Alya dan Cia kini duduk di kantin sekolah. Beberapa jam pertama Cia menjalani pengalaman barunya di sini berjalan lancar tanpa ada hal mencurigakan. Semua terasa normal, dan Cia mulai merasa nyaman dengan suasana barunya. Cia menunggu di meja kantin sementara Alya sibuk memesan makanan di antrean. Pandangannya tak lepas dari sahabatnya itu, sampai tiba-tiba matanya tertuju pada seorang siswa laki-laki yang cukup tampan berdiri di samping Alya. Mereka terlihat berbicara akrab, bahkan sesekali tertawa bersama. Entah kenapa, Cia merasa ada yang off. Alya terlihat cantik, dan laki-laki itu memang tampan, tapi yang menggelitik pikiran Cia justru sosok abangnya, Ari. Ia tahu betul bahwa Alya menyimpan rasa pada Ari, meskipun pria itu sama sekali tidak peka. Melihat Alya akrab dengan siswa lain

