Pak Ibrahim Dosen Semester 3
Siang terik membuat moodnya buruk. Tuhan.. betapa kusutnya isi kepala Jahanara Haklid sebab tugas kuliah dan t***k bengeknya. Ia baru saja keluar dari kelas Metode Penelitian, mata kuliah yang menurutnya lebih cocok disebut “Metode Membuat Orang Mual.” Di tangannya tergenggam buku catatan tebal dengan tulisan yang bahkan dirinya sendiri enggan membaca ulang.
Jahanara berjalan keluar kelas dengan ekspresi kelelahan yang tak dapat disembunyikan lagi. Ia menghela napas berat, sambil memijit pelipis yang terasa nyut-nyutan.
"Hana, ke kantin yuk. Beli es jeruk tempat mang irul mantep nih panas-panas begini," ujar Roni, teman seangkatannya, lelaki itu berjalan di sampingnya sambil mengangkat alis.
Jahanara meliriknya sekilas, lalu geleng kepala. “Enggak deh Rul. Aku mau langsung pulang. Otakku panas.”
Roni mengangkat bahu. “Ya udah. Hati-hati ya, jangan kebut-kebutan, ingat.. Meskipun kamu suka MotoGP, kamu bukan sodaranya Enea Bastianini..”
Jahanara tidak menjawab, hanya tertawa garing lalu mempercepat langkah menuju parkiran. Ia ingin cepat-cepat sampai rumah, menyalakan kipas angin, dan rebahan tanpa diganggu satu teori pun.
Saat ia mendekati tempat parkir yang mulai lengang, sebuah mobil hitam mengilap perlahan masuk dan berhenti di dekat tempat ia memarkirkan motornya. Ia sempat menoleh sekilas, tapi niatnya tetap—ambil motor dan pulang. Namun langkahnya melambat ketika pintu mobil terbuka dan keluar seorang pria tua yang langsung ia kenali.
"Pak Ibrahim?" gumam Jahanara pelan.
Ia berhenti sejenak. Itu benar-benar Pak Ibrahim, dosen filsafat yang pernah mengajarnya di semester tiga. Beliau tampak lebih tua dari terakhir kali ia lihat. Jalannya pelan, sedikit membungkuk, dibantu tongkat kayu yang terlihat Tua? Peci putihnya terpakai rapih, wajahnya tenang seperti biasa.
Jahanara menghampiri dengan sopan, reflek dari kebiasaannya menghormati orang yang lebih tua.
“Assalamu’alaikum, Pak Ibrahim…” sapanya, suara lembut dan hormat.
Pak Ibrahim menoleh perlahan. Ada kerutan samar di keningnya, mungkin sedang mencoba mengingat.
“Wa’alaikumussalam… Iya, iya… kamu dulu ikut mata kuliah saya ya?” jawabnya ramah, meskipun jelas belum benar-benar ingat siapa Jahanara.
“Iya, Pak. Semester tiga dulu.”
Pak Ibrahim mengangguk pelan. “Semoga kamu masih semangat berpikir…”
Jahanara mengangguk sopan, walau dalam hatinya berkata, “Seandainya Bapak tahu betapa otakku nyaris meledak di semester ini. “
Dari sisi lain mobil, seorang pemuda muncul. Ia melangkah cepat, membuka pintu belakang, lalu menghampiri Pak Ibrahim dengan cekatan. Wajahnya bersih, rapi, dengan senyum tenang dan tubuh tegap. Ia mengenakan batik warna gelap dan peci putih mirip seperti punya Pak Ibrahim, tampak sopan dan dewasa, meski dari wajahnya mungkin tak beda jauh usia dengan Jahanara.
Namun Jahanara tak terlalu memperhatikan. Fokusnya sudah kembali ke helm yang ia keluarkan dari jok motor. Ia mengenakannya buru-buru, menyalakan mesin motornya, dan melambaikan tangan kecil ke arah Pak Ibrahim sebelum pergi.
“Assalamu’alaikum, Pak. Saya pamit duluan ya...”
“Wa’alaikumussalam,” jawab Pak Ibrahim pelan, dibantu sang pemuda berdiri.
Jahanara pun melaju keluar dari kampus. Dalam pikirannya, satu-satunya hal yang ada hanyalah kasur dan kipas angin. Ia tidak tahu bahwa sosok pemuda yang barusan hanya sekilas dilihatnya itu, akan terus hadir setiap hari Rabu, dan diam-diam menjadi pusat pertanyaan banyak mahasiswi lain—tapi bukan dirinya.