Ketabrak dan awal mula kisah baru

911 Kata
Rabu pagi. Jahanara duduk tegak di kursinya, kali ini tak sempat memikirkan siapapun dan objek manapun kecuali tentang tugas makalahnya. Matanya fokus pada laptop, membuka file PowerPoint berjudul: “Analisis Regresi Linier Sederhana terhadap Minat Belajar Siswa.” Hari ini jadwal presentasi makalah untuk Metode Penelitian Kuantitatif. Mata kuliah berat yang tak hanya menuntut logika, tapi juga ketepatan angka, grafik, dan… kehadiran fisik makalah. Masalahnya, makalah itu tak ada. Lebih tepatnya: tidak terbawa. Buku catatan, flashdisk, bahkan soft file di laptop—semua aman. Tapi saat membongkar isi tasnya, entah kenapa, Jahanara lupa mencetak makalah fisiknya. Satu-satunya syarat mutlak agar bisa presentasi hari ini. Ia membeku beberapa detik, lalu membalik badan cepat ke arah Roni. “Ron, aku lupa print makalah! Astaga, sumpah, ini bukan mimpi kan?!” Roni mendesah, sudah hafal irama bencana mingguan Jahanara. “Ya udah, print aja sekarang. Masih ada waktu beberapa menit sebelum Pak julian datang.” “Ayo temenin!” --- Beberapa menit kemudian, mereka sudah berjalan cepat menuju parkiran. Jahanara menyetir, Roni membonceng di belakang. Tangannya satu di setang, satu lagi sibuk membuka galeri w******p, mencari file PDF makalah yang dikirimkan ke dirinya sendiri semalam. “Gue liat bentar aja deh… File-nya tuh di sini... atau di chat yang ini ya…” gumam Jahanara, matanya pindah-pindah dari layar ke jalan. “Han… pelan…Lihat depan..” Roni mulai waspada, tangannya menggenggam pinggiran jok motor. “Bentar Ron, bentar, tinggal buka Google Drive-nya doang…” “Han.. depan, Han!!” Terlambat. Sebuah mobil hitam baru saja berbelok masuk ke gerbang kampus. Mobil itu melaju pelan—karena memang sedang dalam area kampus—tapi cukup dekat dengan jalur motor mereka. Jahanara yang tidak melihat, terus melaju... dan brakk! bagian depan motor menyerempet sisi depan mobil. Motor oleng. Jahanara dan Roni terpental dan jatuh di pinggir jalan, mereka tetantuk cukup keras, Syukurlah helm masih terpasang. Beberapa mahasiswa di sekitar gerbang kampus sontak menoleh. Suara langkah cepat terdengar dari arah taman. Mobil hitam itu berhenti. Dari dalamnya, seorang pria tua turun dengan panik. Pak Ibrahim. “Ya Allah… Astaghfirullah… Ada yang luka?!” suara beliau bergetar. Dari sisi lain mobil, pintu belakang terbuka. Keluar seorang pemuda mengenakan batik rapi dan peci putih—yang tak lain adalah Raja. Raja langsung berlari menghampiri. Ekspresinya tenang tapi jelas khawatir. Ia jongkok di sebelah Jahanara, yang masih duduk di tanah sambil mengangkat motornya yang tergeletak di tanah. “Maaf… kamu nggak apa-apa?” tanyanya pelan. Jahanara menoleh… dan untuk pertama kalinya, mereka berbicara langsung. Kerikil dan debu menempel di telapak tangan Jahanara. Tangannya sakit, bukan hanya karena jatuh—tapi karena tergencet bagian depan motor yang terhempas ke aspal. Ia meringis pelan, sambil mencoba menahan rasa malu yang menggumpal lebih besar daripada rasa perih. Roni terbatuk-batuk pelan di sampingnya, celananya kotor dan robek di bagian lutut, sedikit berdarah. “Duh, lutut gue…” keluh Roni, separuh pasrah. “Roni, are u ok?” Tanya Jahanata khawatir. Roni melayangkan jempol, lalu lelaki itu tiba-tiba mengomel. “Makannya, nyetir tuh liat ke depan, , anak gadis kok naik motor kok, nggak pernah bener–” Ocehan Roni terhenti, karena tiba-tiba Raja menghampiri mereka. Raja tak menoleh kiri-kanan, tidak peduli siapa yang melihat. Dalam hitungan detik, ia sudah jongkok di samping Jahanara, suaranya terdengar khawatir tapi tetap terjaga. “Sini saya bantu berdiri.’ Jahanara menggeleng pelan, meski jelas wajahnya meringis. "Nggak… nggak apa-apa kok," katanya, berusaha terdengar tenang. Tapi jelas suaranya lebih malu daripada meyakinkan. Area Gerbang 1 kampus kini berubah jadi arena pertunjukan gratis. Mahasiswa dan mahasiswi berkumpul seperti menonton drama terbuka. Beberapa mahasiswi bahkan setengah histeris, bukan karena kecelakaan—tapi karena Raja yang selama ini hanya jadi siluet keren dari jauh, kini sedang menolong gadis lain… dengan kedua tangannya. “Gila, itu Raja…” “Yang ditolong siapa sih…” “Lihat deh… diangkatin motornya…” Dan memang benar. Raja tadi mengangkat motor Jahanara yang tergeletak miring, dengan sigap tapi tetap hati-hati. Setelah itu, ia mendekat ke jahanara. Jahanara buru-buru lagi menoleh ke arah Roni menghindari kepedulian Raja. “Ron… Maaf ya, banget, serius deh…” Roni bangkit sambil menyeka kotoran di celananya. “Santai, santai. Aku nggak apa-apa. Cuma dengkul aja. Tapi liat tanganmu deh.” Baru saat itu Jahanara melirik tangan kanannya. Perih. Diam-diam, jari-jarinya sulit digerakkan. Ada bengkak, dan ia mulai merasakan denyut. “Ini sih… kayaknya—” “Retak,” potong Raja cepat. “Atau patah ringan. Kamu harus dibawa ke rumah sakit. Sekarang.” Jahanara geleng cepat. “Nggak usah, saya bisa ke UKS… terus ke klinik sendiri nanti.” “Tanganmu bengkak, kamu bisa shock. Jangan maksa.” Raja masih berjongkok di hadapannya. Namun Jahanara tetap menolak. Kepalanya menoleh kanan-kiri, sadar bahwa seluruh kampus—rasanya—sedang menatapnya seperti tokoh utama FTV. Saat itulah Pak Ibrahim turun tangan. Sang dosen tua itu menghampiri jahanara, tongkatnya menyentuh aspal dengan suara yang khas. “Kamu jangan keras kepala. Saya yang bertanggung jawab. Kamu ikut saya sekarang juga.” Suaranya tenang, tapi tegas seperti sedang di kelas. Akhirnya Jahanara menghela napas. Rasa malu, rasa sakit, dan tekanan sosial berpadu menjadi satu. Dengan sangat terpaksa, ia menurut. “Ron, kamu aja yang bawa motor ku, ya…” katanya pelan. “Tenang, semua bakal aman.” Roni mengangguk sambil memberi isyarat ‘gue urus’. Lalu, dengan pipi yang merah karena menahan malu setengah mati, Jahanara masuk ke mobil Pak Ibrahim… duduk di jok belakang, tepat di sebelah Raja. Dan di situlah, tanpa sengaja, cerita mereka akhirnya benar-benar dimulai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN