Ngapain Ngelamar, Kocak!

634 Kata
Lalu, dengan pipi yang merah karena menahan malu setengah mati, Jahanara masuk ke mobil Pak Ibrahim… duduk di jok belakang, tepat di sebelah Raja. Dan di situlah, tanpa sengaja, cerita mereka akhirnya benar-benar dimulai. ******* Ruang UGD siang itu cukup sepi. Tirai-tirai putih menggantung, cahaya siang menembus jendela kaca bening. Suara roda ranjang dan langkah perawat menjadi latar bagi satu kabar yang menyesakkan: jari kelingking kanan Jahanara patah, dua jari lainnya terkilir. Dan meskipun itu bukan tangan dominannya, tetap saja… Ia tidak akan bisa mengetik bebas dalam waktu dekat. Jahanara duduk di ranjang rumah sakit dengan tangan kiri diperban. Matanya menerawang. Antara menahan nyeri, malu, dan sedih karena… yah, tentu saja. Semester enam bukan waktu yang ideal untuk cedera tangan. Tugas kuliah menumpuk, deadline mendesak, dan laptop jadi alat tempur utama. Suara ketukan ringan membuyarkan lamunannya. Pak Ibrahim masuk lebih dulu, disusul Raja. Raja membawa sekotak air mineral dan satu plastik kecil berisi roti isi dari kantin rumah sakit. Tak banyak bicara, ia meletakkannya di meja kecil di samping ranjang. “Bagaimana keadaan kamu?” tanya Pak Ibrahim dengan lembut. Jahanara tersenyum tipis. “Alhamdulillah, cuma jari tangan kiri yang cedera, Pak Yang dominan tangan kanan, Alhamdulillah..” Pak Ibrahim mengangguk pelan. “Syukurlah. Sekali jadi pelajaran, melakukan dua hal dalam satu tujuan, pasti akan berantakan.” Lalu suasana menjadi hening sejenak. Jahanara akhirnya menunduk sedikit, lalu berkata pelan, “Saya minta maaf ya, Pak… Saya ceroboh. Harusnya saya nggak mainin hape selagi saya nyetir. ” Pak Ibrahim hanya menghela napas. “Saya ingat kamu seperti apa waktu semester tiga. Kamu tuh Pinter tapi keras kepala, idealis tapi ceroboh, kadang terlalu sibuk berpikir sendiri sampai lupa sekitar.” Jahanara tertawa kecil ya walaupun agak garing. Matanya agak sayu sebab entah mengapa ia mengantuk. “Tapi kamu tetap mahasiswi yang saya banggakan. Walaupun…” Pak Ibrahim melirik Raja sekilas, lalu menatap Jahanara, “Perempuan seperti kamu, Jahanara, kalau tidak dibimbing suami yang sabar… bisa sulit dengan pikirannya sendiri.” Jahanara tertegun. Tadinya ia ingin menguap, tapi tak jadi. Matanya langsung melirik ke arah Raja curiga. Dan saat itu juga, tanpa perubahan nada, tanpa gaya dramatis seperti sinetron, Raja yang sejak tadi berdiri diam membuka suara untuk pertama kalinya sejak di rumah sakit. “Saya bersedia jadi suaminya, Abi..” Suasana langsung hening. Bahkan mesin monitor denyut di ruangan sebelah terasa seolah berhenti berbunyi. Jahanara menoleh, matanya melebar. "Maksudnya?” “Saya bilang, saya bersedia. Menjadi suami kamu,” ulang Raja tenang, pandangannya lurus dan dalam, seolah tidak main-main. Jahanara mengedip dua kal. “ Jangan bercanda ah, malu loh di depan dosen ngomong sembarangan gitu. “ Jawabnya, sambil tertawa sendirian, lalu tawanya berhenti karena Wajah Pak Ibrahim maupun Lelaki yang katanya Tampan itu menatapnya aneh. “Kalau Raja sudah berbicara seperti itu, tandanya dia serius.” Ucap Pak Ibrahim Sementara Hana mendesah frustasi. “Saya belum siap menikah. Mimpi saya masih banyak, banyak yang harus saya lakukan. Lagipula saya harus fokus dengan Studi Saya sekarang. Dan ke depannya, Saya masih mau kerja, masih harus mikirin Ibu di rumah. Saya anak tunggal dan tidak punya ayah.” Pak Ibrahim hanya diam, entah karena kaget atau karena ingin tahu bagaimana Raja menjawab. Tapi Raja, seperti biasa, tidak terburu-buru. Ia hanya mengangguk ringan, lalu berkata: “Kalau begitu, saya akan datang ke rumah. Bertemu Ibu kamu. Biar Ibu kamu tahu niat saya.” “Lho…” Jahanara nyaris kehabisan kata. “Saya baru jatuh motor, baru cedera jari, masa langsung dilamar? Ini serius?” “Serius.” Raja tetap menatapnya tenang. “Saya nggak suka berputar-putar. Dan saya bukan tipe yang akan nunggu kamu sadar sendiri.” Jahanara terdiam. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya—terasa terancam. Lo ngapain ngelamar, Kocak! Dan entah kenapa, meskipun ia masih ingin menolak… Ia tidak bisa memaki, karena masih ada Pak Ibrahim disana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN