Nayma tidak ingin bangun dari tidurnya. Dia malu saat membuka matanya nanti, ada wajah Arash di hadapannya. Tidur dalam pelukan Arash malah membuatnya tidak bisa tertidur. Hangat pelukan Arash membuat pikirannya melayang entah kemana. Apalagi tangan Arash yang membelit tubuhnya, seakan tidak mau melepaskannya. "Apa tidurmu nyenyak?" Baru saja Nayma memicingkan matanya, suara Arash sudah terdengar di telinganya. Nayma berguman tidak jelas untuk menghilangkan salah tingkahnya dan kemudian dengan perlahan membuka matanya. "Sepertinya tidak ya?" tebak Arash sambil tertawa. Nayma tersenyum masam, bagaimana dia bisa tidur nyenyak jika semalaman Arash memeluknya dengan erat dan tidak melepaskannya sedetik pun. Berada di pelukan lelaki itu membuat Nayma merasa tegang. "Apakah ayahmu sudah ada d

