Entah kenapa, setiap Rabu kampus terasa sedikit... berbeda.
Apakah sinar matahari lebih hangat? Tidak juga. Apakah kantin memberi diskon? Jelas tidak.
Tapi para mahasiswi, terutama yang mondar-mandir di sekitar blok kelasnya, tampak... bersinar. Gamis-gamis indah menghiasi lorong, warnanya beragam: sage green, lilac, dusty pink, sampai tosca. Semua senada dengan warna hijab yang dililit rapi. Wajah mereka bersih, sejuk dipandang, dengan polesan make-up tipis khas iklan Wardah yang seolah berkata, “Aku cantik, tapi tetap syar’i.”
Sepatu pansus berbunyi pelan di lantai koridor. Bisik-bisik kecil terdengar dari kelompok-kelompok mahasiswi yang duduk melingkar atau berdiri berdua-tiga, seolah menunggu sesuatu. Atau seseorang.
Di tengah parade kecil ini, Jahanara melenggang biasa saja. Jaket dobujack longgar warna gelap menutupi blouse-nya. Rok yang ujungnya sudah sedikit kaku—karena terlalu sering dicuci tanpa setrika—berayun pelan. Sneakers putihnya sudah bercampur motif coklat debu dan tanah, hadiah dari musim hujan kemarin.
Bukan karena ia tak peduli. Tapi ya, semester enam bukan lagi waktu untuk berdandan demi eksistensi. Fokus utamanya sekarang: kelulusan, tugas akhir, dan mencari waktu tidur yang cukup.
Ia berkata : permisi, pada mahasiswi yang menghalangi jalannya. Lalu dengan tenang melangkah masuk ke kelas. Suasana masih lengang, hanya ada beberapa mahasiswa yang baru datang. Di deretan kursi dekat jendela, Roni sudah duduk sambil menggulir layar ponselnya malas-malasan.
Jahanara duduk di sebelahnya sambil melempar tas ke meja. “Ron, kenapa sih rame-rame banget dari tadi? Bisik-bisik melulu, kek lagi nunggu artis.”
Roni mengangkat satu alis, matanya masih di layar.
“Lah kamu nggak tahu? Itu lho… anak asuh Pak Ibrahim lagi booming.”
“Anak asuh?”
“Iya. Yang suka nemenin Pak Ibrahim tiap ngajar. Katanya mukanya kayak orang Arab, suaranya lembut, hafal Qur’an, dan masih muda. Kombo maut buat para ukhti.”
Iuh.. Bukan tipeku sekali..
Jahanara mencibir pelan. “Booming amat. ”
“Iyaa, apalagi pak Ibrahim lagi ngajar filsafat semester tiga sekarang. Kelas mereka nggak jauh dari sini. Makanya jangan heran, kalau tiap Rabu banyak yang nyasar-nyasar lewat depan kelas kita, pura-pura nyari sinyal atau nyari pokemon mungkin hahaha.”
Jahanara menoleh ke luar jendela. Benar saja, dari jarak pandang tempat duduknya, terlihat sekumpulan mahasiswi sedang duduk-duduk di taman kecil depan blok B. Beberapa sambil tertawa, yang lain seperti sedang mengintip sesuatu dari balik ponsel.
Ia menarik napas pelan. Dunia kampus memang penuh peristiwa unik. Dulu sempat heboh dengan dosen ganteng yang mirip selebgram, sekarang giliran anak asuh Pak Ibrahim yang jadi primadona.
*****
Gantian ia datang tepat waktu, Dosen yang paling tidak ia sukai—ya siapa lagi kalau bukan dosen pengampu Metode Penelitian Kuantitatif—tidak masuk.
Walaupun begitu, Jahanara hampir ingin sujud syukur. Tidak perlu lagi pura-pura paham istilah validitas, triangulasi, dan blablabla hari ini. Jam berikutnya, Strategi Pembelajaran bersama Bu Mariani, baru akan dimulai jam sepuluh. Artinya, sekarang: jamkos.
Sebagian mahasiswa memilih bertahan di kelas. Tapi Jahanara tahu persis, kelas dalam kondisi kosong lebih menyebalkan. Teman-temannya akan ribut, entah membahas dosen, gebetan, tiktokan, atau mengulang-ulang cerita yang sudah basi.
Ia memilih keluar. Duduk di lantai koridor depan kelas, menyandarkan punggung ke dinding, lalu memasang headset dan membuka novel yang selalu ada di dalam tasnya. Dunia mulai mengecil. Hanya tersisa lembar-lembar cerita dan alunan musik latar dari lagu instrumental yang ia simpan untuk hari-hari seperti ini.
Waktu pun berjalan diam-diam.
Satu jam pertama berlalu tanpa terasa.
Dari arah ujung lorong, suara langkah ramai mulai terdengar. Jahanara menoleh sedikit, tanpa benar-benar peduli. Beberapa dosen keluar dari kelas mereka masing-masing. Gerombolan mahasiswa berhamburan ke luar, sebagian buru-buru ke toilet, sebagian ke kantin, dan sebagian lagi… berjalan pelan seperti sedang menunggu sesuatu muncul dari balik pintu.
Dan sesuatu itu pun muncul.
Pak Ibrahim keluar dari salah satu ruang kelas, langkahnya tenang, masih dibantu tongkat. Di sisinya, berjalan pria muda dengan batik rapi, peci putih, dan wajah yang—jika mendengar cerita para mahasiswi—konon bisa membuat siapa saja ingin ta'aruf.
Jahanara mengerjapkan mata. Bukan karena terpukau, tapi karena heran—kenapa segitu hebohnya sih?
Gerombolan mahasiswi yang tadi duduk-duduk di taman sekarang berdiri, beringsut-ingsut ke arah jalan setapak yang biasa dilewati Pak Ibrahim dan pemuda itu menuju parkiran. Beberapa pura-pura nelpon, yang lain berpura-pura mencari tempat duduk kosong, padahal jelas-jelas bangku penuh.
Jahanara menurunkan novelnya sebentar, memperhatikan dalam diam. Pemuda itu—si "anak asuh" yang katanya super alim, super tampan, dan super santun—memang ada aura tenangnya sendiri. Tapi bukan tipe yang akan membuat Jahanara mendadak percaya jodoh datang di hari Rabu.
Ia melanjutkan membaca, sambil mencabut sebelah headset-nya. Sekilas ia lihat pemuda itu—lagi-lagi– dan ternyata pemuda itu sudah duluan melihatnya. Jahanara hanya tersenyum, lalu lanjut membaca buku novelnya dengan tenang. Tanpa menyadari, jika Raja sedang terkesima terhadap perempuan yang baru saja tersenyum padanya.