerjaannya sama penting dengan bidang lain, tetapi setidaknya ia masih sempat istirahat sejenak sambil mengobrol dengan rekan-rekan lain. Bahkan sempat nongkrong dengan anak copywriter dari ruangan yang hanya dibatasi sekat tipis dari ruangannya.
Setiba di bawah, Raya menerima makanan dari satpam untuknya, lalu kembali ke lantai atas. Raya sempat mengintip ke dalam kantong plastik tersebut, rupanya hanya ada kue-kue di sana. Padahal sebelum kejadian ini, Raya tak terlalu suka makanan manis. Tetapi, kini hampir tiap hari ia disodori makanan manis. Selera kopinya yang semula Americano berubah menjadi latte. Ia mungkin bukan penganut prinsip makanan manis bisa memperbaiki suasana hati, tetapi belakangan ini konsumsi makanan manis membuat insomnianya berkurang dan ia bisa bangun lebih awal untuk merawat Miracle sebelum berangkat kerja.
“Apa nih?” sambut Rio di depan pintu. Ia merebut kantong plastik di tangan Raya lalu membongkar isinya. Ada berbagai potong cake di dalamnya, mulai dari yang rasa stroberi, cokelat, matcha, red velvet, hingga cookies and cream. “Lu pilih duluan deh, sisanya gue sama Mbak Mega.”
“Wah, enak nih,” gumam Mbak Mega. “Iya, nih. Ambil dulu lah Ray.”
Raya mengambil cake rasa cokelat lalu menyisakan yang lain untuk teman-temannya. Bahkan, anak copywriter Tika yang kebetulan lewat saat dia hendak ke toilet pun ikut dipanggil dan diberi sepotong kue.
Raya pulang pukul 2 siang hari ini. Rio bilang dia ingin nebeng mobil Raya sampai ke depan kosnya karena rumah mereka searah. Hari ini ia tidak bawa kendaraan sendiri karena motornya diservis. Mereka bertemu dengan Saka di parkiran rubanah. Ia sedang berbicara di telepon dengan seseorang. Setelah jarak mereka hanya tinggal beberapa langkah dan Raya telah membulatkan tekad untuk menyapanya lagi, ia tak sengaja mencuri dengar pembicaraan Saka.
“Saya nggak tertarik, Bude. Saya sudah punya perempuan lain yang saya sukai, jadi saya tidak ingin dikenalkan pada perempuan lain.”
Raya dan Rio saling berpandangan, lalu buru-buru kabur ke mobil Raya yang kali ini berjarak 4 mobil dari kendaraan pribadi Saka. Setelah berada di dalam, Rio mengembuskan napas panjang yang seolah telah ditahannya sejak lama.
“Dia suka sama siapa?” tanya Rio. Tetapi, baik Raya dan Rio punya dugaan siapa orang tersebut, jika menilik sikap Saka pada Raya selama beberapa hari belakangan.