*****Rabu depan Kemudian
Tali tasnya tersangkut di stang motor.
"Ya Allah, kenapa sih!" gerutu Jahanara sambil menariknya dengan panik.
Tangannya sibuk menyusun map, buku, dan botol minum yang nyaris jatuh bersamaan. Helm masih menempel di kepala, tapi tali dagunya belum sempat dilepas. Ia melirik jam di layar ponsel: 07.43.
Mampus. Telat.
Dosen Metode Penelitian terkenal tidak hanya disiplin, tapi juga sadis jika melihat mahasiswa masuk telat—apalagi tanpa alasan yang bisa dibuktikan secara medis atau matematis.
Baru saja ia berhasil melepas helm dan menjejalkan semua benda ke dalam tas, suara mesin mobil mendekat. Sebuah mobil hitam berhenti tak jauh dari tempatnya berdiri, seperti pengulangan adegan dari minggu lalu. Itu mobil pak ibrahim.
Kok pak ibrahim jadi sering parkir di tempat transportasi mahasiswa?
Hanya saja, kali ini ia berada di waktu yang lebih buruk—terburu-buru, belum rapi, dan belum sempat sarapan.
Pintu mobil terbuka.
Pak Ibrahim turun lebih pelan dari biasanya. Tongkatnya menyentuh tanah lebih dulu sebelum sepatunya. Dan di belakangnya, muncul lagi sosok itu—pria muda yang minggu lalu nyaris tak ia perhatikan.
Kini, tanpa disangka, Jahanara melihatnya lebih jelas.
Wajahnya bersih bercahaya, hidungnya mancung, alisnya tebal rapih, nyaris terlalu tenang untuk suasana pagi kampus yang hiruk-pikuk. Sorot matanya tajam tapi kalem, seperti sedang mengamati sesuatu yang tidak penting namun tetap layak diperhatikan. Batiknya rapi, bahkan kerahnya tidak miring sedikit pun. Ia berjalan mendampingi Pak Ibrahim seperti bayangan yang sudah terbiasa dengan langkah pelan sang dosen tua.
Jahanara sempat menoleh. Hanya sekilas karena pemuda itu mirip adik tingkatnya yang wibu.
Mungkin dia anak atau cucu pak ibrahim
Desakan waktu dan suara dosen killer yang terbayang seperti sirene ambulans di kepala.
Ia buru-buru memeluk tas, mengencangkan langkah, lalu lari kecil melewati keduanya.
Namun saat ia berlari, pria muda itu—tanpa sadar—mengikuti kepergiannya dengan pandangan mata yang tak buru-buru. Tidak juga heran. Hanya seolah… mencatat bahwa ia sudah bertemu dengan gadis parkiran ini sebanyak 2 kali.
******
Setelah kelas berakhir, Jahanara keluar ruangan dengan langkah yang lebih berat daripada saat ia masuk tadi pagi. Ia merasa telah membakar seluruh tenaganya hanya untuk mengikuti alur logika mata kuliah Metode Penelitian, yang kini baginya terasa seperti labirin tanpa ujung.
Tasnya disampirkan seadanya, wajahnya lelah, dan perutnya... meraung.
“Ini gara-gara skip sarapan,” keluhnya sambil mengelus perut yang kosong.
Dengan lesu, ia berjalan menuju parkiran. Langkahnya pelan, tidak buru-buru seperti pagi tadi. Di dekat area parkir, ada sebuah kantin kecil yang selalu ramai saat jam siang. Biasanya, Jahanara melewatinya saja. Tapi kali ini, bau gorengan yang menyeruak dari pintu kantin seperti suara adzan bagi iman lapar yang nyaris goyah.
Ia memutuskan berhenti.
Baru saja akan masuk kantin, matanya menangkap seseorang.
dia lagi.
Pria muda yang tadi pagi mendampingi Pak Ibrahim.
Kali ini ia tidak sendirian. Duduk santai bersama beberapa mahasiswa—yang Jahanara yakin bukan dari jurusannya—pemuda itu tampak lebih terbuka, berbicara sambil sesekali tersenyum. Batiknya masih dikenakan, peci putihnya tetap terpasang rapi, dan posisi duduknya… nyaris terlalu lurus untuk ukuran santai.
Jahanara melirik sekilas, bukan karena tertarik, hanya refleks saat berpapasan. Langkahnya terus menuju pintu kantin. Namun tepat ketika ia melewati bangku tempat mereka duduk, telinganya menangkap sepotong kalimat dari suara lelaki di antara mereka.
“Kalau kamu mah pasti udah punya calon, kan, Raja?”
Jahanara tidak menoleh. Ia bahkan tidak menyimpan nama yang baru saja disebutkan. Otaknya terlalu sibuk menerjemahkan satu hal lain yang jauh lebih mendesak: gorengan.
Pandangan matanya langsung terkunci pada baki penuh tempe mendoan dan bakwan yang tampak renyah sempurna. Bau minyak hangat dan saus kacang menggoda imannya yang sejak pagi dipaksa bertahan dengan air putih dan teori statistik.
Ia menelan ludah.
Tanpa berpikir dua kali, Jahanara mengambil nampan, dan membiarkan dunia luar—termasuk pria bernama Raja—lenyap sejenak. Yang ada hanya gorengan, dan damai yang akhirnya terasa nyata setelah setengah hari penuh logika.